
Rebecca sangat marah, dia salah paham dengan perkataan ambigu yang di lontarkan Vivi.
Rebecca menarik lengan kanan Aditya dan merangkulnya, sementara Vivi ada di lengan kiri Aditya. Dia sudah tidak peduli lagi dengan harga dirinya, yang di inginkan-nya saat ini adalah Aditya tidak di miliki oleh wanita lain.
"Jangan keganjenan yang kamu! Adit milikku!" Vivi mendorong Rebecca. Namun, Rebecca tidak mau kalah dengan Vivi.
"Kamu yang kecentilan, datang-datang maen sambar saja pria orang! Harusnya kamu malu!" suaranya meninggi tiga oktaf.
"Apa kamu bilang! Mas Adit milikku, Aku sudah rela memberikan tubuhku padanya terlebih dahulu! Wanita seperti mu lebih baik bermimpi saja!" ejek Vivi pada Rebecca.
Sintia di buat terkejut dengan Rebecca yang perfeksionis itu, rela bertengkar dengan seseorang demi memperebutkan seorang pria. Padahal Rebecca yang dulu tidak akan pernah melakukan itu.
Wajah Jarot juga berubah masam, ternyata benar kalau uang bisa membuat semua orang lupa jati diri mereka itu benar adanya.
Sementara Glembo marah, dia pikir kalau Aditya sedang di perebutkan untuk menjauh darinya, dia langsung menegur "Diam kalian berdua! Aditya milikku!"
Glembo menarik Aditya, Vivi dan Rebecca melepaskan-nya karena saking tercengang dengan tindakan Glembo yang di luar nalar tersebut.
Aditya bringsut menghempaskan tangan Glembo "Apa-apan sih kamu Ndut! Sudah bagus-bagus aku di sebutin dua cewe! Kamu malah ganggu!"
Aditya menoyor kepala sahabatnya itu, dia sedikit kesal Glembo tidak peka sama sekali dengan-nya.
Glembo menatap iba sahabatnya tersebut, dia ingin minta maaf padanya karena telah melakukan kesalahan. Namun, Aditya dengan bersungguh-sungguh langsung masuk ke rumah barunya.
Ketika Aditya membuka pintu rumah, dia tercengang dengan dekorasi khas rumah minimalis jaman sekarang. Perabotan rumah yang lengkap, semuanya persis sama yang ada di dalam gambar.
Melihat Aditya yang tertegun di depan pintu masuk, Rebecca menghampirinya, merangkul lengan Aditya tanpa ragu "gimana? Apa kamu suka Dit?" tanyanya dengan suara lembut.
Aditya tersadar "Eh... tentu saja aku suka, terima kasih Rebecca " jawabnya sambil tersenyum menatap Rebecca.
Vivi menggembungkan pipinya sambil menghentak-hentakan kakinya seperti anak kecil yang merajuk minta di belikan jajan.
__ADS_1
Vivi tidak berani melangkah maju, dia sadar tidak bisa memberikan apa-apa pada Aditya, sementara Rebecca bisa membangunkan rumah Aditya, nasib Vivi sama seperti Otor yang kalah saing dengan orang lain dan akhirnya hanya bisa pasrah nunggu keajaiban datang.
Vivi hanya bisa menatap nanar Aditya yang sedang di rangkul mesra oleh Rebecca.
Mereka semua kemudian memasuki rumah baru Aditya. Jarot memberitahu semua yang ada di dalam rumah tersebut hingga detail terkecil sekalipun.
Setelah semuanya selesai di beritahu Jarot, dia pamit undur diri, pekerjaan-nya sudah selesai di sana, jadi dia sudah tidak ada urusan lagi di sana.
"Dit, kamu mau cari pembantu gak?" tanya Rebecca yang masih bergelayut manja di lengan Aditya.
"Sepertinya harus cari, Rumah sebesar ini, mana mungkin aku bisa mengurusnya sendiri." jawabnya sambil menyapu pandangan keseluruh bagian rumah.
"Ya sudah, besok aku carikan lima orang pembantu, satu orang sopir dan satu orang tukang kebun untuk mengurus taman halaman bagaimana?" tanya Rebecca lagi.
Aditya mengernyitkan dahi, dia menatap Rebecca yang masih bergelayut manja di lengannya itu "apa itu gak kurang? Kasihan mereka nanti kerja di rumah sebesar ini"
Sontak saja Sintia, Vivi dan Rebecca terkejut, dia mengira kalau Aditya akan protes, menurut mereka lima pembantu sudah cukup banyak. Namun, Aditya malah meminta lebih, bagaimana mungkin menggaji mereka dengan mudah.
Rebecca tersenyum kecut, dia pikir sudah memberikan pilihan terbaik, tapi mengingat kekayaan Aditya tidak terbatas, dia pun menerima pendapat Aditya dengan senang hati.
Aditya terlihat berpikir sejenak, kemudian menjawab " Yang Kusus bersih-bersih lima orang, yang masak dua, sopir satu, tukang kebun satu dan satpam jangan lupa, ambil lima orang, aku tidak mau ada maling masuk ke dalam rumahku!"
Rebecca yang terkejut dengan permintaan Aditya, dia melepaskan rangkulan-nya "Kamu serius Dit? Kamu mau mengerjakan orang sebanyak itu di rumah ini?" tanya Rebecca penasaran.
Aditya mengangguk mantap "tentu saja aku serius, lagian mereka tidak akan cuma melayaniku saja, Glembo akan tinggal di sini!Benarkan Ndut?"
"Asyik! Terima kasih Dit!" Glembo tidak peduli ketiga wanita di sana sedang tercengang, yang dia pikirkan sekarang bisa tinggal di rumah mewah bersama dengan sahabatnya tersebut.
"Dit, aku boleh tinggal di sini juga gak?" celetuk Vivi tiba-tiba.
"Tidak boleh! Dasar wanita gak tahu malu! Ngatain orang ganjen, sendirinya kegatelan!" sela Rebecca dengan ketus pada Vivi.
__ADS_1
"Apa urusanmu wanita ganjen! Aku tanya Aditya! Bukan bertanya pada kamu!" Vivi tidak mau kalah dengan Rebecca.
Mereka berdua saling beradu pendapat dengan ego masing-masing, tidak ada yang mengalah satu sama lain.
Sintia menghela napas, dia kemudian melerai keduanya "Kalian berdua hentikan! Kalian itu wanita! Mana harga diri kalian!" tegur Sintia pada keduanya.
"Diam!" Vivi dan Rebecca malah membentak Sintia, dia pun langsung diam ketakutan melihat dia Wanita yang sedang beradu argumen tersebut.
"Kalau kalian berdua mau bikin keributan di rumahku, mending kalian pergi dari sini saja. Aku tidak suka dengan kebisingan" Aditya tiba-tiba buka suara. Walaupun suaranya lembut tapi sudah cukup untuk membuat kedua wanita itu langsung terdiam.
Rebecca dan Vivi langsung menundukkan kepala minta maaf pada Aditya, bukannya memaafkan Aditya malah menyuruh mereka berdua meninggalkan rumahnya.
"Kalian mending keluar dari rumahku, jangan kemari lagi sebelum bisa berteman dengan baik. Aku lelah ingin istirahat!" Aditya langsung meninggalkan mereka semua, dia mencari kamar utama untuk istirahat.
Vivi mendengus kesal pada Rebecca, begitupun dengan Rebecca. Sintia hanya bisa menatap tidak berdaya dua orang Wanita yang sedang di mabuk cinta tersebut.
Sintia menarik Rebecca untuk memisahkan mereka dan meninggalkan rumah Aditya. Vivi juga bergegas pulang ke rumahnya.
Sementara itu Glembo kebingungan berdiri di tempat tersebut "Loh, mereka semua pergi, terus aku harus kemana? Adit!" Glembo bergegas mengejar Aditya yang sudah ke kamarnya terlebih dahulu.
Di kamar utama Rumah Aditya yang ada di lantai dua, dia sedang merebahkan tubuhnya di ranjang yang empuknya belum pernah dia rasakan.
Aditya tersenyum sambil menatap langit-langit "ternyata menjadi orang kaya itu memang sangat menyenangkan."
[ Ding ]
Misi terpicu : Taklukkan Padepokan Kliwung.
Hadiah : 50 Poin peningkatan dan Keris Naga Bunting.
Aditya mengerutkan keningnya "Java bukannya keris naga Runting? Kok naga Bunting?"
__ADS_1
[ Kalau Naga Runting, nanti kita di kira plagiat Tuan, jadi Naga Bunting saja dah paling bagus! ]
Aditya menyemburkan ludahnya, apa iya Systemnya juga ikut kekonyolan penggunanya?.