Java System

Java System
Demo


__ADS_3

Kematian sesepuh Padepokan Kliwung tentu membuat para penghuninya sangat sedih, karena pria tersebutlah yang telah mendirikan padepokan tersebut.


Aditya juga merasakan kesedihan itu, ia mencoba menenangkan Darman, hingga acara pemakaman Sesepuh padepokan Kliwung berakhir.


Aditya menginap beberapa hari di Padepokan Kliwung untuk menghormati kematian sesepuh mereka. Baru setelah itu ia kembali ke kampungnya kembali.


Aditya pulang di antar mobil bawahan Darman, pria itu awalnya akan ikut dengan Aditya. Namun, karena padepokan baru di tinggal sesepuh mereka, akhirnya Darman meminta maaf karena tidak bisa mengantar tuannya.


Aditya tidak masalah sama sekali, ia malah menyuruh Darman agar tetap di padepokan karena masih dalam suasana berduka.


...***...


Aditya sampai di rumahnya sore hari sama seperti ia sampai di padepokan Kliwung, tapi baru saja dirinya pulang, ia di kejutkan dengan banyaknya warga yang berkumpul di rumahnya.


"Dit, syukurlah kamu pulang juga!" seru Glembo yang langsung menghampiri sahabatnya itu ketika baru turun dari mobil.


"Ada apa ini, Ndut?" tanya Aditya yang bergegas ke arah warga yang berkumpul.


"Tanah mereka yang di beli perusahaan katanya tidak jadi dan itu gara-gara kamu," jawab Glembo yakin.


Aditya bergegas menghampiri warga yang tampak cemas dan panik, mereka semua seolah sedang mendapat masalah besar.


"Itu dia orangnya!" seru salah satu warga


"Benar, itu Aditya!" timpal yang lainnya.


Mereka semua serempak langsung menghampiri Aditya yang sedang berjalan ke arah mereka. Aditya seketika berhenti melangkah, sementara Glembo sembunyi di belakang Aditya.


Ketiga Istri Aditya juga tampak khawatir, walaupun di sana ada dua puluh murid padepokan Kliwung, tapi jumlah warga cukup banyak.

__ADS_1


"Aditya! Kamu harus tanggung jawab, gara-gara kamu, kami yang seharusnya dapat bayaran mahal dari jual tanah malah tidak jadi!" seru salah satu warga.


"Betul itu, padahal aku sudah senang tanahku yang jauh dari jalan bisa laku!"


"Ya aku juga!"


"Pokoknya kamu harus bertanggung jawab, Aditya!"


Para warga berseru, tidak membiarkan Aditya berbicara sedikitpun. Namun, pria itu menyikapinya dengan tenang.


Aditya malah tersenyum mendengar pernyataan mereka, karena dengan membeli tanah para warga ia bisa dengan mudah menguasai wilayah kerajaan Angkara.


"Apa cuma itu tuntutan kalian?!" seru Aditya dengan suara lantang.


"Ya, kami ingin kamu ganti rugi!" teriak salah satu warga yang menjadi pemimpin demo tersebut.


Aditya mendekati orang itu, ia bertanya padanya. "Berapa harga tanahmu?" tanyanya dingin.


Aditya menghela napas. "Besok kalian bawa kemari sertifikat tanah kalian, semuanya akan aku beli!" serunya lantang.


Seketika semua orang terdiam, mereka saling berbisik satu sama lain, karena takut Aditya berbohong.


Aditya tahu kalau mereka semua tidak percaya, karena itulah ia menghubungi Java di benaknya.


"Java tukar seratus koin emas dengan mata uang perak!"


[ Baik Tuan!]


Karena 1 koin emas saja harganya sama dengan lima juta koin perak, maka seratus koin emas sama dengan 500 juta perak.

__ADS_1


Aditya pura-pura merogoh bajunya, ia kemudian mengeluarkan tumpukkan uang sebesar seratus juta perak, karena tidak mungkin ia mengeluarkan semuanya.


"Apa kalian pikir aku tidak punya uang!" seru Aditya sambil menunjukkan tumpukan uang di tangannya.


Sontak saja pria di hadapan Aditya pencetus demo tersebut langsung menunduk malu. Mereka semua terdiam seketika.


Melihat hal tersebut Aditya tersenyum getir, tidak dulu tidak sekarang, mereka masih meremehkannya saja, padahal sudah jelas-jelas kalau dirinya sudah memerlihatkan perubahan untuk kampung tersebut.


Aditya tahu ada yang memprovokasi mereka, sehingga ia menganggap wajar, tapi tentu pria itu juga tidak mau di injak-injak lagi seperti dulu.


"Dengar baik-baik, aku akan membeli semua lahan kalian yang memang akan di jual! Aku tidak akan memaksa mereka yang tidak akan menjualnya, datanglah lagi kemari besok! Bawa surat-surat tanah kalian, dan aku akan melakukan pembayaran Cas dengan di awasi pengacara nanti, sekarang pulanglah!" seru Aditya dengan suara lantang.


Seketika para warga hanya bisa terdiam, mereka tidak menyangka kalau Aditya malah sanggup untuk membeli lahan mereka semua, dan mulai membubarkan diri satu persatu.


Si provokasi yang ada di tengah-tengah para warga, ia tampak mengepalkan tangannya dan sangat marah.


Aditya yang merasakan amarah orang tersebut, ia menyeringai ternyata dalang di balik gaduhnya para warga ada di sana.


"Buto Ireng datanglah!" Panggil Aditya dalam hati.


Buta Ireng muncul di samping Aditya sambil bertekuk lutut. "*Ada apa tuanku?"


"Setelah mereka pulang, bawa orang itu di hadapanku nanti! Jangan sampai terlihat orang lain ketika kamu melakukannya!"


"Dimengerti Tuanku*!"


Buta Ireng langsung menghilang, ia mengikuti pria yang di tunjuk Aditya menggunakan energi spiritualnya, ketika semua orang mulai membubarkan diri.


"Dit, sudah selesai masalahnya?" tanya Glembo yang masih ada di belakang Aditya.

__ADS_1


"Pake nanya, mata kamu dimana emangnya?" jawab Aditya santai, sambil berjalan masuk ke rumahnya.


Ketiga Istrinya menyambut dengan senang, mereka yang sempat cemas, sudah tampak sumringah.


__ADS_2