
Sementara Sultan berencana menyerang Aditya dengan kekuatan penuhnya. Aditya malah berangkat ke hutan Jati, guna mencari senjata yang di bilang Java.
Perjalanan Aditya tidak ada hambatan sama sekali, karena hutan jati memang masih ada di wilayah kota Bibes.
[Tuan, berhenti di sini saja, dari sini kita lebih dekat dengan senjata itu!]
Java menegur tiba-tiba, ketika mereka baru masuk beberapa puluh meter di hutan Jati.
"Pak Berhenti!" perintah Aditya kepada sopirnya.
Sopir menurut, ia langsung menghentikan mobilnya. "Tuan, anda yakin berhenti di sini?" tanyanya memastikan.
"Ya, kamu pulanglah, aku akan lama di sini," jawab Aditya seraya turun dari mobil.
Sopir terkejut, ia bergegas turun dari mobil menghampiri Aditya. "Tuan, and yakin mau ditinggal di sini sendirian?" tanyanya memastikan.
"Kamu meragukan perkataan ku?" Aditya balik bertanya.
"Bu-Bukan begitu tuan, tapi kalau saya pulang tanpa anda, apa yang harus saya katakan kepada istri anda?" jawabnya tidak berdaya.
Aditya menepuk jidatnya, ia lupa kalau sopirnya bisa dimarahi Rebecca yang notabenya tidak tahu tentang energi spiritual.
Aditya menghela napas. "Begini saja, kamu pulang ke rumah keluarga mu terlebih dahulu, selama aku belum menelpon, kamu jangan pulang ke rumahku," ucapnya lembut.
"Baik tuan," sopir terlihat lebih sedikit tenang ketika Aditya berbicara seperti itu.
Sopir kembali masuk ke dalam mobil, ia kemudian meninggalkan Aditya sendirian di hutan Jati.
__ADS_1
Aditya mengikuti petunjuk Java untuk mendapatkan senjata yang memang dicarinya di hutan tersebut.
Semakin Aditya masuk kedalam hutan Jati, energi spiritual yang berada di sana semakin pekat, sehingga pria itu waspada jika ada sesuatu yang akan menyerangnya.
Benar saja mulai terlihat sosok hantu penasaran yang ada di hutan tersebut, mereka semua reflek mendekat ke arah Aditya.
[ Tuan lebih baik anda keluarkan Cakra, agar tidak ada yang berani mengganggu anda di sini.]
Java memberikan saran kepada tuannya itu, agar ia tidak bentrok dengan hantu-hantu penghuni hutan Jati.
Aditya mengangguk mengerti, ia mengeluarkan keris Naga Pati dan mengeluarkan Cakra. Ular hitam raksasa tersebut keluar dari keris Naga Pati dan benar saja para arwah penasaran tersebut langsung menjauh dari Aditya ketika Cakra muncul.
"Salam tuan, ada apa gerangan anda me...." suara Cakra tercekat ketika ia merasakan keberadaan energi spiritual rekannya yang terasa begitu dekat. "Tuan, ini Banas Pati!" teriak Cakra langsung.
"Kamu mengenal energi spiritual ini?" tanya Aditya memastikan.
Aditya mengangguk. "Ya, aku memang ingin membawanya, bantu aku untuk meyakinkannya!" perintahnya tegas.
Cakra tersenyum getir. "Tuan, sebenarnya di antara kami, hanya dia yang keras kepala, sesuai dengan wujudnya yang menyimbolkan kesombongan," ucapnya tidak berdaya.
"Kamu jangan khawatir, kita akan meyakinkannya bersama, ayo jalan!" perintah Aditya kepada Cakra.
Sosok ular hitam tersebut mengangguk mengerti. Ia menyuruh Aditya naik ke atas kepalanya, sebelum akhirnya mereka melanjutkan perjalanan mencari Banas Pati.
Aditya dan Cakra semakin masuk kedalam hutan Jati, energi spiritual Banas Pati semakin terasa, bahkan hawa panas di wilayah tersebut semakin terasa.
"Kita sudah dekat tuan, bersiaplah," ucap Cakra yakin.
__ADS_1
Aditya mengangguk. Mereka berdua semakin mendekat ke Banas Pati, ketika sudah dekat dengan sosok tersebut, Aditya menatapnya kagum.
Terlihat sosok berukuran raksasa dengan tubuh seluruhnya diselimuti Api. Aditya merasa tempat itu semakin panas saja.
"Ternyata kamu masih hidup Cakra!" raung Banas Pati yang ternyata mengetahui kedatangan Aditya dan Cakra.
"Kamu pikir aku akan mati dengan mudah?" jawab Cakra.
"Hahahaha... apa sekarang manusia itu majikanmu?" tanya Banas Pati mengejek.
"Tertawakan sepuas mu, kamu akan tahu siapa beliau ini!" bentak Cakra.
Aditya yang dari tadi diam, ia turun dari kepala Cakra dan mendekat ke arah Banas Pati, sontak saja sosok tersebut sangat marah.
"Berani sekali kau mendekat ke arahku manusia!" raungnya marah sambil mengeluarkan api dari tangannya ke arah Aditya.
Aditya menatap tajam Banas Pati, ia tidak menghindar sama sekali dari serangan Api yang di buat Banas Pati.
Blarrr
Tubuh Aditya terbakar api tersebut. Banas Pati tertawa senang, ia mengira kalau Aditya pasti akan tewas terbakar oleh apinya. Namun, sesaat kemudian tawanya langsung redup ketika Aditya ternyata tidak apa-apa walaupun sudah dibakar apinya.
Bahkan sehelai rambut Aditya tidak terbakar sehelai pun oleh serangan Banas Pati yang notabenya bisa membakar hangus tubuh manusia.
Cakra hanya menyaksikan hal tersebut dari jauh sambil tersenyum simpul, ia sangat yakin kalau tuannya tidak mungkin bisa di kalahkan oleh rekannya itu.
Banas Pati menatap heran Aditya, ia menatapnya lekat-lekat manusia dihadapannya. Matanya membelalak lebar ketika menyadari kalau energi sihir Aditya sama dengan tuannya yang dulu.
__ADS_1