
Aditya berubah sangat drastis, dia yang biasanya pendiam sekarang menunjukkan sisi menakutkan-nya.
Dia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya, Aditya benar-benar sudah geram dengan Santoso dan yang lainnya.
"Orang-orang seperti kalian lebih baik di kubur hidup-hidup! Dengarkan baik-baik aku bicara! Kalau sampai dalam satu Minggu kalian masih mempermainkan harga pasar Kota Bibes, Aku tidak segan-segan untuk menghancurkan hidup kalian!" suara Aditya meninggi tiga oktaf, dia tidak peduli lagi kalau banyak orang yang mendengar perkataan-nya.
Sontak saja Santoso dan yang lainnya ketakutan, meski mereka orang-orang yang memiliki kekuasaan. Namun, nyatanya mereka tidak ada apa-apa nya di mata Aditya.
Aditya pergi dari sana sesegera mungkin, dia sudah muak terus melihat mereka, jika di lanjutkan takutnya malah akan membunuh mereka semua.
Rebecca yang melihat Aditya pergi, dia langsung berdiri, dia menatap Santoso dan yang lainnya "Aditya tidak pernah menggertak seseorang, dia akan melakukan apapun untuk membuat kalian semua jera!" setelah mengatakan itu Rebecca mengejar Aditya "Tunggu Dit!"
Rebecca berjalan dengan tergesa-gesa, karena Aditya akan meninggalkannya di sana sendirian.
Selepas kepergian Aditya dan Rebecca, Santoso dan yang lainnya bernapas lega, mereka semua merasa beban yang tadinya sangat berat seolah sudah terlepas begitu saja.
"Syukurlah tuan Aditya sudah pergi." ucap Santoso lega.
"Siapa dia sebenarnya Santoso? Kenapa dia sangat berani sama kita? Apa dia tidak tahu siapa kita?" wakil walikota bicara dengan yakin.
Santoso mengerutkan keningnya "mungkin kedudukan anda lebih tinggi daripada dia, tapi asal Anda tahu saja, dia orang terkuat di kota Bibes ini! Sekali dia berbicara, seluruh Padepokan di Kota ini akan mengejar anda semua! Silahkan saja kalau mau melawannya, aku tidak mau!" ucap Santoso ketus pada Wakil walikota Bibes.
Seketika ketiga pejabat tersebut terkesiap dengan kata-kata Santoso, nyali mereka semua langsung menciut seketika.
Kedua Polisi yang tadi berniat menangkap Aditya dan di hajarnya, mereka terkejut saat mendengar perkataan Santoso, sakit pinggang mereka akibat di lempar Aditya terasa semakin sakit ketika tahu Aditya orang berpengaruh di kalangan para ahli beladiri.
...***...
Sementara itu Aditya duduk di trotoar yang ada pohon rindang di dekatnya. Aditya meneduh di sana sambil memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang ke sana kemari.
__ADS_1
Mereka semua terlihat baik-baik saja, tidak ada yang menunjukkan raut wajah sedih sama sekali. Namun, Aditya tahu setiap orang memiliki masalah hidup masing-masing, ada yang berat ataupun ringan, yang pasti mereka memiliki beban hidup tersendiri.
Aditya menghela napas berat, entah kenapa akhir-akhir ini dia lebih sering memikirkan orang lain daripada dirinya sendiri.
"Apa aku saja yang memimpin negara ini dan ubah semua kebijakan seperti Mauku sendiri?" gumamnya lirih.
"Aku akan mendukung kamu Dit, apapun yang akan kamu lakukan, aku akan selalu ada untukmu." Rebecca duduk di sebelah Aditya sambil menyenderkan kepalanya di bahu Aditya.
Aditya melihat sosok wanita yang terlihat serius mendukungnya itu, dia merasa kalau Rebecca benar-benar selalu ada untuknya.
"Terima kasih Rebecca, aku hanya ingin mengubah cara pikir orang-orang yang sudah kelewatan mempermainkan masyarakat kalangan bawah. Mereka yang di atas tidak tahu betapa menderitanya masyarakat kalangan bawah, tanpa mereka sakitipun sebenarnya mereka sudah terluka." ucap Aditya sendu.
Rebecca mengangkat kepalanya dari bahu Aditya, dia buka suara "apa kamu serius ingin memperjuangkan suara mereka Dit?"
Aditya mengangguk "aku serius, aku sudah muak melihat kehidupan seperti ini!"
Aditya terlihat tidak bermain-main dengan perkataan-nya, sehingga Rebecca yang melihatnya sangat takjub dengan pria di sampingnya tersebut. Namun, Rebecca sadar, mimpi Aditya sangatlah besar, jika dia ingin mewujudkannya maka perlu dukungan yang sangat kuat juga.
Aditya tersenyum "Itu saja cukup, setidaknya kamu masih peduli denganku."
Rebecca balas tersenyum, dia kembali merebahkan kepalanya di bahu Aditya sambil memejamkan matanya, menikmati Momen indah tersebut.
Ketika mereka sedang asyik ngobrol berdua, pemilik warung kopi pinggir jalan menegurnya "Mas, kalau mau pacaran di sini beli sesuatu dong!"
Aditya dan Rebecca menoleh ke belakang, mereka baru menyadari kalau duduk di depan warung kopi yang ada di sana.
Seketika wajah Rebecca memerah karena saking malunya, siapa yang menyangka kalau akan ada bapak-bapak tulang kopi menegur kemesraan keduanya.
"Ganggu saja sih Pak, orang lagi asyik kaya gini juga." Aditya menghela napas "Aku beli Mijon dua yang dingin deh!" Aditya mengeluarkan uang sepuluh ribu perak untuk sekalian membayar minuman ion tersebut.
__ADS_1
"Nah, gitukan enak Mas, Masnya pacaran, aku dapat uang, kita saling menguntungkan, simbiosis mutualisme Mas namanya." pemilik warung kopi ceramah layaknya guru di sekolah.
Rebecca tersenyum kecut, dia tidak menyangka kalau akan ada hal seperti itu yang akan di alaminya. Padahal selama ini tidak ada orang yang berani menegurnya seperti itu, ketika dia ada di manapun.
Rebecca mulai mengerti kenapa Aditya ingin memakmurkan masyarakat kalangan bawah. Mereka cenderung tidak peduli dengan para pemangku jabatan di atas, yang penting bagi mereka mencari sesuap nasi untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Karena bagi masyarakat kalangan bawah, hal itu lebih realistis daripada memikirkan yang belum tentu bisa membuat mereka bisa makan untuk sehari-hari.
Melihat Aditya yang dengan ramah membeli minuman tersebut, dia yakin kalau Aditya sudah memikirkan langkahnya baik-baik.
Rebecca semakin memantapkan tekadnya untuk selalu mendukung Aditya apapun yang akan terjadi.
"Ini buat kamu satu." Aditya menyerahkan Mijon yang di belinya pada Rebecca satu botol.
Rebecca menerima pemberian Aditya, meski dia tidak pernah minum itu sebelumnya, tapi sekarang dia akan mencoba bergaul dengan Aditya sebaik mungkin.
"Terima kasih Dit." jawabnya sambil mengulas sebuah senyum manis.
"Sama-sama, Ayo minum, enak ini masih dingin." Aditya dengan rakus menenggak minuman tersebut.
Rebecca juga meminumnya dengan perlahan, sungguh terkejut Rebecca, ternyata minum Mohon di siang hari bolong seperti itu di trotoar sambil meneduh sangat menyegarkan tenggorokan, apa lagi minumannya di belikan orang terkasih.
Rebecca terus menenggak minumannya, gengsinya sebagai anak taipan kota Bibes sudah menguap entah kemana.
pemilik warung kopi pinggir jalan menegur Aditya lagi "Masnya beruntung banget yah, pacaran ngirit tapi dapat wanita elit."
Sontak saja Aditya menoleh ke arah pemilik warung kopi "Bapak cerewet banget sih? Sudah pernah melihat batu bata masuk dalam perut gak Pak?"
"Eh... Loh, jangan gitu Mas, saya cuma bercanda, Masnya tidak bisa di ajak bercanda nih." Pemilik warung kopi terlihat ketakutan saat Aditya mengancamnya secara halus.
Aditya menarik tangan Rebecca untuk berdiri "kita pergi dari sini, cari tempat lain untuk berduan dengan tenang."
__ADS_1
Perkataan Aditya sontak saja membuat Rebecca tertegun, ternyata Aditya mulai ada rasa dengannya.