Java System

Java System
Sah!


__ADS_3

Aditya masih memikirkan Rebecca, bagaimana caranya dia mengatakan hal tersebut pada Rebecca?


Aditya yakin Rebecca akan tersakiti, apa lagi Aditya sudah menyadari kalau Rebecca memiliki rasa dengannya. Untuk itulah Aditya masih Dilema.


Aditya meninggalkan Liam dan Sutri, dia kembali ke kamarnya, kamar tempat pertama kali dia melepas keperjakaannya dengan seorang Wanita yang tidak dia kenal sama sekali.


Saat Aditya sampai di kamar, terlihat Aliya yang sedang menata pakaian resmi yang akan mereka kenakan berdua nantinya.


"Sayang, kamu sudah kembali?" sapa Aliya yang langsung menyambut Aditya dengan rangkulan manja di lengannya.


Aditya hanya mengangguk, setelah mereka berdua duduk, Aditya bertanya "siapa nama kamu?" meskipun sudah mendengar dari Liam dan Sutri, dia ingin mendengar sendiri dari mulut istrinya.


Aliya terlihat menepuk jidatnya dan tersenyum kecut "Ya ampun, aku lupa memperkenalkan diri padamu yah sayang, sungguh bodohnya aku."


"Jadi... siapa nama kamu?" tanya Aditya lagi.


"Aku Aliya Rajasa, anak bungsu dari Liam Rajasa, salam kenal sayang, meski terlambat. Hihihi...." Aliya terkikik geli dengan kecerobohannya tersebut.


Aditya mengangguk mengerti "Aditya Nugroho, mulai hari ini mohon bantuannya." ucapnya memperkenalkan diri.


Aliya tersenyum, dia menyenderkan kepalanya di bahu Aditya "Iya sayang, aku juga mohon bimbingannya."


Aditya menghela napas, bermimpi apa dia sampai-sampai bisa terjerat hubungan mendadak seperti itu.


Menurut Aditya kabur bukanlah pilihan yang terbaik, meski tidak mungkin ada yang berani menghentikannya. Namun, Aditya secuil pun tidak memiliki pemikiran kesana, dia tidak ingin menyakiti wanita yang telah di renggut kesuciannya.


...***...


Malam harinya, Acara pengesahan dan pengenalan pernikahan Aditya dan Aliya di lakukan.


Aditya memakai pakaian Adat Padepokan Macan kumbang dengan khas pria Jawa pada umumnya saat menikah, begitu juga Aliya yang di dandani sedemikian rupa.


Aditya merasa aneh dengan pernikahan-nya tersebut, karena tidak ada Glembo ataupun orang yang di kenalnya yang berada di sana.


Tapi karena acara tersebut hanya sebagai bentuk rasa syukur saja, Aditya tidak memikirkan banyak hal lainnya.


Acara tersebut berlangsung sangat meriah dengan di hadiri para warga yang berada di wilayah Padepokan macan kumbang.


Mereka semua terlihat sangat senang, merayakan pernikahan putri pemimpin mereka.


Satu persatu acara di lakukan, Aditya mengikuti semua instruksi yang di katakan Liam, dia dengan patuh mengikuti semuanya.

__ADS_1


Aliya merasa senang karena Aditya tidak melarikan diri, padahal pernikahan mereka terkesan di paksakan. Tapi Aditya masih mau melanjutkan pernikahan tersebut.


"Beruntung sekali pria itu bisa menikahi Nona Aliya." ucap salah satu warga yang datang ke acara tersebut.


"Huss! Kamu jangan bicara sembarangan, pria tersebut yang menyelamatkan Padepokan macan Kumbang kemarin!" tegur orang yang ada di sampingnya.


"Eh... iya kah? Aku tidak tahu sama sekali."


Masih sedikit orang yang mengenal Aditya di padepokan macan kumbang, mungkin karena Aditya memang senagaja tidak menonjolkan diri, jadi dia tidak begitu terkenal di sana.


Namun, tidak sedikit juga yang tahu tentang Aditya, mereka yang tinggal di padepokan Macan kumbang, tentu tahu siapa Aditya dan mereka semua sangat menghormati Aditya, jadi mereka tidak heran kalau Aditya menikahi putri Liam.


Acara berakhir ketika sudah larut malam, Aditya sudah sah dan di kenalkan pada semua orang yang hadir di sana sebagai suami dari Aliya.


Di kamar pengantin baru tersebut, terlihat Aliya yang sedang merusak riasannya, dan mengubahnya jadi riasan yang biasa dia gunakan.


sementara Aditya sedang berbaring di ranjang sambil menatap langit-langit kamar, dia sedang berpikir, bagaimana caranya memberitahu Rebecca tentang Aliya.


"Sayang kamu kenapa?" tanya Aliya yang sudah siap dengan riasan barunya dan berbaring di samping Aditya.


Aditya menoleh ke arah Aliya "besok aku mau pulang ke kampung Karbal."


Aditya sudah menduganya kalau Aliya pasti akan mengatakan hal tersebut, dia menghela napas berat. karena Aditya yakin jika dia membawa Aliya ke kmpung Karbal, bukan tidak mungkin akan bertengkar dengan Rebecca, di tambah ada Vivi juga, entah apa yang akan terjadi nantinya.


"Aku mau jujur padamu, di sana ada wanita yang aku sukai, sebenarnya aku belum siap dengan pernikahan ini, tapi aku tidak mau menyakiti kamu." ucap Aditya tidak berdaya.


Bukannya marah, Aliya malah tersenyum "Aku akan membantu kamu menjelaskan padanya, aku juga tidak keberatan kamu memiliki banyak wanita."


Sontak saja perkataan Aliya membuat Aditya terkejut, dia menatap Aliya dengan seksama. Aditya heran kenapa wanita cantik sepertinya bisa mengatakan hal tersebut. Padahal seharusnya kata-kata itu tabu untuk seorang wanita.


"Kamu ini bicara apa Aliya? Apa kamu ingin berbagi suamimu dengan wanita lainnya?" tanya Aditya menyelidik.


Aliya memeluk pria yang sudah sah menjadi suaminya tersebut, dia merebahkan kepalanya di dada Aditya.


"Aku tidak mau menuntut banyak hal padamu sayang, asalkan kamu nyaman dan bisa membagi waktu kamu untukku, itu sudah cukup buatku."


Pernyataan Aliya tentu saja membuat Aditya terhenyak, dia tidak tahu harus tertawa atau menangis. Wanita seperti Aliya menurut Aditya hanya ada seribu banding satu di dunia ini.


Aditya mengangkat tangannya, dia mengusap puncak kepala Aliya "jangan seperti itu, sedikit egois menurutku tidak masalah untukmu."


Aliya langsung membalik wajahnya agar menghadap Aditya, pria dengan wajah yang cukup tampan itu terlihat semakin tampan di mata Aliya.

__ADS_1


Ketika tatapan mata mereka bertemu, Aditya mengulas sebuah senyum, dia yang awalnya masih aneh dengan wanita yang ada di pelukannya tersebut, sekarang dia sudah bisa sedikit menerimanya, karena mau bagaimanapun dia sekarang menjadi istrinya.


"Ya sudah, besok kita berangkat ke kampung Karbal." ucap Aditya yang masih mengusap-usap kepala Aliya.


Aliya tanpa ragu langsung mendekatkan wajahnya ke Aditya hingga bibir mereka saling bertemu satu sama lain.


Malam indah itu terulang kembali, kali ini Aditya bukan hanya menggunakan napsunya saja, tapi dia juga menyalurkan perasaannya pada Aliya.


Teriakan Aliya tidak terdengar, dia sudah mulai terbiasa dengan pusaka Aditya yang sekarang sudah seutuhnya menjadi milik dirinya.


Mereka bergelut hingga beberapa saat, hingga mereka kelelahan dan terlelap bersama di ranjang mereka.


...***...


Ke esokan harinya, Aliya dan Aditya bangun kesiangan, Pelayanpun tidak berani mengetuk pintu kamar mereka berdua. Jangankan pelayan Liam saja tidak berani melakukannya.


Mereka terbangun ketika hari sudah menjelang siang, keduanya bangun secara bersamaan.


"Pagi sayang." sapa Aliya yang masih berbaring di lengan Aditya.


"Pagi juga." jawab Aditya sambil tersenyum manis.


Mereka berdua kemudian beranjak dari ranjang secara bersamaan, keduanya langsung ke kamar mandi dan mandi bersama di sana.


Selepas mandi, Aliya menyiapkan sarapan untuk suaminya terlebih dahulu saat sudah berganti pakaian. Dia benar-benar sudah menjadi seorang istri, apa lagi Aliya sangat perhatian terhadap Aditya.


Aditya menikmati kemesraan tersebut, dia pikir ternyata tidak ada salahnya menikah dengan Aliya, walaupun terpaksa setidaknya wanita yang dia nikahi tidak membuatnya kecewa.


...***...


"Kalian mau berangkat sekarang?" tanya Liam pada anaknya.


"Iya Ayah, Mas Adit bilang mau pulang ke Kampung Karbal sekarang juga, dia sudah menunggu di Mobil." jawab Aliya yang berpamitan pada Ayahnya.


"Haish... Suamimu itu seharusnya ikut berpamitan denganmu." Liam menghela napas tidak berdaya.


"Sudahlah Ayah, Mas Adit mungkin masih malu dengan Ayah. Aliya pergi dulu yah Ayah, Ibu!" Aliya menyalami kedua orang tuanya dan meninggalkan mereka berdua.


Sutri tidak banyak bicara, melihat wajah anaknya yang berseri-seri saja sudah membuatnya bahagia, jadi dia tidak mempermasalahkan Aditya tidak ikut berpamitan.


Sementara Liam hanya bisa pasrah saja, dia sadar kalau Aditya mungkin masih ragu dengan dirinya, karena dia sempat menyerang menantunya saat masih berpihak dengan Padepokan Naga Hitam.

__ADS_1


__ADS_2