
Aditya tidak tahu sama sekali kalau Liam sedang membuatkan rencana besar untuknya, dia tidak pernah tahu kalau semua pemimpin Padepokan juga memiliki usaha yang mereka bangun sendiri.
Aditya masih berjalan tanpa arah di kota Bibes, selain mencari cara untuk memajukan Kota Bibes, dia juga ingin menghirup udara segar untuk melepaskan lelahnya.
Aditya mengerutkan keningnya saat melihat ada anak kecil yang menangis di pinggir jalan tanpa ada yang menghampirinya sama sekali, padahal di sana banyak orang berlalu lalang.
Aditya bergegas menghampiri anak kecil tersebut, dia berjongkok di hadapan anak kecil itu dan bertanya.
"Ade, Ade kanapa? Mana orang tua Ade?"
Anak kecil tersebut semakin menangis histeris, sehingga orang yang lewat menatap sinis Aditya.
"Sama anak kok gak perhatian!"
"Benar, makanya jangan nikah muda kalau belum bisa mengurus anak!"
Orang-orang yang lewat malah menyalahkan Aditya, mereka mengira kalau anak kecil tersebut anaknya Aditya.
Aditya yang mendengar percakapan orang-orang lewat, dia tersenyum getir, padahal dia hanya ingin menolong, tapi malah menjadi bahan gibah.
Aditya menghela napas "Cup, Cup, Adek mau kakak belikan sesuatu?" tanya Aditya ramah.
Saat Aditya mengatakan hal tersebut, tangis Anak kecil itu mulai sedikit mereda, Aditya tersenyum padanya.
"Ayo, Adek mau beli apa? Biar kakak belikan." ucap Aditya lembut.
"A-Aku mau beli itu kak, tapi Ibu malah ninggalin aku." suaranya terdengar serak karena dia sudah lama menangis.
Aditya melihat ke arah yang di tunjuk anak tersebut. Aditya terkejut karena ternyata anak kecil itu menginginkan sebuah mobil-mobilan yang di pajang dalam toko mainan.
__ADS_1
"Pantas saja ibunya marah, orang yang dia mau barang mahal." gumam Aditya dalam hati.
Aditya yakin kalau orang tua anak tersebut bukan dari kalangan berada, dari pakaiannya saja sudah terlihat kalau anak tersebut sangatlah lusuh.
Aditya menghela napas "Akan kakak belikan, tapi setelah itu kamu langsung pulang oke!"
"Benarkah kak? Asik!" Anak kecil itu terlihat bahagia saat Aditya akan membelikan mobil-mobilan yang harganya mungkin 200 ribu perak.
Aditya langsung membawa anak tersebut ke toko mainan, dia langsung membelikan mainan yang di inginkan anak tersebut.
"Terima kasih Kak!" Bocah berusia sepuluh tahun tersebut terlihat sangat senang, karena akhirnya dia bisa membeli mainan yang seperti teman-nya..
Aditya tersenyum "sekarang, tunjukan kakak, dimana rumah kamu? Biar kakak antar kamu pulang."
"Di sana kak, tidak jauh dari sini." Anak tersebut menunjuk ke arah Utara, tempat pemukiman kumuh yang ada di kota Bibes.
Aditya belum tahu kalau tempat tersebut merupakan pemukiman kumuh, dia hanya mengikuti anak tersebut di belakang.
Saat Aditya mulai menginjakan kakinya di tempat kumuh tersebut, hatinya langsung tersayat, ternyata ada orang-orang yang kehidupannya lebih miris dari dirinya yang dulu.
"Dari mana kamu mendapatkan itu! Jangan bilang kamu mencurinya!" seorang Ibu-ibu memarahi anak kecil yang bersama Aditya.
Sontak saja Aditya terkejut, dia langsung menghampiri anak kecil Itu "dia tidak mencurinya Bu."
Perkataan Aditya membuat Ibu-Ibu tersebut langsung menoleh, seketika wanita paruh baya itu langsung menundukkan kepalanya.
Aditya merasa heran pada wanita itu, padahal dia tidak melakukan apapun, tapi wanita itu terlihat sangat ketakutan.
"Ibu, dia Kakak yang membelikan aku mobil-mobilan ini, Kakak itu sangat baik Bu!" celetuk anak tersebut tiba-tiba.
__ADS_1
Wanita paruh baya tersebut langsung mendongakkan kepalanya "Maaf tuan, anak saya merepotkan Anda."
"Tidak sama sekali Bu, saya hanya sekedar membeli mainan untuknya saja, ngomong-ngomong ini tempat apa?" tanya Aditya yang merasa iba dengan tempat tersebut.
"Kampung sampah, kami menyebutnya seperti itu tuan, karena di sini memang kebanyakan pemulung sampah." jawab Wanita paruh baya tersebut dengan tidak berdaya.
Aditya mengangguk mengerti, pantas saja sepanjang perjalanan dia melihat banyak tumpukan sampah daur ulang, dia yakin mereka mengumpulkan sampah-sampah tersebut untuk menyambung hidup mereka dengan menjualnya.
"Di mana kalian menjual hasil kerja kalian?" Aditya langsung memikirkan cara untuk bekerja sama dengan pengepul sampah-sampah tersebut.
"Di sana tuan." wanita itu menunjuk ke arah pinggir jalan Raya.
Aditya mengangguk "Ya sudah, saya permisi dulu, dan ini untuk anda!"
Aditya mengeluarkan uang lima ratus ribu perak dan memberikannya pada wanita paruh baya tersebut, sontak saja wanita itu sangat berterima kasih pada Aditya.
Aditya menanggapinya hanya dengan tersenyum saja, dia kemudian langsung ke tempat pengepul sampah.
Aditya masih melihat-melihat tempat tersebut dengan penuh iba, dia merasa kalau tempat itu sangatlah tidak layak untuk di tinggali.
Aditya punya rencana untuk membuat tempat tersebut menjadi lebih baik lagi, seperti kampung Karbal yang sudah terlihat lebih baik.
Tak berselang lama Aditya sampai di tempat pengepul sampah, di sana banyak pemulung yang sedang mengantri untuk menjual hasil kerja keras mereka.
Aditya tidak mengganggu, dia melihat kursi usang dan duduk di sana dengan santai, sambil memerhatikan transaksi para pemulung dan pengepul.
Aditya menunggu mereka hingga hampir satu jam, dia memainkan ponselnya agar tidak jenuh duduk sendirian di sana.
"Ada apa kamu kemari anak muda?" Pengepul yang usianya sudah sepuh tersebut menghampiri Aditya, karena dia ingin tahu apa tujuan Aditya datang ke tempatnya.
__ADS_1
Aditya mematikan Ponselnya, dia melihat pria sepuh yang sudah berada di depannya itu. Aditya tersenyum ke arah Pria tua tersebut.
"Aku mau menawarkan kerja sama dengan anda!"