
Pedang yang menancap di perut Aditya terlihat sangat mengerikan. Orang yang yang menusuk Aditya juga merasa senang karena berhasil melukai pria itu.
Aditya menatap tidak berdaya dirinya, dia merasa dunia akan berakhir sampai di situ saja.
[ Pemilik dalam bahaya! Peningkatan Atribut di naikkan secara paksa! ... 20%... 40%... 60%... 80%... 100%]
Tubuh Aditya langsung memanas ketika peningkatan Atribut secara paksa itu.
Pedang yang menghunus menusuk tubuh Aditya meleleh karena suhu badan Aditya yang melebihi panas sinar matahari.
Orang yang menusuknya langsung terbakar dan hangus menjadi debu, tanpa tersisa sama sekali.
Tubuh Aditya yang tadi menyala seperti Api perlahan normal kembali, dia membuka matanya. terlihat seperti kobaran Api kecil di matanya.
[ Peningkatan Berhasil! ]
.[ Status ]
Koin Emas : 999.999.999.895 keping
Nama : Aditya Nugroho
Umur : 20 tahun
Tinggi : 185 cm.
Masa Otot : 15
Kecerdasan : 15
Kelincahan : 15
Vitalitas :24
Kemampuan kusus :
Tubuh Gatotkaca
Kecerdasan Dewa Brahma
Toko System level 1:
Panah Arjuna (100 poin)
Gada Bima ( 100 poin )
Penyimpanan ruang : _
Poin Peningkatan : 0 ]
Java sengaja meningkatkan vitalitas Aditya, tujuannya agar tubuh Aditya bisa beregenerasi. Semakin tinggi vitalitas Aditya semakin cepat pula kemampuan regenerasi-nya.
Aditya langsung menggunakan kelincahannya, seiring berjalannya waktu dia sudah mulai mengetahui cara bertarung. Hanya dengan melihat saja dia sudah menguasai teknik bertarung Padepokan Kliwung dengan Khas pedang pipihnya.
Aditya mengambil pedang yang jatuh, para anak buah terkejut karena Aditya berhasil selamat dari tusukan pedang yang menembus tubuh.
Swuzz
Pral
Pral
__ADS_1
Aditya bertarung layaknya pendekar pedang yang sudah mahir, dengan kelincahannya, dia berhasil menumbangkan beberapa anak buah Darman.
Anak buah Darman dibuat ketakutan dengan kemampuan Aditya yang tiba-tiba berubah, padahal tadi dia tidak bisa menggunakan ilmu beladiri sama sekali.
Sementara itu, Java yang mengendalikan Siluman ular putih masih bertarung dengan para khodam mereka.
Java menyabetkan ekornya, Khodam yang terkena serangan Java terhempas puluhan meter ke belakang. Namun, karena mereka bangsa Jin tentu saja tidak mudah di tumbangkan. Mereka bangkit kembali menerjang Java.
Ekor Java di pegang Jin hijau Kembar milik Darman. Java tidak bisa bergerak, dia hanya bisa mendesis, meraung membuka mulutnya dengan lebar.
Khodam kuda menghampiri Java, dia mau menendang Java. Namun, Java menggigit kepalanya hingga dia lenyap seketika.
Jin Hijau kembar mengayunkan pedangnya dan menusuk ekor Java. Sontak saja Java meraung kesakitan, dia langsung menyerang dengan kepalanya secara membabi buta.
Duak
Duak
Pral
Leher Java tertebas oleh Jin hijau Kembar milik Darman, seketika ular putih tersebut langsung menghilang.
Di tempat Aditya dia memuntahkan seteguk darah, karena siluman ular putihnya berhasil di kalahkan.
[ Maaf tuan, saya hanya bisa membantu sampai di sini, butuh waktu satu Minggu untuk memulihkan siluman Ular putih itu lagi! ]
Java memberikan pemberitahuan pada Aditya agar dia waspada, karena sekarang hanya dia yang akan melawan para khodam dan anggotanya Padepokan Kliwung.
Aditya mengangguk mengerti, dia menyeka darah yang ada di sudut bibirnya sambil menatap tajam anggota Padepokan Kliwung yang hanya tersisa dua puluh orang dan Darman saja.
"Hahahaha... Menyerahlah Bocah! Sekarang tidak ada yang membantumu lagi!" ejek Darman pada Aditya.
"Kamu pikir aku takut dengan kalian? Jangan mimpi!" Aditya menerjang dengan kecepatan penuh.
Slas
Slas
Arghh
Beberapa orang bertumbangan setelah Aditya menyayat mereka menggunakan pedangnya.
Tidak sampai di situ, Aditya terus menyerang tanpa rasa takut sama sekali. Darman sangat jengkel karena Aditya malah semakin ganas saja, dia menyuruh anak buah tersisanya untuk menyerang Aditya secara bersamaan.
Duak
Bruakk
Aditya terkena pukulan Khodam Jin hijau, dia terhempas puluhan meter hingga mengenai waru doyong tempat mbak Kunti berada.
"Hihihi... Hihihi.... " Suara yang tidak asing di telinga Aditya membuatnya langsung mendongak ke atas.
Benar saja mbak Kunti sedang duduk sambil menatapnya, dengan terkikik terus menerus.
Aditya menghela napas. "Aku kira setan tidak pake ****** *****," keluhnya.
Entah kenapa mbak Kunti seperti orang hidup saja, dia langsung berhenti terkikik dan menutupi celah sakralnya, seolah malu dan mengerti apa yang Aditya pikirkan.
"Manusia terkutuk!" dengus mbak Kunti ketus dan terbang menghilang dari atas Aditya.
Aditya tersenyum getir, mungkin hanya dia yang melihat jurig bisa malu seperti itu. Dia kembali menatap Darman.
__ADS_1
Baru saja dia menatap, hantaman Khodam yang sudah menyerangnya, mengenai telak Aditya.
Duak
Bruak
Lagi-lagi Aditya terhempas puluhan meter dan menabrak pohon lainnya. Aditya langsung bangkit kembali.
[ Tuan, fokuskan kekuatan anda pada pedang yang anda pegang! ]
Java buka suara kembali, dia tidak ingin tuannya kalah begitu saja oleh kelompok Darman.
Aditya mengangguk mengerti, dia memfokuskan kekuatannya pada pedang yang di pegang, cahaya putih membalut pedang yang di pegang Aditya.
Para Khodam menerjang ke arah Aditya kembali. Aditya tersenyum dia memasang kuda-kuda menebaskan pedangnya ke arah mereka.
Siluet tebasan pedang dengan bentuk bulan sabit meluncur deras ke arah para Khodam yang menyerang Aditya.
Pral
Pral
Pral
Khodam yang menerjang ke arah Aditya terpotong menjadi dua, mereka semua langsung menghilang. Pemanggil Khodam langsung memuntahkan seteguk darah.
Kini hanya tersisa Khodam milik Darman saja yang masih berdiri tegak di hadapan tuannya itu.
"Bedebah! Aku akan membunuhmu, Bocah!" Darman dan dua Khodam-nya menyerang secara bersamaan.
Aditya tidak takut sama sekali, dia masih berdiri di tempatnya tidak bergerak sama sekali. Ketika Khodam dan Darman sudah smdekat. Aditya langsung menebaskan pedang tersebut pada Darman dan dua Khodamnya.
Trang
Sabetan pedang Aditya bisa di tahan oleh kedua pedang Jin hijau Kembar milik Darman. Namun, Aditya tidak tinggal diam, dia kembali mengayunkan pedangnya, tapi kali ini dia mengincar salah satu dari mereka.
Slas
Pral
Brug
Satu Jin tumbang dengan kepala terpotong, seketika dia tumbang dan tinggal satu Jin lagi yang terlihat sangat marah karena saudaranya kalah.
Darman memuntahkan seteguk darah ketika salah satu Khodamnya tumbang, dia tidak menyangka kalau Aditya bisa mengalahkannya seorang diri.
Trang
Trang
Pedang Kecil Aditya beradu dengan pedang besar Khodam Darman, suara benturan pedang terus terdengar. Meskipun Khodam Darman besar tapi dia masih bisa mengimbangi Aditya.
Darman merasa jengkel, Aditya tidak kunjung juga di kalahkan oleh Khodamnya. Dia bersiap untuk menyerang Aditya.
"Matilah Kamu ba....!" Belum selesai Darman selesai bicara, sebuah Balok besar menghantam belakang kepalanya hingga dia langsung jatuh terkapar dan pingsan di tanah.
"Berani kamu menyakiti sahabatku! Aku tidak akan tinggal diam!" Glembo terlihat memegang batangan Kayu dua cekapan tangannya.
Khodam Darman menghilang, sehingga membuat Aditya terkejut, dia langsung melihat ke arah Darman.
Betapa terkejutnya Aditya ketika melihat Glembo yang memegang sebatang kayu dan bersungut-sungut memarahi Darman yang tergeletak di tanah.
__ADS_1