
Nabu menatap Aditya saat tuan barunya itu bertanya pada dirinya, dia kemudian terkekeh-kekeh oleh pertanyaan Aditya.
"Hahahaha... Anda pikir aku belut tadi? Saya sudah hidup ribuan tahun, jelas saja saya tahu bahasa manusia."
Suara Nabu terdengar menggema seperti Geraman. Naga emas tersebut melihat ekspresi tuannya yang terlihat masih tidak percaya karena dirinya bisa berbicara.
Aditya menggeleng-gelengkan kepalanya agar tersadar dari keterkejutan-nya.
"Kalau kamu bisa bicara, kenapa dari awal tidak buka suara?" tanya Aditya pada Nabu.
"Anda tidak bertanya, dan tidak ada yang perlu saya bicarakan." jawab Nabu dengan suara beratnya.
Aditya menghela napas "sudahlah, kamu kembali masuk ke dalam keris lagi."
Aditya tidak mau berlama-lama membahas masalah sepele tentang Nabu yang bisa bicara, lebih baik dia segera menyelesaikan tujuannya datang ke tempat tersebut.
Nabu dengan patuh masuk kembali ke dalam keris tempat bersemayamnya. Langit yang tadinya gelap menjadi cerah kembali.
Aditya kemudian menatap Walikota dan Santoso yang sedang tertegun di tempat mereka memerhatikan pertarungan Aditya dengan Aji Darma dan Luwito, yang akhirnya di menangkan Aditya.
Aditya menghampiri kedua orang tersebut dengan tatapan tajam, dia benar-benar marah karena mereka berdua mengingkari janji dan malah ingin melenyapkannya.
"Kalian berdua benar-benar sampah masyarakat! Aku kira kalian tidak perlu lagi melihat indahnya dunia ini!" Aditya berbicara dengan Ketus.
Brugg
Sontak saja kedua orang tersebut langsung bertekuk lutut di hadapan Aditya, mereka berdua merengek minta maaf pada Aditya.
"Tuan Aditya, sebenarnya saya sudah mau menjalankan perintah anda, tapi dia yang memanggil mereka berdua!" Santoso menyalahkan Walikota.
Walikota tidak mau di salahkan "Santoso! Kamu juga menginginkan hal itu buka?! Tidak usah munafik!"
Aditya merasa malas dengan keduanya, dia langsung membuat kedua orang tersebut cacat dengan mematahkan kaki dan tangannya.
Mereka berdua seketika langsung jatuh pingsan, karena tidak bisa menahan rasa sakit karena tulang dan kaki mereka di patahkan Aditya.
Aditya menghela napas, dia menatap kedua orang yang terkapar di depannya tersebut "sekarang aku harus mencari orang lain yang bisa menghandle pekerjaan ini. Ah... Andai saja ada Rebecca di sini, pasti dia akan dengan mudah mencarikan orang yang bisa aku andalkan."
Aditya teringat dengan Rebecca yang selalu ada dan membantunya setiap saat, dia sadar telah melakukan sebuah kesalahan. Namun, Aditya sadar jika Rebecca mungkin sudah membencinya.
Aditya pergi dari tempat tersebut, dia sengaja tidak menghubungi pak Tomo, karena dia ingin berjalan-jalan terlebih dahulu.
__ADS_1
[Ding ]
Misi selesai : Taklukan Pimpinan Padepokan Naga Hitam.
Selamata anda mendapatkan Hadiah : 200 Poin peningkatan dan Ajian Pancasona.
Aditya berhenti berjalan saat Java memberikan pemberitahuan, dia melihat hadiah yang di dapatkan-nya.
"Lumayan banyak juga poinnya, aku tingkattan status nanti sajalah." gumam Aditya yang kembali melanjutkan berjalan.
...***...
Sementara itu di tanah Tiongkok, Rebecca yang sedang berada di meja kerjanya, dia terlihat sedang serius membaca berkas-berkas yang ada di depannya.
Rebecca mengerutkan keningnya saat ada berkas kerja sama dari tanah Java, lebih tepatnya dari Kota Bibes yang menawarkan hasil buminya.
"Kenapa bisa ada berkas kerjasama dengan kota Bibes? Siapa yang mengirim berkas ini kemari?"
Rebecca merasa heran, pasalnya sejak kapan kota Bibes sedang melakukan kerjasama dengan luar tanah Java.
Rebecca langsung menelpon sekretarisnya untuk mencari tahu siapa yang mengirim berkas tersebut.
Tidak berselang lama, sekretaris Rebecca datang "permisi Nona Le."
Sekretaris Rebecca mengangguk, dia langsung menghampiri Kursi dan duduk di sana.
"Ada apa yah Nona Le?" tanya Sekretaris Rebecca dengan sopan.
"Kerjasama dari tanah Java ini siapa yang mengirimnya?" tanya Rebecca tanpa berbasa-basi terlebih dahulu.
"Oh itu, kebetulan Taipan baru di sana mengajukan kerjasama tersebut Nona Le." jawab Sekretaris Rebecca dengan lembut.
"Taipan baru?" beo Rebecca penasaran.
"Benar Nona Le, Taipan tersebut berani menggelontorkan dana yang tidak main-main, saya rasa tidak ada salahnya kita bekerja sama dengannya Nona Le."
Rebecca langsung tertegun, pikirannya langsung tertuju pada Aditya, karena di kota Bibes hanya Aditya yang bisa melakukan hal tersebut.
Rebecca langsung meneliti berkas tersebut dengan cermat, benar saja di sana ada nama Aditya Nugroho yang menjadi penanggung jawab atas berkas tersebut.
Rebecca langsung linglung saat melihat nama Aditya, tujuannya ke Tiongkok untuk menghindari Aditya, tapi kenyataannya dia malah akan bekerja sama dengannya lagi.
__ADS_1
"Nona, Nona Le? Apa ada masalah dengan kontraknya?" tegur sekretaris Rebecca yang melihat atasannya itu tertegu.
"Eh... tidak! Kamu boleh pergi." Rebecca menyuruh bawahannya itu untuk meninggalkan ruangan tersebut.
Sekretaris Rebecca langsung meninggalkan ruangan Bosnya, dia pamit undur diri dengan sopan.
Selepas kepergian Sekretarisnya, Rebecca langsung menyenderkan tubuhnya di kursi, dia memijat pangkal hidungnya, karena ternyata urusan dia dengan Aditya tidak akan selesai cuma sampai di situ saja.
"Kenapa kamu seolah muncul di setiap kegiatanku Dit! Aku harus bagaimana sekarang? Kalau kaya gini aku tidak bisa melupakan kamu Dit."
Rebecca terlihat sangat sedih, dia yang ingin menjauh dengan Aditya malah harus bekerja sama lagi dengannya, perasaannya seolah di permainkan oleh takdir saja.
Rebecca menghela napas "sudahlah, lebih baik aku jalani saja, apa yang sedang terjadi, untuk urusan kedepannya, biarkan waktu yang menjawabnya."
Rebecca masih berharap pada Aditya. Namun, dia tidak ingin menjadi perusak rumah tangga orang. Karena itulah Rebecca dalam dilema, apa lagi sekarang harus bekerja sama dengan Aditya kembali, dia sangat yakin kalau dirinya akan semakin terbayang-bayang dengan Aditya.
...***...
Sementara itu di padepokan macan kumbang, Liam sedang berbicara dengan seorang yang bisa menghandle masalah perdagangan hasil Bumi kota Brebes.
Liam sudah tahu apa yang di inginkan Aditya untuk membangun Kota Bibes, jadi dia sebisa mungkin untuk membantu Aditya.
Ya, semua yang mengirimkan berkas-berkas tersebut atas nama Aditya adalah Liam dan orang tersebut.
Untuk dana yang di gelontorkan, Liam menggunakan uang yang selama ini dia kumpulkan dari usahanya selama ini yang meliputi, Padepokan serta perusahaan kecil di Kota Bibes.
Liam sebenarnya sangat cerdas, dia tahu kalau suatu saat nanti akan ada masanya padepokan tidak akan berjaya lagi, oleh karena itulah dia memiliki beberapa perusahaan sendiri meski kecil.
Bukan hanya Liam saja, setiap pemimpin Padepokan memiliki perusahaan sendiri, mereka semua sudah berjaga-jaga dengan kemungkinan terburuk yang akan terjadi nantinya.
"Tuan Rajasa, saya sudah mengirim berkas-berkas ke Tiongkok, sekarang kita hanya tinggal menunggu perusahaan tersebut mau menerima kerja sama kita saja." Remon, orang kepercayaan Liam buka suara.
"Bagus, semoga saja semuanya berjalan lancar seperti yang aku inginkan." jawab Liam dengan senyum cerah.
"Saya harap juga begitu Tuan, tapi Tuan, apa anda tidak akan memberitahu tuan Aditya langsung?" tanya Remon penasaran.
"Nanti saja, tunggu kerja samanya di terima, aku ingin memberikannya untuk hadiah pernikahan anakku dengan dia."
Remon mengangguk mengerti, Liam ingin membuat Aditya percaya padanya, jadi dia ingin membuat kejutan untuk menantunya tersebut.
Liam terlihat senyum-senyum sendiri, kali ini dia yakin kalau Aditya akan mengakuinya sebagai Ayah mertuanya, dan tidak bersikap dingin lagi.
__ADS_1
Remon yang melihat Liam seperti itu, dia hanya menggelengkan kepalanya tidak berdaya, orang yang selama ini selalu cuek dengan masalah perusahaan, sekarang dia sangat bersemangat untuk menyenangkan menantunya.