
Hari itu juga Aditya meminta ijin kepada ketiga istrinya untuk pergi ke hutan Jati, dimana ada senjata peninggalan Raja Angkara jaya disana.
Rencana yang tertunda beberapa kali itu, ingin ia selesaikan hari itu juga, mengingat ia juga butuh tambahan kekuatan untuk melawan Keluarga Iskandar dan Semaka.
Ketiga Istri Aditya mengantar sampai ia masuk ke dalam mobilnya.
"Hati-hati dijalan sayang, ingat pulang-pulang jangan bawa wanita lagi!" tegur Rebecca tegas.
"Biarkan saja Re, mau dia bawa banyak wanita ke rumah juga, tapi jika nanti tidak bisa memuaskan kita, jangan cemburu kalau kita pergi dengan pria lain," timpal Aliya menantang.
Sekar tersenyum. "Kamu ini bicara ngawur banget, mana ada kita tidak terpuaskan," belanya sambil tersenyum simpul.
Aliya dan Rebecca mengerutkan keningnya. "Memangnya kamu mau suami kita punya wanita lagi?" tanya mereka berdua bersamaan.
Sekar menghela napas. "Seharusnya pertanyaan itu di balik, kalian yakin bisa meninggalkan suami kita dan kalian pikir pria yang mendekati kalian nantinya tidak akan tewas? Pikirkan baik-baik, ratusan orang saja bisa suami kita bunuh tanpa perlu menyentuhnya," jawabnya sambil menghampiri Aditya dan mengecup tangannya. "Setidaknya kalau bawa wanita lain, harus yang sepadan dengan kita," lanjutnya kepada Aditya.
Rebecca dan Aliya hanya bisa terdiam sambil menatap suaminya dengan tidak berdaya, pasalnya semua perkataan Sekar ada benarnya, kalau Aditya tidak akan mungkin membiarkan mereka dekat dengan pria lain.
__ADS_1
Aditya menghela napas. "Sudah, kalian tidak perlu berpikir berlebihan, aku berangkat dulu, jaga diri baik-baik," pamitnya lembut.
Rebecca dan Aliya menghela napas, ia mendekati suaminya, bergantian mengecup tangan pria yang menjadi pendamping hidup mereka.
Aditya melambaikan tangan kepada mereka dan menyuruh sopir untuk jalan. Mobilpun meninggalkan kediamannya.
...***...
Sementara itu dikediaman keluarga Iskandar, Pak tua Iskandar dan Pak tua Semaka sedang duduk bersama sambil memainkan catur.
"Kamu tidak mau bergerak juga, Iskandar?" tanya Pak tua Semaka sambil menggeser bidak catur.
"Kamu benar juga, bawahan terkuat ku saja sampai kebingungan ketika mau masuk ke wilayah anak itu, dia bilang jika melangkah masuk pasti akan langsung ketahuan, Khodamnya begitu banyak, entah dia dapat darimana," ucap Pak Tua Iskandar heran.
"Yang aku takutkan bukan cuma itu Semaka, Keris Naga Pati ada di tangannya, belum lagi ada yang mengatakan kalau dia juga mempunyai keris Naga Bunting, aku tidak tahu sebenarnya anak ini penerus Angkara Jaya atau bukan, karena kekuatannya melebihi Angkara jaya!" ujarnya yakin.
Pak Tua Semaka menghela napas berat, ia menyenderkan tubuh renta nya di kursi. "Iskandar, apakah masa kejayaan keluarga kita hanya akan sampai di sini saja? Anak ini terlalu superioritas, bukan hanya kekuatan energi Spiritualnya saja yang kuat, tapi bisnisnya mulai merangkak naik dengan pesat, bahkan riaknya sudah sampai ke Tanah Melayu dan sekitarnya!"
__ADS_1
Iskandar mengangguk setuju, walaupun mereka berdua tidak takut dengan Aditya, tapi kekuatannya terlalu besar. Andai kata Aditya bukan penerus Angkara jaya, mungkin mereka berdua akan menawarkan kerjasama.
Kedua tetua keluarga terkuat di tanah Java itu merasakan dilema, mengingat kejelasan tentang sosok Aditya belum menemui titik terang.
Jika mereka menganggap Aditya penerus Angkara jaya, mau tidak mau mereka harus melawannya. Namun, jika ternyata Aditya bukan penerusnya, maka mereka akan mengalami kerugian yang besar karena telah memusuhi orang yang salah.
"Ayah! Apa yang anda ragukan? Sasongko telah di bunuh olehnya, apa kita hanya akan berdiam diri saja?!" tegur Sultan yang tiba-tiba muncul di tempat tersebut.
Pak tua Iskandar dan Semaka menoleh ke arah Sultan, tampak pria itu sangat marah. Bisa di pastikan kalau Sultan mendengar percakapan keduanya.
Pak Tua Iskandar buka suara. "Coba katakan padaku apa rencanamu?" tanyanya datar.
"Kita serang perusahaan dan bocah itu secara langsung, aku yakin dia yang belum berpengalaman akan kesulitan menahan serangan kita!" jawabnya yakin.
Pak Tua Iskandar menghela napas. "Sultan, biar aku beritahu kamu kebenaran yang telah aku dapatkan. Aditya Nugroho di perusahaannya hanya menggelontorkan dana, ia tidak bekerja di sana sama sekali dan untuk masalah kekuatan, dia bisa membunuh ratusan anak buahmu tanpa menyentuhnya, padahal bawahanmu, rata-rata memiliki Kodam, apa sampai sini kamu mengerti?!" jelas Pak tua Iskandar kepada anaknya itu.
Sultan seketika terdiam, ia mengepalkan tangannya. Pria yang sudah di butakan dengan amarah itu pergi dari tempat tersebut, ia merasa sia-sia berdebat dengan sang Ayah, sehingga akan mengambil keputusan sendiri.
__ADS_1
Pak tua Iskandar menyadari akan hal itu. "Bantu aku Semaka, tampaknya anak bodohku akan berulah," ucapnya tidak berdaya.
Pak tua Semaka menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Kamu tenang saja, aku selalu di belakangmu."