Java System

Java System
Drama dua Wanita


__ADS_3

Selepas kepergian orang tua Glembo, Aditya akan ke meja makan, tapi Vivi menarik tangannya, sehingga dia terduduk kembali.


"Dit, apa kamu membenciku?" tanya Vivi dengan mata berkaca-kaca, dia seperti mau menangis saja.


Aditya yang melihat Vivi seperti itu, dia menghela napas "Vivi, bukan aku membenci kamu, tapi pakaian kamu yang gak sopan, kamu memperlihatkan tubuhmu pada semua orang, apa kamu tidak malu?"


Vivi melihat pakaian yang melekat di tubuhnya, celana pendek di atas lutut, baju yang memperlihatkan belahan dadanya yang montok itu, di tambah pakaiannya sangat ketat, sehingga tercetak jelas lekuk tubuhnya itu.


"Apa jika aku berubah, kamu mau menerima aku?" tanya Vivi yang langsung menatap Aditya dengan Seksama.


Aditya menggendikkan bahunya "kita lihat saja nanti." jawab Aditya singkat yang langsung berdiri.


Lagi, lagi Vivi menarik tangan Aditya hingga terduduk kembali, Aditya mau marah, tapi Vivi langsung memeluknya, dia seolah ingin melekat terus pada Aditya.


"Dit, Aku ingin menikah dengan kamu, aku janji hanya akan memperlihatkan tubuhku hanya untuk kamu nantinya, tapi tolong jangan dingin sama aku" ucap Vivi sendu.


Aditya tertegun, tubuhnya bergetar hebat, ketika bau parfum menyeruak masuk ke dalam hidungnya, di tambah lembutnya gunung kembar yang menempel di dadanya membuat darahnya semakin berdesir.


Tangan Aditya tidak sengaja mengusap paha mulus Vivi, Imron Aditya tidak semakin kuat, benda pusakanya langsung meronta dari balik celananya.


Vivi yang memang tadi memeluk Aditya sambil duduk di pangkuan Aditya, tentu saja dia merasakan ada benda keras yang menyembul menyentuh bokong sintalnya.


Wajah Vivi memerah, dia semakin membenamkan wajahnya di dada Aditya, seolah pasrah jikapun Aditya sudah tidak terkontrol lagi.

__ADS_1


"Baik, baik sudah cukup." Vivi di tarik seseorang yang tiba-tiba muncul dan buka suara.


Aditya dan Vivi menoleh siapa yang menegur mereka, terlihat Rebecca dengan senyum Iblisnya mencengkram lengan Vivi dengan keras.


Sontak saja pusaka Aditya yang tadi menegang langsung menyusut kembali, saat melihat wajah Rebecca yang seperti itu.


Sementara Vivi menggembungkan pipinya karena marah momen indah bersama Aditya di ganggu oleh Rebecca, yang entah sejak kapan sudah ada di sana.


"Adit, bukankah kamu sudah bilang akan bersikap adil pada kita? Kenapa kamu sekarang seperti ini?" tanya Rebecca dengan suara digin.


Aditya merinding ketakutan, meskipun Aditya bisa membuat mereka bertekuk lutut, tapi nyatanya Aditya tidak mau menggunakan kekuasaannya untuk menaklukkan mereka berdua.


Vivi berdiri, dia menatap tajam Rebecca yang dari tadi memerhatikan mereka berdua lekat-lekat. Rebecca tidak kalah tajam menatap Vivi, keduanya seolah tidak mau kalah satu sama lain.


Sontak saja Rebecca dan Vivi langsung menoleh ke arah Aditya, mereka berdua mengulas senyum semanis mungkin agar Aditya tidak marah.


Sintia yang dari tadi diam melihat Rebecca dan Vivi seperti itu buka suara "Kenapa sih kalian tidak saling berbagi saja, toh berbagi itu indah"


Rebecca menoleh ke arah sahabatnya itu, dia memaksakan sebuah senyum dan buka suara "Kenapa gak kamu saja yang berbagi Glembo dengan dia?"


"Idih... Amit... Amit... Jabang kempol!" Sintia langsung jongkok mengetuk-ngetuk ubin.


Rebecca tersenyum kecut melihat tingkah temannya itu. Aditya kemudian berdiri dia tidak mau mendengar percakapan para wanita di sana, lebih baik dia meninggalkan tempat tersebut saja.

__ADS_1


"Dit, kamu mau kemana?" Vivi memanggil Aditya.


"Mandi!" jawab Aditya singkat tanpa menoleh.


Vivi menghela napas panjang, lagi-lagi momennya dengan Aditya kembali hilang, Vivi menoleh ke arah Rebecca, dia mendengus kemudian meninggalkan tempat tersebut.


Rebecca tersenyum licik, karena saingannya sudah melarikan diri, kini tinggal dia menjalankan rencananya untuk lebih dekat dengan Aditya.


"Becca, sekarang kita mau apa di sini?" tanya Sintia seperti orang bodoh.


"Aku mau masak sesuatu untuk Aditya, kamu bantu aku." jawab Rebecca sambil tersenyum.


Sintia belum menjawab, Rebecca sudah menariknya ke dapur, karena dia serius dengan ucapannya ingin memasakkan Aditya.


Sementara itu Vivi yang kuat dari rumah dengan bersungut-sungut, dia di tegur Pak Tomo yang sedang beristirahat di teras setelah mencuci Mobil.


"Nona Vivi, Kok cepet banget mainnya?" tanya Pak Tomo pada Vivi.


Vivi membalikkan badannya menatap pak Tomo dengan sendu "Ada jurig di dalam! Ini buat Pak Tomo!" Vivi memberikan rantang yang di bawanya untuk Pak Tomo.


Tentu saja Pak Tomo tidak menolak sama sekali "Wah rejeki memang tidak kemana, terima kasih Nona Vivi."


"Sama-sama!" ucapnya ketus kemudian meninggalkan Pak Tomo begitu saja.

__ADS_1


Pak Tomo menggelengkan kepalanya "dasar anak muda, kalau cinta itu jangan tanggung-tanggung, meskipun sudah menikah terobos saja terus!" jangan di ikuti perkataan Pak Tomo Sesat.


__ADS_2