
Aditya dan Glembo langsung beranjak dari rebahannya, mereka berdua melihat siapa yang datang.
Aditya menghela napas saat melihat siapa yang datang. Bunga Desa yang gemar memakai pakaian minim, siapa lagi bukan Vivi Raharjo, anak Mugimin Raharjo.
"Dit, aku bawa cadil ( jajanan Khas Jawa ) buatanku sendiri untuk kamu." Vivi menunjukan rantang yang dia tenteng.
"Di sini juga banyak makanan Vivi, tidak perlu kamu bawa makanan terus kalau kemari." ucap Aditya malas.
"Kalau Aditya tidak mau, buat aku saja." Glembo mau langsung menyambar rantang yang Vivi pegang. Tapi Vivi tidak memberikannya.
"Ini buat Adit Glembo!" Vivi mengerucutkan bibirnya.
Glembo terlihat sedih, karena dia tidak seperti Aditya yang mendapatkan perhatian dari orang lain.
"Kakak, ini saja." tiba-tiba suara yang tidak asing terdengar di telinga Glembo.
"Gali! Kamu kesini sama siapa?" Glembo langsung menghampiri adiknya yang membawa rantang makanan juga, tapi isinya bukan cadil, melainkan makanan yang penuh serat.
"Ayah, Ibu Kak, mereka ada di bawah, tidak berani naik ke sini." jawab Gali dengan semangat.
Gali melihat ke arah Aditya "Kak Adit, Ayah dan Ibu ingin ngobrol dengan kakak katanya."
__ADS_1
Gali langsung menyampaikan maksud tujuan dia kemari bersama orang tuanya, karena mereka memang ingin bertemu dengan Aditya.
Aditya beranjak dari tempat tidurnya "Ya sudah, kakak akan menemui orang tua kamu." Aditya keluar dari kamarnya.
Vivi yang di lewati Aditya begitu saja, dia merasa kesal, karena Aditya tidak meliriknya sama sekali. Namun, dia tidak mau menyerah begitu saja, Vivi mengekori Aditya ikut menemui orang tua Glembo.
Kedua orang tua Glembo terlihat duduk di lantai, mereka berdua tidak berani duduk di sofa mahal Aditya.
"Loh, Om, Tante kok duduknya di bawah, Ayo pindah ke atas." ajak Aditya pada mereka berdua.
Parno dan Romlah, terlihat tersenyum senang, ternyata Aditya yang mereka kenal masih belum berubah. Masih tetap rendah hati meski sudah memiliki segalanya.
"Ada apa ya, Om, Tante?" Aditya langsung bertanya ketika mereka semua sudah duduk di sofa.
Aditya yang melihat hal itu, dia menggelengkan kepalanya, Aditya tahu kalau keduanya merasa sungkan berbicara dengannya yang sekarang.
"Om, Tante, Adit masih sama seperti dulu, Om dan Tante tidak perlu banyak berpikir, kalian berdua sudah Adit anggap seperti orang tua sendiri." perkataan Aditya jelas membuat kedua orang Paruh baya tersebut merasa terharu.
"Kamu memang anak yang baik Dit" Romlah buka suara sambil menghapus air matanya yang tiba-tiba menetes.
"Tante, sekarang ceritakan ada apa sebenarnya? Kenapa kalian tumben datang kemari?" tanya Aditya dengan Lembut.
__ADS_1
Vivi yang ada di samping Aditya, dia tidak berkata-kata sama sekali dan hanya menyimak pembicaraan mereka saja.
"Begini Dit, kemarin para warga datang ke rumah kami, karena tidak berani bertanya langsung pada kamu." Parno buka suara.
"Bertanya apa Om?"
Parno menghela napas "sebenarnya aku gak enak sama kamu, tapi para warga menyuruh kami menjadi jembatan antara kami dan kamu, mereka ingin menanyakan apakah bisa hasil panen mereka di kelola kamu saja, karena kamu kan sekarang mengenal orang-orang hebat, mereka pikir kamu bisa mengelola hasil panen kita dengan bijak."
Parno melirik ekspresi Aditya seperti apa, dia takut kalau Aditya akan marah dengan tuntutan warga yang seolah egois itu, tapi Aditya malah tersenyum.
"Kirain Apa paman." Aditya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum. Dia kemudian buka suara lagi "Aku juga sudah punya rencana ke situ nantinya, tapi untuk sekarang aku sedang fokus membangun fasilitasnya dulu, agar nanti hasil panen kampung Karbal bisa di kelola dengan maksimal."
"Jadi kamu setuju Dit?!" tanya Parno bersemangat.
Aditya mengangguk "Aku setuju Paman, bilang pada warga Kampung, nantinya juga akan ada wisatawan yang datang kemari kalau semua jalanan dan fasilitas sudah memadai, mereka bisa menjual hasil panen di jalan juga. Aku ingin kampung Karbal bisa menjadi kampung idaman untuk semua orang."
"Tentu saja Dit! Paman pasti akan memberitahu mereka, terima kasih Dit, karena sudah mau mewujudkan impian egois kami." Parno membungkuk hormat langsung pada Aditya.
Aditya menanggapinya dengan seulas senyum manis. Mereka kemudian ngobrol-ngobrol sebentar sebelum akhirnya kedua orang tua Glembo pulang.
Gali yang baru pertama kali main ke rumah Aditya, dia tidak mau pulang, karena senang bermain di sana bersama Glembo.
__ADS_1
Aditya tentu saja mengijinkan Gali tinggal di sana, karena mau bagaimana pun, dia juga sudah anggap Adit sebagai adiknya sendiri.