
Aditya pergi ke padepokan kliwung sendirian, ia memang sengaja tidak membawa ketiga istrinya, lagipula musuhnya juga belum mengetahui keberadaan Sekar. Karena itulah ia berpikir kalau para Istrinya masih aman di tinggal, di tambah Sekar dan Aliya memiliki ilmu Kanuragan jadi tidak ada alasan baginya untuk takut mereka kenapa-napa.
Sementara Remon, asisten Aditya yang sudah menerima dana segar sejumlah ratusan milyar perak. Tentu ia sangat bersemangat untuk memperbesar perusahan.
...***...
Sementara itu di kediaman keluarga Iskandar, tampak terlihat pria sepuh, Sultan dan Sasongko sedang duduk bersama.
"Kamu yakin Sasongko? Kalau pria itu sangat kuat?" tanya Sultan memastikan.
"Buat apa aku bohong Ayah, entah dia datang darimana, tiba-tiba saja dia menyerang kami, dan bilang untuk balas dendam," jawabnya yakin.
"Sultan, hentikan proyek kita di Bibes, aku yakin ada yang tidak beres di sana, aku akan mengirimkan khodam ku untuk menyelidiki siapa pria ini sebenarnya! Karena aku sempat mendengar desas-desus kalau ada seorang pria yang memiliki cincin kekuatan Angkara jaya!" ujar Pria sepuh tiba-tiba.
"Tapi Ayah, kita sudah mengeluarkan banyak uang untuk membeli tanah di sana, kita bisa merugi," jawab Sultan tidak terima.
"Apa kamu lebih sayang uang dari nyawamu? Penerus Angkara jaya pasti akan mengincar keluarga kita, jika benar yang menyerang Sasongko pria itu, kemungkinan besar ia sudah tahu semua tentang masa lalu keluarga kita!" ungkap pria sepuh tersebut.
Sultan menghela napas kasar, ia tidak suka dengan pengaturan Ayahnya. Pria itu pikir kalau keluarga Iskandar sangatlah kuat di tanah Java, untuk apa takut dengan keturunan Angkara jaya yang belum di ketahui identitasnya tersebut.
__ADS_1
Sasongko juga sepemikiran dengan Ayahnya. Namun, mereka berdua tidak bisa mengabaikan keturunan ke seratus dari raja Iskandar yang merupakan sesepuh keluarga mereka.
"Baiklah Ayah, kalau begitu kami pamit dulu," Sultan mengajak anaknya pergi dari ruangan pria sepuh tersebut.
Sultan tampak mengepalkan tangannya ketika sudah pergi dari tempat pria tua itu biasa bersantai.
"Sasongko, secara sepengetahuan kakekmu, kita akan membalas atas apa yang telah di buat oleh orang itu, kamu ajak orang-orang terbaik kita untuk menangkapnya!" perintah Sultan mengabaikan perintah pria sepuh.
Sasongko menyeringai. "Aku tahu kalau Ayah bukanlah orang yang lembek seperti Kakek, dengan senang hati aku akan mencarinya Ayah," jawabnya yakin.
Sultan menganggukkan kepalanya. Ia pergi ke perusahaan, sementara Sasongko mengumpulkan orang-orang terbaiknya untuk menangkap Aditya.
Selama ini semua padepokan terpecah belah karena ingin memiliki kekuatan Angkara jaya, Namun, setelah kekuatan tersebut sudah di wariskan ke Aditya dan mereka juga sudah tahu bagaimana kekuatan Aditya, akhirnya mereka bersatu kembali, tidak memperebutkan kekuatan tersebut lagi, karena sekarang mereka sudah memiliki sosok pemimpin untuk membimbing mereka.
...***...
Sore harinya Aditya sampai di padepokan Kliwung, pria tersebut di sambung hangat oleh Darman, pemimpin padepokan Kliwung.
"Tuan selamat datang, sudah lama sekali anda tidak datang kemari," sapa pria paruh baya itu sopan.
__ADS_1
"Darman, kumpulkan dua puluh anak buahmu, terdiri dari lima murid terbaik dan sisanya terserah, kirim mereka ke rumahku sekarang untuk menjaga istri-istri ku," ucap Aditya langsung ketika baru masuk gerbang padepokan Kliwung.
Tentu saja Darman terkejut dengan perintah Aditya yang tiba-tiba, tapi ia tidak protes sama sekali. Pria itu langsung menyuruh bawahannya untuk melakukan tugas yang di berikan Aditya. Sementara dirinya menemani tuannya itu masuk ke dalam aula Padepokan.
"Tuan, silahkan duduk," ucap Darman sopan.
Aditya mengangguk. Ia duduk di tempat yang sudah di sediakan dan berbicara langsung. "Darman, apa kamu tahu tentang kerajaan Iskandar dan Semaka?"
Darman yang sedang menuangkan air dari teko tanah liat, ia langsung menoleh ke arah Aditya. "Kerajaan Iskandar dan Semaka? Saya tahu tapi hanya sekilas saja, kalau Ayah saya tahu semuanya," jawabnya enteng sambil memberikan segelas air ke hadapan Aditya.
Aditya tersenyum. "Bawa Ayahmu kemari, aku ingin bicara dengannya," perintah Aditya lembut.
Darman menghela napas. "Mana bisa tuan, Ayahku sudah berbaring di ranjang terus beberapa tahun belakangan," jawabnya tidak berdaya.
"Kalau begitu, bawa aku kepadanya!" seru Aditya yakin.
Darman tidak tahu apa yang akan di tanyakan Aditya kepada Ayahnya. Namun, ia tidak banyak bertanya dan membawa orang yang sudah menjadi tuannya itu ke Ayahnya.
Aditya di bawa ke pelataran dalam padepokan, terdapat sebuah rumah kusus yang di tinggali keluarga pemimpin Padepokan. Ia di bawa masuk Darman ke dalam, tepatnya di kamar Ayahnya.
__ADS_1