Java System

Java System
Drama Rebecca dan Vivi


__ADS_3

Baru Aditya mau memejamkan matanya, suara Kokok Ayam terdengar. Membuat Aditya langsung tersenyum getir.


Aditya memang bertarung dengan Darman dan bawahannya hingga menjelang pagi. Aditya bodo amat dan mencoba untuk terlelap.


Siang harinya ketika Mentari sudah meninggi, Aditya terbangun ketika ada seseorang yang mengetuk pintu kamarnya.


Tok, tok, tok....


"Dit, Adit..." terdengar seseorang memanggil nama Aditya.


Aditya yang mendengar seruan tersebut, dia mengerjapkan matanya dan duduk "Siapa....?" saut Aditya malas.


"Ini Aku Dit, Rebecca!" suara Rebecca terdengar sangat merdu di balik pintu.


Aditya bangun dari tempat tidurnya dengan malas, dia langsung menghampiri pintu dan membukanya.


"Ada apa?" Aditya menguap sangat lebar, sehingga bau mulutnya menyeruak masuk ke hidung Rebecca.


Rebecca yang sudah cinta mati dengan Aditya, jangankan bau mulut pagi hari Aditya. Kentutnya saja mungkin akan dia hirup sampai habis.


Rebecca menatap aneh Aditya, dia melihat pakaian Aditya yang compang-camping, seperti pengemis saja.


"Dit, kamu habis dari mana?" tanya Rebecca pada Aditya.


"Aku gak kemana-mana, ada apa memangnya?" jawab Aditya santai.


"Itu pakaian kamu?" Rebecca melihat pakaian Aditya, ketika dia melihat di bagian tiang bendera Aditya, wajahnya bersemu merah, karena melihat rumput Liar Aditya menyembul keluar di balik sayatan tersebut.


Aditya melihat tubuhnya, dia menepuk Jidatnya, baru teringat kalau semalam dia tidak berganti pakaian dulu sebelum tidur.


"Maaf, aku semalam main orang gila-gilaan sama Glembo, dan lupa berganti pakaian." Alasan macam apa itu Aditya.


Tapi nyatanya Rebecca menelan bulat-bulat, perkataan Aditya. Dia sudah tidak peduli lagi Aditya berbohong atau tidak.


Rebecca tersenyum. "Oh... gitu, ngomong-ngomong pembantu yang kamu minta sudah datang, mereka sudah aku atur seperti mau kamu."


"Baguslah kalau begi...." Aditya belum selesai bicara, Glembo berlari dari kamar sebelah dengan handuk melilit tubuhnya dan sampo yang belum dia cuci di rambutnya.

__ADS_1


"Dit! tolong Dit! Ada jurig!" Perut Glembo naik turun ketika dia berlari menghampiri Aditya.


Aditya jelas saja terkejut "Jurig!? Mana Jurig!" dia mengira kalau Mba Kunti yang menakuti Glembo.


Dengan gagah berani Aditya menghampiri kamar Glembo, Rebecca mengikuti nya dari belakang, bersama Glembo yang merangkul lengan Aditya.


"Dit, hati-hati Dit! Jurignya bisa mengubah air Kran menjadi panas." celetuk Glembo dengan nada Khawatir.


Sontak saja Rebecca langsung melebarkan rahangnya, dia tahu apa yang sedang di pikirkan Glembo, karena Jurig yang dia maksud Kran yang bisa di setel dengan air panas.


Rebecca menggelengkan kepalanya, dia memang masih sedikit terkejut dengan kekonyolan dua sahabat tersebut.


Aditya dan Glembo berjalan mindik-mindik, seolah tidak ingin membuat Jurig yang di lihat Glembo kabur.


Suara gemericik air terdengar, seolah ada orang di dalam sana. Aditya dan Glembo menelan ludah masing-masing.


Aditya langsung membuka hordeng kamar mandi dengan cepat "Kena kau Jurig sialan!" Dia bingung karena tidak ada siapa-siapa di sana "lah kok, tidak ada siapa-siapa di sini Glembo!"


Rebecca tersenyum getir, dia maju ke depan dan memegang penyetel Kran Air "Kran Air di sini memang bisa panas dan dingin, aku memang menyuruh Jarot agar semua kamar di lengkapi kamar mandi yang seperti ini, jadi bukan jurig Ok!"


"Loh, bisa gitu ternyata?" celetuk Aditya langsung.


Rebecca menjelaskan semua yang ada di rumah tersebut, agar Aditya dan Glembo tidak bertindak aneh lagi.


Aditya tersenyum senang ketika Rebecca menjelaskan semuanya, karena dengan kata lain kehidupannya akan melebihi juragan Mugimin.


Glembo melanjutkan mandinya, sementara Aditya dan Rebecca kembali ke kamar Aditya "Rebecca, kamu tunggu di bawah yah, aku mau mandi dulu."


Rebecca mengangguk, dia langsung ke bawah, sekalian menata makanan untuk Aditya yang sudah pembantu barunya siapkan.


Beberapa waktu berlalu, Aditya baru keluar dari kamarnya, terdengar suara cekcok dua orang wanita yang ada di bawah rumah.


"Wanita ******! Aditya gak suka makananmu! Lihatlah makanan mewah ini!" Rebecca menunjukan makanan mewah yang sudah tersedia di atas meja.


"Heh! Wanita kegatelan! Kata siapa Aditya gak suka masakanku? Dia ketagihan makan masakanku!" Vivi mendengus kesal pada Rebecca.


Aditya dan Glembo menonton dari atas, mereka berdua sengaja tidak turun terlebih dahulu sebelum perang dunia pecah di sana.

__ADS_1


"Dit, kamu gak mau melerai mereka?" tanya Glembo pada sahabatnya itu.


Aditya menghela napas. "Biarkan sajalah, Aku malas melerai mereka berdua."


Aditya yang tidak pernah jatuh cinta, tentu saja dia abai dengan dua wanita yang memperebutkannya tersebut, yang dia inginkan sekarang hanyalah hidup nyaman dan damai.


"Apa kamu bilang!" Vivi mulai meraih rambut Rebecca.


"******! Aku tidak akan memaafkan kamu!" Rebecca juga tidak mau kalah dengan Vivi.


Aditya dan Glembo langsung terkejut, mereka berdua turun dari lantai dua dan melerai keduanya, yang sudah acak-acakan.


"Sini Kamu! Aku tidak takut denganmu!" Raung Vivi pada Rebecca.


"Kamu pikir aku takut!" Rebecca juga masih berani pada Vivi.


"Diam!" suara Aditya bagaikan petir yang menyambar telinga mereka. "Kalau kalian terus seperti ini, mending kalian berdua pergi dari rumahku!" tegur Aditya pada keduanya.


"Tapi Dit...." Mereka berdua terlihat tidak rela di suruh pergi oleh Aditya.


"Kalau kalian terus seperti ini, yang ada kalian hanya akan membuat susah aku, lebih baik kalian pergi saja" ucapnya sambil duduk di meja makan.


Glembo yang melihat Aditya duduk, dia juga ikut duduk di depan meja makan yang menyajikan berbagai makanan khas Java dan luar negri.


"Dit, Aku janji tidak akan bertengkar dengannya lagi, jangan usir aku yah?" Rebecca terlihat memelas pada Aditya.


"Aku juga berjanji Dit, tidak akan marah-marah lagi!" Vivi juga melakukan hal yang sama dengan Rebecca.


Aditya mengangguk "Baguslah, duduk kita makan bersama!"


Aditya terlihat berkarisma, dia tidak seperti Aditya yang bodoh lagi seperti yang dulu. Yang ada sekarang Aditya baru yang memiliki segalanya.


Mereka berempat makan dengan lahap, apa lagi Glembo, jangan di tanya dia mah, cuma peralatan makan saja yang tidak dia telan.


Sementara Rebecca dan Vivi seperti kedua istri Aditya saja, mereka meladeni Aditya layaknya seorang suami.


Tentu saja Aditya sangat senang, yang satu bunga Desa, yang satu wanita Chinese yang sangat cantik. Di layani mereka berdua, Aditya merasa seperti menjadi seorang Raja dalam dongeng jaman dahulu.

__ADS_1


Sekarang pecundang yang dulunya tidak di akui semua orang, kini dia perlahan menjadi sosok yang menakutkan.


__ADS_2