
Buta Ireng semakin mempererat cengkeraman nya. Aditya meraung-raung kesakitan.
"Hahahaha... matilah kau manusia bodoh!" raung Buta Ireng dengan percaya diri.
Aditya masih meraung-raung kesakitan, sehingga membuat Buta Ireng semakin senang. Namun, sosok jin tersebut mulai merasakan ada yang aneh dengan tubuh Aditya, pasalnya ia sudah mencengkram erat tubuh Aditya tapi tubuhnya tidak hancur-hancuran.
Buta Ireng baru menyadari kalau tubuh Aditya ternyata sangat keras sekali, ia mencoba mencengkramnya dengan erat, tapi tetap saja tidak bisa meremukkan tubuhnya.
"Hahahaha... kenapa kamu seperti kebingungan? Bukankah aku sudah bilang kalau kamu itu bukan levelku!" hardik Aditya sambil tertawa mengejek.
"Brengsek, kamu membohongiku!" raung Buta Ireng marah.
"Kamu kira hanya jin saja yang bisa berbohong? Manusia itu lebih pandai berbohong daripada kalian!" seru Aditya yang kemudian menggunakan tubuh Gatotkaca nya untuk melepaskan diri.
Otot-otot dalam tubuh Aditya menegang, perlahan cengkraman Buta Ireng terbuka, sosok tersebut tampak terkejut dengan apa yang telah terjadi dengan tubuh Aditya.
Aditya melompat keluar setelah ia berhasil meregangkan jari-jari Buta Ireng yang mencengkramnya tadi.
Buta Ireng menatap tidak percaya apa yang telah terjadi, ia menjauh dari Aditya, karena merasakan bahaya dari manusia yang sedang di lawannya itu.
Aditya menghilangkan gada Bima, ia kemudian mengeluarkan panah Arjuna di tangannya.
"Sudah cukup main-mainnya!" seru Aditya yang melesatkan anak panah ke langit.
Buta Ireng menatap anak panah tersebut, ia terkejut ketika anak panah itu berubah menjadi ribuan dengan di selimuti Api.
Swuzz
__ADS_1
Swuzz
Anak panah menghujani Buta Ireng, tapi ia bergegas mengubah tubuhnya menjadi kabut. Sayangnya itu semua tidak berarti sama sekali, karena anak panah Arjuna mampu membakar bentuk mahluk astral jenis apapun.
"Arghh... panas! Ampun, tolong ampuni aku!" Buta Ireng yang tadi menjadi kabut, ia berubah kembali menjadi wujud aslinya, tampak tubuhnya di penuhi anak panah dan terbakar.
Buta Ireng meraung-raung kesakitan, sambil memohon ampunan dari Aditya, tapi pria itu tampak tidak memperdulikannya sama sekali.
Aditya menatap Buta Ireng yang di lahap Api panah Arjuna, hingga akhirnya sosok tersebut lenyap tidak tersisa di hadapannya.
Aditya menghela napas lega, ia menghilangkan kembali panah Arjuna nya.
Setelah Buta Ireng berhasil di kalahkan, perlahan-lahan kabut yang menyelimuti tempat tersebut menghilang, hingga pemandangan di gunung kumbang tampak seperti biasanya.
"Dit, kamu baik-baik saja?"
Bug
"Aduh, brengsek kau Dit! Tega amat memukuli diriku yang gemoy ini!" raung Glembo marah sambil memegang matanya yang terkena pukulan Aditya.
"Eh... maaf Ndut, aku kira kamu Buta," jawabnya dan segera memapah sahabatnya itu.
"Buta, Buta, mentang-mentang tubuhku semok kamu anggap aku Buta?!" keluh Glembo yang di papah Aditya.
"Hehehe... kan memang mirip," ujarnya pongah.
Glembo mendengus kesal. Aditya kemudian meminta maaf, mereka berdua pun kembali melanjutkan perjalanan untuk mencari cincin Java.
__ADS_1
Sambil berjalan Aditya mengedarkan energi spiritualnya untuk mencari cincin Java, karena begitu banyaknya sosok Jin di tempat tersebut, begitu banyak energi spiritual yang di tangkap Aditya, membuat pria itu sedikit merinding.
Desas-desus tentang gunung kumbang yang dipenuhi mahluk astral, ternyata benar adanya, dengan Aditya yang bisa merasakan energi spiritual mereka.
Beberapa kali Aditya melewati om Wowo, mba Kunti dan yang lainnya, tapi ia pura-pura tidak melihat sosok-sosok tersebut agar perjalananya tidak terhambat oleh mereka.
Ketika Aditya hampir sampai di puncak gunung, tiba-tiba Aditya merasakan adanya energi spiritual milik cincin Java.
"Ketemu! Ndut, ayo cepat!" Aditya bergegas berlari ke arah energi Spiritual tersebut, meninggalkan Glembo begitu saja.
"Dit, tunggu aku!" teriak Glembo yang berusaha mengejar Aditya.
Aditya dengan semangat mencari cincin Java, tapi semakin ia dekat dengan energi spiritual tersebut, ia merasakan energi spiritual yang sangat kuat seperti milik cincin Java, sehingga membuat Aditya memuntahkan seteguk darah akibat tekanan energi spiritual tersebut.
"Dit, kamu kenapa?" tanya Glembo dengan napas tersengal-sengal.
"Aku tidak apa-apa, kita semakin dekat dengan cincin milikku," jawabnya tidak memberitahu Glembo.
Glembo yang tidak tahu sama sekali maksud Aditya, ia hanya menganggukkan kepalanya saja.
Aditya tidak menggunakan energi spiritualnya lagi untuk mencari cincin Java, karena ia kurang lebih sudah tahu dimana lokasi cincin tersebut berada.
Pria itu mengajak sahabatnya agar lebih mendekat ke lokasi yang tadi di rasakan nya.
Ketika sampai di sana, terlihat ada sebuah goa yang di depannya banyak sekali mahluk astral yang menjaga.
Sosok mahluk-mahluk tersebut menatap Aditya dengan tajam, tapi pria itu pura-pura tidak melihatnya, agar ia bisa masuk ke dalam goa, mengabaikan mereka semua.
__ADS_1
Sementara Glembo yang tidak bisa melihat mahluk-mahluk tersebut, ia celingukan merasakan kehadiran mahluk astral sambil memegang erat lengan Aditya.