Java System

Java System
Serangan Kejutan


__ADS_3

Hari demi Hari berganti, Rebecca yang sudah ada di Tiongkok tidak memberikan kabar sama sekali dengan Aditya.


Aditya sebenarnya merasa cemas, tapi dia tidak mungkin mencari Rebecca, karena takut menyakiti Aliya.


Sintia yang beberapa hari ini tidak pernah datang ke rumah Aditya, pagi hari ini dia datang dengan membawa rantang makanan buat Glembo.


"Sayang, kamu lama sekali gak kesini?" ucap Glembo merajuk manja pada Sintia.


"Maaf Sayang, aku sekarang sudah mulai bekerja, mungkin aku akan jarang kemari, tapi kita masih bisa teleponan kan?" Sintia berbicara dengan sumringah.


"Hehehe... iya juga yah." Glembo menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Sudah, aku bawakan makanan untuk kamu, kamu mau makan di dalam atau di sini?" tanya Sintia yang menunjuk meja teras rumah Aditya.


"Di sini sajalah." Glembo langsung duduk di kursi, di ikuti Sintia yang ikut duduk juga di samping Glembo.


Aditya yang mau berangkat untuk mengurus masalah perdagangan kota Bibes yang hari ini seharusnya sudah akan kembali Normal, dia berhenti saat melihat Sintia.


"Kapan kamu datang Sin?" tanya Aditya ramah.


"Baru saja datang tadi, kamu mau kemana Dit?"


Sintia tidak memusuhi Aditya sama sekali, di samping dia yang sedang dekat dengan Glembo, tapi dia juga tidak boleh menyangkut pautkan urusan pribadi dengan urusan lainnya. Meskipun Sintia sebenarnya masih jengkel dengan Aditya.


Aditya terlihat mencari-cari seseorang, tapi yang dia cari ternyata tidak ada di sana, hingga akhirnya dia bertanya pada Sintia.


"Mana Rebecca Sin?"


Sintia mengerutkan keningnya "Loh, kamu tidak di beritahu Rebecca memangnya?"


"Di beritahu soal apa?" Aditya merasa bingung, karena Rebecca tidak menghubunginya sama sekali beberapa hari ini.


Sintia menghela napas "Rebecca pergi ke tanah Tiongkok Dit."


"Apa! Kamu serius Sin?" tanya Aditya terkejut.


Sintia menganggukan kepala mantap "dia berangkat setelah pulang dari sini, malam harinya langsung berangkat ke Tiongkok, aku kira dia memberi tahu kamu Dit."


Aditya tertegun, sekarang dia tahu kenapa Rebecca tidak ada kabar sama sekali, ternyata dia benar-benar ingin menghindar darinya.


Aditya hanya bisa menghela napas berat, dia tahu kalau Rebecca pasti sangat sedih dan lebih memilih untuk menjauh darinya.


"Mas, kamu kenapa?" Aliya yang dari dalam sambil membawakan Ponsel Aditya yang tertinggal di menegur suaminya, yang tertegun di depan pintu.


"Ah... Aku tidak apa-apa." jawabnya dengan memaksakan sebuah senyum.


Aliya balas tersenyum "Ini Mas, Ponsel Mas Adit ketinggalan tadi." Aliya menyerahkan ponsel Aditya padanya.

__ADS_1


"Terima kasih sayang." ucap Aditya lembut. Dia kemudian berpamitan pada Glembo dan Sintia "Ndut, Sin aku berangkat dulu yah, kalau butuh apa-apa bilang sama pelayan."


"Sayang aku berangkat dulu yah." Aditya mengecup kening Aliya dan meninggalkan mereka bertiga.


Aliya melambaikan tangannya mengantar kepergian Aditya. Sementara Glembo dan Sintia hanya menatap kepergian Aditya saja.


Aditya seperti biasa di antar pak Tomo yang selalu setia menemaninya kemanapun dia akan pergi.


Sepanjang perjalanan Aditya menatap keluar arah Jendela sambil melamun, dia masih memikirkan Rebecca yang meninggalkannya tanpa pamit.


Tiba-tiba Java memberikan pemberitahuan.


[Ding ]


Misi Terpicu : Taklukan Pimpinan Padepokan Naga Hitam.


Hadiah : 200 Poin peningkatan dan Ajian Pancasona.


Aditya tentu saja terkejut dengan pemberitahuan Tiba-tiba tersebut, padahal beberapa hari ini hidupnya terasa damai.


...***...


Sementara itu di tempat pertemuan yang akan di lakukan Aditya, terlihat Santoso yang sedang bertekuk lutut di hadapan salah seorang yang di takuti di tanah Java.


Wakil walikota meminta bantuan pada padepokan Naga Hitam untuk memberikan pelajaran pada Aditya. Tentu saja karena tujuan padepokan Naga Hitam ingin merebut cincin Java di tangan Aditya.


Aji Darma selaku pimpinan padepokan Naga Hitam langsung setuju, dia sekaligus ingin melihat sudah sejauh kemampuan pemilik Cincin Java.


Bersama dengan Luwito, pimpinan Padepokan Kramat Jati. Aji Darma ingin segera merebut Cincin Java di tangan Aditya.


Wakil walikota terlihat sangat percaya diri, karena kali ini di mendapatkan dukungan yang sangat kuat. Dua ahli ilmu Kanuragan Hebat di tanah Java akan membantunya.


"Sudah hampir lewat setengah jam pertemuan, tapi dia belum datang juga! Apa dia sudah merasa sangat hebat!?"


Suara Aji Darma menggema di kafe tempat pertemuan yang sudah mereka siapkan. Santoso semakin ketakutan saat mendengar seriuan Aji Darma.


tidak ada orang yang datang ke sana selain mereka saja, semuanya sudah di Pesan penuh oleh Walikota, agar tidak ada orang yang mengganggu pertemuan mereka.


"Cih! Baru mendapatkan kekuatan saja sudah sombong seperti ini! Bagaimana jika dia sudah sepenuhnya menguasai Cincin tersebut!" ucap Luwito yang duduk di sebelah Aku Darma ikut geram.


"Karena itulah kita harus segera merebut Cincin Angkara Jaya sesegera mungkin, sebelum dia bertambah menjadi angkuh!" ucap Aji Darma lagi.


Aji Darma sengaja menjelekkan Aditya, agar mereka semua terprovokasi dan semakin ingin membunuh Aditya.


Benar saja semua orang di sana setuju dengan ucapan Aji Darma, mereka semua menelan bulat-bulat omong kosong yang di katakan Aji Darma.


Tak berselang lama, Mobil Aditya datang, di dalam Mobil, Java memberikan peringatan pada Aditya.

__ADS_1


[ Tuan, lebih baik anda hati-hati, di dalam banyak orang yang mengincar anda! ]


Aditya mengerutkan keningnya, dia yang tadinya mau langsung turun dari Mobil mengurungkannya dan melihat ke arah Kafe tersebut.


Benar saja, di sana banyak orang yang berseliweran dengan aneh. mereka seperti bukan pengunjung biasanya.


"Pak Tomo, anda pulanglah lebih dulu."


Aditya tidak ingin melibatkan orang lain yang tidak tahu masalahnya sama sekali, karena itulah dia menyuruh sopirnya untuk pulang.


"Baik tuan, kalau anda sudah selesai dengan urusan Anda, segera hubungi saya kembali." jawab pak Tomo dengan sopan.


Aditya mengangguk, dia kemudian turun dari Mobilnya, dia merapikan pakaiannya, seolah pakaian tersebut sangat lusuh.


"Java, apa yang harus aku lakukan sekarang?" Aditya tidak ingin bertindak ceroboh, karena itulah dia meminta saran pada Java.


[ Tuan, gunakan perubahan seribu wajah milik Rahwana, anda bisa berubah menjadi apa saja yang anda mau! ]


Aditya baru teringat dengan ilmu baru yang dia dapatkan dari misi sebelumnya. Dia mengulas sebuah senyum.


"Kamu memang yang terbaik Java!" tanpa menunggu lagi, Aditya merubah dirinya menjadi transparan, tidak ada orang yang bisa melihatnya, kecuali mereka yang bisa merasakan kehadiran seseorang.


Aditya melakukan perubahan wujud Transparan, karena dia ingin melumpuhkan antek-antek Aji Darma dan Luwito terlebih dahulu, agar nantinya tidak menggangu dirinya yang akan melawan keduanya.


Bag


Bug


Bag


Bug


Aditya membuat pingsan orang-orang yang ada di luar Kafe, karena anak buah Aji Darma dan Luwito hanya ada di luar Kafe.


"Eh... Apa yang terjadi? Kalian kenapa?" seorang anak buah Aji Darma yang melihat teman-temannya bertumbangan dia merasakan ada yang tidak beres.


Arghh


Arghh


Mereka semua bertumbangan satu-persatu, hingga tersisa orang yang tadi bergumam keheranan.


Orang tersebut mau masuk kafe untuk memberikan laporan pada Aji Darma dan Luwito. Namun, Aditya tidak membiarkannya.


Bug


Arghh

__ADS_1


Orang terakhir tumbang, Aditya kembali mengembalikan tubuhnya dengan normal, dia menepukan kedua telapak tangannya, seolah habis selesai melakukan pekerjaan.


"Semuanya beres! Hanya tinggal di dalam saja!"


__ADS_2