Java System

Java System
Aditya Yang Berbeda


__ADS_3

Aditya masuk ke dalam Kafe dengan santainya, dia tidak khawatir lagi jika ada orang kuat di dalam kafe.


Ketika Aditya memasuki Kafe, semua orang yang ada di dalam sana langsung menatap ke arahnya.


Aji Darma dan Luwito menatap tajam Aditya, mereka seolah ingin menerkam Aditya dan mencabik-cabik nya.


Aditya pura-pura bodoh, dia menghampiri Aji Darma, Luwito dan Wakil walikota yang sedang duduk menunggunya.


Aditya langsung duduk di seberang mereka, dia menatap Santoso yang sedang bertekuk lutut di lantai.


"Kenapa kamu di situ, kemarilah dan duduk bersamaku!" ucap Aditya acuh.


"Berani berdiri aku patahkan kakimu!" ucap Luwito ketus.


"Sadis amat Om, ingat kalian sudah bau tanah, jangan terlalu berbicara besar!" ejek Aditya pada Aji Darma dan Luwito.


"Bedebah! Berani kamu menghina kami!?" Luwito langsung berdiri.


"Memangnya kenapa?"


Aditya memasang wajah serius dan menatap Luwito lekat-lekat, dia tidak takut sama sekali dengan Luwito yang terlihat marah.

__ADS_1


"Nyalimu besar juga bocah!" ucap Aji Darma tiba-tiba.


Aditya tersenyum, dia menyenderkan tubuhnya di kursi dan menyilangkan kakinya, dia seolah sedang menantang Aji Darma dan Luwito.


"Bedebah!"


Luwito yang memang emosian, dia langsung menerjang ke arah Aditya. Dia meluncurkan sebuah pukulan khas Padepokan Kramat Jati, yang biasanya bisa membuat orang langsung tersungkur.


Klap


Tapi Aditya menangkap pukulan tersebut dengan begitu mudahnya "hei, hei... Apa begini cara kalian menyambut tamu yang terhormat ini!" ucap Aditya yang masih mencengkram kuat tangan Luwito.


Luwito terkejut dengan kekuatan Aditya yang mampu menahan serangannya, di tambah dia seperti tidak merasakan pukulannya sama sekali.


Aditya semakin kuat mencengkam tangan Luwito. Tapi Luwito yang menyadarinya, dia langsung meluapkan energi spiritualnya, sehingga Aditya yang merasakan itu d


terhempas mundur bersama dengan kursinya.


"Keluarlah Buto Kramat Jati!"


Luwito memanggil Khodamnya, sosok tinggi besar dengan tubuh berwarna gelap, rambut acak-acakan dan taring yang menonjol dari mulutnya, membuat sosok tersebut sangat menyeramkan.

__ADS_1


Aditya menyipitkan matanya, dia merasa kalau bertarung di tempat tersebut bakal menghancurkan segalanya.


"Kenapa? Apa kamu takut Bocah! Hahahaha...."


Luwito merasa dirinya sudah menang, padahal Aditya memikirkan cara agar tidak merusak tempat tersebut, karena khodamnya, Java dan Naga Bunting ukurannya sangat besar.


"Takut? Aku takut dengan orang-orangan sawah sepertinya? Kamu bercanda Pak tua?" ejek Aditya pada Luwito.


Aji Darma masih mengamati Aditya, dia ingin melihat bagaimana bocah tersebut melawan Luwito. Namun, Aji Darma sedikit terkejut, karena Aditya tidak memiliki rasa takut sama sekali.


"Bedebah kau Bocah! Buto, bunuh dia!" Luwito yang memiliki tempramen yang buruk, tentu saja dia langsung marah pada Aditya.


Aditya tersenyum, dia tahu kalau Luwito bakal terpancing dengan ejekannya. Dia langsung berlari keluar dari Kafe.


"Mau lari kemana kamu Bocah!"


Luwito tanpa ragu mengejar Aditya bersama dengan Buto Kramat Jatinya. Mereka seolah tidak mau di remehkan oleh Aditya.


Aji Darma yang tahu Aditya memancing Luwito dia menggelengkan kepalanya, dia terpaksa ikut keluar dari Kafe tersebut.


Luwito terkejut saat Aditya sedang bersama ular Putih, saat dia sudah di luar kafe. Padahal Aditya tadi belum mengeluarkan Khodamnya dan dia pun tidak merasakan Aditya mengeluarkan energi spiritualnya.

__ADS_1


"Kenapa? Apa kamu takut dengan Belut putihku?"


__ADS_2