
Saat masuk ke dalam kamar tersebut, terlihat pria sepuh yang sedang terbaring di ranjang dengan tubuh ringkih nya. Aditya yang melihat hal itu merasa iba melihatnya.
"Ayah, penerus tuan Angkara jaya datang menemui anda," ucap Darman lembut.
Seketika mata pria itu yang tadi terpejam langsung terbuka, membuat Aditya sedikit terkejut.
"Darman, bantu aku duduk!" perintah pria sepuh itu tegas dan bersemangat.
Darman bergegas membantu sang Ayah agar duduk bersender di ranjangnya. Setelah duduk pria sepuh tersebut tampak menatap Aditya dengan tajam, ia juga sedikit mengalirkan energi spiritualnya kepada Aditya.
Entah karena apa, ketika pria sepuh tersebut menarik energi spiritualnya, tiba-tiba saja air matanya mengalir deras membasahi pipi.
"Akhirnya, anda datang juga tuan, saya sudah menunggu kedatangan anda, ketika Darman mengatakan kalau anda penerus tuan Angkara jaya saya berharap bisa bertemu anda secepatnya. Sayang tubuh renta ku sudah tidak bisa melakukan perjalanan jauh," ucapnya sambil menangis terisak.
Aditya tersenyum, ia menghampiri pria sepuh tersebut dan duduk di sebelahnya. "Tuan, saya kemari ingin tahu semua tentang Ayah Angkara Jaya," ujarnya lembut.
Pria sepuh menghapus air matanya. "Apa anda sudah menemukan putri Sekar Ayu?" tanyanya memastikan.
Aditya mengangguk. "Ya, selama ini ternyata dia terkurung dalam cincin kekuatan Ayah Angkara Jaya, dan baru kemarin saya membebaskannya," jawabnya lirih.
"Syukurlah, tuan tolong kembalikan kejayaan wilayah kerajaan Angkara, agar anak keturunan kami bisa bebas dari tindak kejahatan Iskandar dan Semaka," pintanya memelas.
"Karena itulah aku datang kemari, tolong and ceritakan semua tentang dua keluarga itu," ucap Aditya penasaran.
Pria sepuh tersebut mengangguk. Ia menarik napas dalam-dalam, sebelum akhirnya menceritakan semua tentang kedua keluarga tersebut.
Bagaimana mereka dengan bengisnya membantai kerajaan Angkara, bahkan mereka juga tidak segan membunuh semua keluarga Raja Angkara jaya dan saudara-saudara nya.
Aditya yang mendengar cerita pria sepuh tersebut, hatinya bergetar hebat. Ternyata cerita raja Angkara jaya hanyalah sebatas jamannya saja, tapi di jaman sekarang kedua keluarga tersebut juga masih memperlakukan tindak kejahatan dengan orang-orang yang hidup di wilayah kerajaan Angkara.
Dari menekan bisnis mereka, membuat harga barang yang di perlukan mahal, hingga mereka juga tidak membiarkan warga kota Bibes makmur. Karena itulah ternyata kota Bibes tidak berkembang sampai sekarang.
Aditya benar-benar marah setelah mendengar semuanya, tapi ia sadar harus menahan diri, dan menyelesaikan masalah tersebut secepat mungkin.
"Kurang lebih seperti itu tuan, hanya anda harapan kami dan ini...." pria sepuh tersebut mengambil sesuatu dari bawah ranjangnya. sebuah kotak seukuran telapak tangan yang terbuat dari kayu Cendana dengan ukiran simbol Java di sekelilingnya.
__ADS_1
"Apa ini?" tanya Aditya penasaran.
"Bukalah tuan, itu salah satu warisan dari tuan Angkara jaya yang di berikan kepada pelayannya agar menjaganya baik-baik, kami sudah menjaga benda tersebut selama turun temurun." jawab sopan.
Aditya membuka kotak tersebut, terlihat sebuah keris kecil beserta sarungnya dengan ukiran Naga. Ia mengerutkan keningnya, karena energi spiritual Angkara Jaya tidak memberitahu kalau ia menyuruh pelayannya untuk menyimpan keris tersebut.
"Keris Naga Pati, Walaupun ukurannya kecil tapi kekuatannya sangat luar biasa, saya yakin anda bisa menggunakannya," ucap Pria sepuh tersebut.
[Senjata keturunan didapatkan!]
[ Status ]
Koin Emas : 999.999.900.000keping
Nama : Aditya Nugroho
Umur : 21 tahun
Tinggi : 180 cm.
Masa Otot : 100
Vitalitas :100
Kemampuan kusus :
Meringankan Tubuh.
Beladiri
Tembus Pandang
Pancasona
Brajamusti
__ADS_1
Tubuh:
Gatotkaca
Dewa Brahma
Rahwana
Senjata:
Panah Arjuna
Gada Bima
Keris Naga Pati
Khodam:
Jin gunung Kumbang
Aditya terkejut ketika Java langsung memasukkan Keris naga Pati masuk ke dalam penyimpanan cincin.
Pria sepuh hanya tersenyum ketika melihat hal tersebut, menurutnya itu bukti kalau Aditya benar-benar keturunan Angkara Jaya.
Sementara Darman kebingungan di tempatnya, ia heran kemana perginya keris tersebut karena tiba-tiba menghilang.
"Tuan, keris Naga Pati sudah ada di tangan anda, sekarang anda hanya tinggal merebut dua senjata peninggalan tuan Angkara Jaya di kedua keluarga tersebut, Tombak geni dan Pedang hawa, dengan terkumpulnya senjata-senjata tersebut, saya yakin anda bisa mengalahkan mereka dengan mudah," ujarnya yakin.
Aditya menganggukkan kepalanya mengerti. Sekarang ia tahu kenapa Java menyuruhnya bertemu dengan pria sepuh tersebut, ternyata pria itu merupakan keturunan langsung pelayan setia raja Angkara jaya.
Mereka mengobrol-ngobrol sebentar, sebelum akhirnya tampak pria sepuh tersebut sesak napas.
"Tuan anda kenapa?" tanya Aditya khawatir.
Pria sepuh tersebut tersenyum. "Tugas saya sudah selesai tuan, saya pamit untuk per... gi...." tiba-tiba saja pria itu menutup mata dan meninggal di hadapan Aditya.
__ADS_1
"Ayah!" teriak Darman yang langsung menghampiri pria sepuh tersebut, tapi sayangnya ia sudah tidak bernapas sama sekali.
Aditya hanya bisa menyuruh Darman sabar, melihat pria sepuh menghembuskan napas terakhir sambil tersenyum. menandakan jika ia bahagia, karena di akhir hayatnya bisa bertemu dengan penerus junjungannya