Java System

Java System
Rebecca Mengalah


__ADS_3

Rebecca menangis tersedu-sedu sambil memukuli dada Aditya, hingga akhirnya dia selesai dan menangkupkan wajahnya di dada Aditya.


Suara tangisannya semakin kencang, Rebecca yang terlihat kuat sudah tidak ada, di sana hanya ada Rebecca yang rapuh.


Rebecca yang patah hati, dia yang baru menyukai Pria harus menelan pil pahit karena pria yang di sukainya, telah memiliki wanita lain.


Sintia yang melihat sahabatnya seperti itu, dia sangat sedih. Tidak pernah dia melihat Rebecca yang seperti itu.


Aditya memeluk Rebecca, dia mengusap kepala wanita yang selama ini menuntun-nya menjadi orang yang lebih baik lagi.


Suara Isak tangis Rebecca masih belum berhenti. Aditya juga belum buka suara, dia ingin menenangkan wanita itu terlebih dahulu.


Setelah Rebecca tenang, Aditya baru buka suara "Aku tahu ini semua berat Rebecca, tapi Aku juga harus bertanggung jawab atas perbuatan yang telah aku lakukan. Kita masih bisa menjadi teman, walaupun mungkin tidak akanbseperti yang dulu lagi, setidaknya kita masih memiliki sebuah hubungan."


Aditya memegang kedua bahu Rebecca, dia menatap wajah rapuh wanita yang sebenarnya mulai ada di hatinya. Tangannya beralih ke pipi Rebecca, menghapus bulir bening yang dari tadi membasahi pipi wanita itu.


Rebecca masih terisak-isak, tapi dia sudah mulai sedikit menerima sebuah kenyataan pahit yang sedang dia alaminya.


"Dit, kenapa kamu tidak bilang padaku kalau sudah memiliki calon istri?" tanya Rebecca dengan suara parau.


Aditya mengehela napas berat, dia tidak mungkin mengatakan kalau dirinya tidak bisa menahan napsu dan merenggut mahkota Aliya.


"Kami bertemu tidak sengaja, tapi mungkin karena jodoh dari sang pencipta makanya kami bisa menikah. Maaf Rebecca sebelumnya aku tidak mengatakan ini padamu. tapi ketahuilah kamu wanita yang baik, suatu hari nanti pasti akan dapat orang yang lebih baik dari aku."


Rebecca memeluk Aditya lagi, tentu saja Aditya terkejut, karena dia pikir Rebecca tidak akan bisa melepaskan dirinya.


"Ijinkan aku melakukan ini yang terakhir kali Dit, setelah ini aku janji tidak akan menggangu dirimu lagi."


Perasaan Aditya terasa terkoyak, dia yakin Rebecca terpaksa mengeluarkan kata-kata itu. Aditya hanya bisa membalas pelukan Rebecca tanpa berkata-kata.


Setelah beberapa saat, Rebecca melepaskan pelukan Aditya, dia memaksakan sebuah senyum saat lepas dari pelukan Aditya.


"Dit, mulai hari ini mungkin aku tidak akan datang kemari lagi, jaga baik-baik dirimu dan istri kamu." ucapnya sambil memasuki mobilnya.


Sintia juga langsung masuk ke dalam Mobil, dia tidak mau temannya tersebut bersedih sendirian.

__ADS_1


Aditya hanya bisa menatap nanar kepergian Mobil Rebecca, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi, tapi setidaknya dia sudah berkata jujur pada Rebecca.


Aditya kembali memasuki rumahnya, terlihat Glembo dan Aliya sedang menunggu di depan Pintu. Aliya yang melihat wajah sendu suaminya, dia merasa sedikit bersalah, karena tampaknya Aditya begitu mencintai Rebecca.


"Dit, kenapa Rebecca dan Sintia pulang?" tanya Glembo saat Aditya sudah ada di depan mereka.


Aditya tidak menjawab pertanyaan Glembo, dia menggandeng Aliya dan membawanya ke kamar miliknya.


Glembo tidak bisa menebak situasi dengan baik, dia merasa bingung saat Aditya tidak menjawab pertanyaannya, padahal biasanya walaupun marah, Aditya akan selalu menjawab pertanyaannya.


Glembo tidak mengejar Aditya dan Aliya, dia tahu kalau sahabatnya tersebut sedang marah, tapi entah marah dengan siapa.


Setelah Aditya dan Aliya masuk kamar, Aliya buka suara "Sayang, kalau kamu mencintainya, kenapa melepaskannya?"


Aditya membuka kancing kerah bajunya yang terasa mencekik leher, dia duduk di tempat tidur lalu menghela napas "Aku tidak ingin menyakiti istriku." jawab Aditya singkat yang langsung berbaring di ranjangnya.


Jawaban Aditya membuat Aliya tersentuh, dia perlahan menghampiri suaminya. Aliya duduk di sebelah suaminya yang sedang berbaring dengan kaki yang menggelantung di lantai.


"Terima kasih sayang, tapi apa tidak apa-apa kamu melakukan ini untukku? Aku tidak keberatan jika ada wanita lain di sisi kamu."


Suara Aditya bagaikan busur panah asmara yang langsung menancap di hati Aliya, dia tidak pernah menyangka akan mendapatkan seorang pria seperti Aditya.


Sejatinya kebanyakan Pria akan senang jika diberikan restu istrinya untuk mendekati wanita lain, bahkan di antara mereka ada yang rela selingkuh demi memuaskan hasrat mereka. Namun di antara mereka masih ada juga sosok pria yang seperti Aditya, meskipun tidak banyak, tapi setidaknya Pria seperti itu masih ada di dunia ini.


"Terima kasih Mas, aku sangat beruntung bisa bertemu dengan kamu." Aliya merebahkan tubuhnya dan memeluk suami yang baru dia nikahi dua hari tersebut.


...***...


Sementara itu di tempat Rebecca, dia sedang berkemas sambil berlinang air mata, Ayah Rebecca merasa bingung dengan anaknya tersebut, padahal dari kemarin dia terlihat berbunga-bunga terus, tapi hari ini dia jadi seperti itu.


"Kamu yakin Becca, mau meninggalkan tanah Java ini?" tanya Ayah Rebecca yang duduk di ranjang anaknya itu.


"Iya Ayah, Becca akan mengurus bisnis Ayah di Tiongkok!" jawabnya dengan suara Parau.


"Nak, pikirkanlah baik-baik, kalau ada masalah jangan seperti ini."

__ADS_1


Ayah Rebecca tentu saja sangat terpukul melihat anaknya yang seperti itu, walaupun selama ini Rebecca dingin, tapi setidaknya dia tidak pernah bersedih seperti sekarang.


"Keputusan ku sudah bulat Ayah." jawab Rebecca yang masih mengemas barang-barangnya.


Ayah Rebecca menghela napas "baiklah kalau itu mau kamu, Ayah akan memberitahu Rong yu untuk membantu memenuhi semua kebutuhan kamu, jangan segan untuk bertanya padanya."


"Terima kasih Ayah."


Rebecca memutuskan pergi dari tanah Java untuk menenangkan hatinya, dia sadar kalau terus di tanah Java, akan selalu bertemu Aditya, dengan begitu dia akan tambah sakit hati nantinya.


Hari itu juga Rebecca terbang ke tanah Tiongkok, dia tidak menunda-nunda lagi keberangkatannya, karena menurutnya hal tersebutlah yang paling benar yang harus di lakukannya.


Sintia hanya bisa melepas kepergian sahabatnya tersebut dengan sedih. Namun dia tahu kalau Rebecca butuh ketenangan untuk saat ini, mungkin itu semua jalan terbaik untuk Rebecca.


Di dalam pesawat, Rebecca terlihat melihat foto di ponselnya, dia memerhatikan foto Aditya yang dia ambil waktu Aditya masih sedikit lusuh tidak seperti sekarang ini.


Air matanya menetes ke layar ponsel, meski dia sudah memutuskan untuk menjauh dari Aditya, tapi butuh waktu untuk memulihkan hatinya.


"Semoga kamu bahagia dengannya Dit." Rebecca memeluk ponselnya, seolah dia memeluk Aditya.


Sementara itu di tempat Aditya, dia yang sedang berbincang dengan Aliya, tiba-tiba merasakan sedikit perasaan yang aneh di hatinya.


Aditya meremas dadanya yang terasa sedikit nyeri, bukan karena dia punya sakit kulit, ataupun sakit tulang, melainkan ada sedikit rasa perih yang menyayat hatinya.


"Kamu kenapa Mas?" Aliya yang melihat Aditya seperti itu, dia sedikit khawatir dengan suaminya tersebut.


Aditya memaksakan sebuah senyum pada Aliya "Aku tidak apa-apa."


"Apa yang aku rasakan sebenarnya ini? Kenapa begitu sakit? Perasaan apa ini?" Aditya bertanya-tanya dalam hatinya.


Aliya tidak tahu apa yang sedang terjadi dengan suaminya, tapi insting wanitanya merasakan kalau suaminya sedang di Landa kegelisahan.


Aliya hanya bisa menatap iba suaminya, tidak ada yang bisa di lakukannya, dia hanya bisa mengobati luka yang ada di hati Aditya seiring berjalannya waktu.


Aliya memantapkan tekadnya untuk terus mendukung suaminya, dia ingin Aditya benar-benar bisa mencintai dia seutuhnya.

__ADS_1


__ADS_2