
Sekar Ayu, ia merupakan anak bungsu dari Permaisuri Angkara jaya.
Dulu ketika perang berlangsung, Angkara jaya membawa lari Permaisuri dan anak bungsunya. Mereka melarikan diri menggunakan kuda hingga sampai di gunung Suplawan.
Awalnya tidak ada yang mengetahui mereka ada di sana. Namun, seiring berjalannya waktu, keberadaan mereka diketahui musuh-musuh Angkara jaya, hingga akhirnya ia memutuskan untuk menyegel putrinya, karena kekuatannya hanya bisa menyegel Sekar saja. Permaisuri setuju dengan hal tersebut.
Permaisuri pun tewas dihadapan Angkara Jaya, tapi pria itu hanya bisa menyimpan amarahnya mengingat ia juga tidak bisa melawan musuh yang begitu banyak.
Angkara Jaya di bawa ke gunung kumbang, tepatnya dalam goa tempat Aditya bertemu dengannya, pria itu tidak langsung di bunuh, melainkan di siksa terlebih dahulu di sana.
Angkara jaya yang sudah tahu kalau dirinya pasti akan mati cepat atau lambat, ia menyegel energi spiritual terakhirnya ditempat tersebut. Hingga akhirnya pria itu tewas di sana dengan sangat mengenaskan, bahkan tubuhnya di kuliti hidup-hidup oleh musuhnya, matanya di congkel keluar, dan jari-jarinya dipotong satu persatu, bahkan *********** juga ikut di potong.
Dalam proses penyiksaan tersebut, Angkara Jaya masih hidup, ia merasakan rasa sakit yang di deritanya ketika mengalami penyiksaan tersebut, mengingat dirinya orang yang sangat sakti. Namun, sesakti apa pun Angkara jaya, ia tetap lah manusia, hingga tidak bisa bertahan lagi, apa lagi energi spiritualnya sudah ia gunakan banyak untuk menyegel putrinya.
Dan kenapa Sekar bisa kembali ke gunung kumbang, awalnya ia otomatis kembali ke gunung Suplawan ketika cincin tempatnya tinggal terlepas dari Aditya.
Sekar yang sudah memiliki perubahan wujud berupa ular putih, ia pikir kalau Aditya sudah tidak membutuhkannya, karena itulah ia kembali ke gunung kumbang dan bereuni dengan Ayahnya walau hanya dalam bentuk energi spiritual saja.
Sekar sudah tidak perduli dengan Aditya, karena selama setahun kebelakang, pria itu tidak mencarinya lagi. Karena itu juga wanita tersebut marah dengan Aditya. Namun, yang tidak di ketahui Sekar, kalau Aditya belum sepenuhnya mengerti tenang energi spiritual dalam tubuhnya, karena itulah pria itu di kira tidak mencarinya, padahal selama ini ia mencari Sekar setiap hari.
...***...
__ADS_1
Aditya, Sekar dan Glembo berada di kaki gunung kumbang.
Aditya menaruh sahabatnya itu bersandar di sebuah pohon, ia kemudian menatap Sekar yang penampilannya masih mengenakan pakaian adat kerajaan.
"Kenapa lihat-lihat, apa ada yang aneh denganku?" tanya Sekar yang tampak masih kesal.
Aditya menggelengkan kepalanya. "Tidak ada yang aneh, hanya saja umur kamu sudah seribu tahun lebih, tapi masih terlihat sangat cantik," ucapnya sambil tersenyum.
"Adit! Aku masih dua puluh tahun waktu di segel Ayah, ih...." Sekar menghentak-hentakan kakinya, merajuk seperti anak kecil.
"Hehehe... iya-iya, aku tahu kok kamu masih muda, jangan marah-marah terus nanti wajah kamu cepat keriput," godanya sambil mencubit dagu Sekar.
Sekar memanyunkan bibirnya, ia membuang muka dari Aditya, melihat tingkah Sekar, ia yakin kalau gadis itu memang masih muda.
"A-du-duh, pening sekali nih kepala," gumamnya lirih.
"Kamu sudah bangun Ndut, ayo bangun, kita pulang!" ajak Aditya langsung.
"Nanti dulu Dit, rohku belum kembali semua, eh... kok tiba-tiba aku ada di sini?" tanya Glembo bingung, kemudian ia melihat Sekar, ia mengucek matanya. "Dit, ada Jurig cantik."
"Jurig-jurig, kamu yang jurig!" bentak Sekar.
__ADS_1
Aditya tersenyum. "Dia calon ketiga ku," ucapnya sambil menaik turunkan alisnya.
"Hah!" Glembo melebarkan rahangnya terkejut.
Aditya menghela napas, ia kemudian mengajak Glembo untuk berdiri, dan akan menceritakan semuanya nanti di rumah.
Glembo yang tidak suka menyangkal perkataan sahabatnya itu, ia mengangguk mengerti, mereka pun menuju tempat motor mereka di titipkan. Namun, ketika sampai di sana, mereka berdua baru mengingat kalau hanya membawa satu motor saja.
"Dit, kita cuma bawa satu motor saja, masa mau bonceng bertiga?" tanya Glembo memastikan.
"Kalau begitu kamu jalan kaki saja, lumayan tuh kalau sampai ke rumah pasti kurus," jawab Aditya santai.
"Sialan, yang ada aku pingsan di jalan!" gerutu Glembo kesal.
Aditya tersenyum simpul, ia kemudian menghampiri pemilik rumah, bernegosiasi untuk mengantar mereka ke rumah, tentu saja yang mengantar akan di bayar.
Pemilik Rumah setuju, akhirnya mereka bisa pulang. Aditya membawa motor Glembo membonceng Sekar, sementara Glembo ikut dengan pemilik rumah.
Didalam perjalanan Sekar yang baru pertama kali naik motor, ia memeluk Erat Aditya dari belakang, tampak wanita itu sangat senang, akhirnya memiliki keluarga lagi, setelah sekian lama menunggu.
Aku harap kamu bisa akur dengan kedua istriku yang lain Sekar, mengingat kamu seorang putri, aku takut kamu tidak bisa mengerti pemikiran mereka.
__ADS_1
Aditya memegang tangan Sekar yang melingkar di pinggangnya, gadis itu merasakan kehangatan yang selama ini sempat hilang, ia semakin mengeratkan pelukannya sambil tersenyum simpul