Java System

Java System
Sintia dan Glembo


__ADS_3

Aditya yang sudah selesai mandi, dia di ajak makan oleh Rebecca, tentu saja Glembo dan adiknya juga di ajak makan bersama, hanya saja masakan Rebecca di kususkan untuk Aditya saja.


Glembo dan Adiknya makan seperti orang kesurupan saja, karena memang makan di rumah Aditya di buat oleh chef yang ahli pilihan Rebecca, jadi wajar saja kalau mereka sangat menikmati makanannya.


"Rebecca, apa kamu mengenal orang yang bisa mengelola hasil pertanian?" Aditya buka suara tiba-tiba.


Rebecca menoleh ke arah Aditya dan langsung bertanya "memangnya kenapa Dit?"


"Tidak apa-apa, hanya saja aku ingin mengelola hasil bumi di kampung Karbal ini agar lebih maksimal lagi." jawab Aditya sambil menyuapkan makanan.


"Oh... bagus itu, nanti aku kenalin sama seseorang, habis kita makan gimana?" Rebecca tidak mau membuang kesempatan untuk pergi berdua bersama Aditya.


"Baiklah, sekalian aku juga mau buat akun bank, agar tidak ribet bawa uang banyak kemana-mana." Aditya mulai menyadari kalau dirinya memang membutuhkan sebuah akun Bank untuk menyimpan uangnya.


Rebecca tentu saja tersenyum, akhirnya Aditya punya pemikiran lebih maju lagi "Aku akan mengantarmu kemanapun." jawabnya dengan percaya diri.


Sintia hanya bisa geleng-geleng kepala, sahabatnya tersebut sudah bucin tingkat Dewa, dia sudah tidak terselamatkan lagi sepertinya.


Sintia menoleh ke arah sampingnya, dia melihat pria gemuk yang sedang makan dengan sangat lahap. Dia tertegun menatap Glembo yang seolah tidak memiliki jeda sama sekali memasukkan makanan ke mulutnya.


Tiba-tiba rasa laparnya juga meningkat saat dia menatap Glembo yang begitu rakus itu, entah kenapa Sintia jadi ikut ingin makan banyak karenanya.


Sintia mulai melahap makanannya juga dengan cepat, Rebecca yang melihat hal tersebut terkejut, karena dia tidak pernah melihat Sintia yang seperti itu sebelumnya.

__ADS_1


Rebecca menelan ludah berkali-kali, entah sejak kapan sahabatnya itu sangat doyan makan, padahal dia biasanya mengutamakan tubuhnya agar tetap langsing.


Sementara Aditya tidak memperdulikan mereka yang asyik makan, baginya makanan adalah anugrah dari sang pencipta, jadi dia malah senang ketika melihat orang yang makan dengan lahap.


"Kamu gak makan Rebecca?" tanya Aditya yang melihat Rebecca hanya tertegun memerhatikan sahabatnya.


"Eh... Makan kok." Rebecca baru menyuapkan makanan ke mulutnya saat Aditya menegurnya, itupun sangat pelan.


Aditya yang sudah terbiasa melihat cara makan Rebecca, dia tidak mempermasalahkan-nya sama sekali, dia pikir wanita memang selalu jaga image di depan pria.


Setelah selesai makan, Sintia yang kelepasan makan, dia terlihat tidak bisa berdiri sama sekali karena perutnya terasa sangat penuh.


"Kasih dia istirahat saja, nanti beberapa menit juga baikan." celetuk Glembo tiba-tiba.


"Kamu jaga dia yah Ndut, aku mau pergi dengan Rebecca." Aditya menitipkan Sintia pada Glembo..


"Apaan sih Sin, Aku cuma pergi sebentar saja, jangan kaya anak kecil." jawab Rebecca tegas.


Sintia hanya bisa pasrah, dia tidak bisa membayangkan akan bersama dengan Glembo seharian ini.


Rebecca dan Aditya kemudian meninggalkan Sintia bersama Glembo, karena mereka berdua punya urusan yang harus di selesaikan.


"Minum ini." Glembo menyerahkan wedang jahe pada Sintia.

__ADS_1


Sintia mengerutkan keningnya "ini apa?" tanyanya sambil mengambil secangkir wedang jahe yang di berikan Glembo.


"Wedang jahe, aku kalau perut terasa begah minum itu biasanya mendingan, kamu coba saja." jawab Glembo lembut.


Sintia menatap pria gemuk yang duduk di sampingnya itu, dia merasa kalau Glembo tidak seburuk yang dia pikirkan.


Sintia perlahan menyeruput wedang jahe yang di berikan Glembo, dia sesekali melirik Glembo yang sedang asyik melihat adiknya bermain Game Moba. Meskipun Glembo terlihat menyebalkan di mata Sintia, tapi nyatanya Pria dengan tubuh gemuk itu memiliki tempramen yang baik.


Glembo juga terlihat sangat perhatian dengan adiknya, dia kakak yang baik dari sudut pandang Sintia yang dari tadi memperhatikan-nya.


Perut Sintia memang terasa lebih baik, dia sekarang bisa sedikit bernapas lega, berkat Wedang jahe pemberian Glembo.


Sintia sangat berterima kasih pada Glembo karena bisa membuatnya lebih baikan lagi, seperti sebelumnya.


"Terima kasih Glembo." ucap Sintia tiba-tiba.


Glembo menoleh "terima kasih untuk apa?"


"Wedang jahenya." jawab Sintia dengan wajah bersemu merah.


"Oh... Kata Ibu, berbuat baik itu harus, jadi gak usah sungkan." jawabnya santai.


Deg

__ADS_1


Jantung Sintia langsung berasa aneh, yang awalnya biasa saja, lama kelamaan berdegup semakin kencang, entah kenapa dia melihat pria gemuk di depannya itu seperti pangeran saja sekarang.


Wajah Naif Sintia menghilang berganti dengan wajah Tomatnya, dia benar-benar di buat salah tingkah oleh Glembo. semakin menatap Glembo, semakin darahnya berdesir mungkin itulah awal Sintia jatuh cinta dengan pria berlemak tersebut.


__ADS_2