JONES, Dipaksa Jatuh Cinta

JONES, Dipaksa Jatuh Cinta
Shafiya Putri Melfa (Tamat)


__ADS_3

🌴🌴🌴


"Hallo, dengan Assisten Presdir."


"Masih jam kerja, jangan menggatal terus! balik kesini!" teriak seorang pria diseberang sana


"Eh, baik, Tuan." turut Raffa sembari mendongak menatap cctv yang terpajang di sudut ruangan, ternyata sang boss tengah memperhatikannya


Raffa menaruh kembali gagang telepon pada tempatnya, terdengar hembusan nafas yang keluar dari mulutnya dan hal itu tidak luput dari perhatian sang istri.


"Ada apa?" tanya Melani


"Aku harus kembali bekerja, Sayang. Tuan Andrew sudah menunggu." ujarnya


"Kan, benar aku bilang, kamu sih keganjenan! nggak ingat waktu dan tempat." omel Melani, ia bangkit berdiri dan mengambil helm dan kunci motor


Raffa hanya bisa menggaruk kepala yang tidak gatal sembari cengengesan. tatapannya beralih pada benda yang digenggam sang istri.


"Kamu pakai motor?"


Melani mengangguk. "Iya, aku pergi ya." Melani mendekat ingin menyalimi tangan suaminya


"Lain kali pakai mobil, hubungi Pak Wan."


"Enggak perlu, terlalu berlebihan. Assalamualaikum." pamitnya, mencium tangan sang suami


"Waalaikumsalam, hati-hati di jalan."


Melani mengangguk sembari mengulum senyum. senyum itu begitu menghangatkan perasaannya.


**


Sembilan bulan kemudian


Janin yang dikandung Melani sudah terlihat sangat besar, berdampak pada tubuhnya yang naik dua kali lipat. namun ia dan suami tetap bersyukur, tidak mengeluh sedikit pun atas perubahan bentuk tubuh itu. bagi Raffa, sang istri tetap cantik dan sangat cantik dalam Dunianya.


Menjelang kelahiran sang buah hati, membuat pria itu sedikit was-was untuk meninggalkannya. namun mau bagaimana lagi, ia memiliki pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan dan sang istri terus memaksanya untuk bekerja.


Kini ada Mama Sarah yang menjaga sang putri, membimbingnya selalu untuk melakukan olahraga penting nan menyehatkan bagi sang ibu dan janin. seperti pagi ini, wanita itu tengah melakukan jalan pagi disekitar perumahannya bersama Mama. sedangkan sang suami, sepertinya tengah bersiap-siap untuk bekerja.


"Ma, Melan capek, duduk dulu ya." keluhnya, menghampiri bangku yang terletak di tepi jalan


"Ini, minumlah dulu." Mama menyodorkan sebotol air minum untuk sang putri tercinta


"Terima kasih, Ma." Melani menyambutnya, meneguk sembari mengelus perutnya


Kini sepasang suami istri dan Mama Sarah tengah menikmati hidangan sarapan pagi, dentingan sendok terdengar membentur piring pada ruangan itu.


"Sebenarnya aku ingin libur, tapi ada rapat pula, Sayang." keluh Raffa


"Enggak apa apa, Yang, bekerja sudah kewajiban kamu."

__ADS_1


"Masalahnya perkiraan Dokter, kamu melahirkan seminggu lagi, aku jadi khawatir."


"Selesaikan dulu tugas mu, setelah itu minta cuti, pasti boleh."


"Ya, setelah rapat ini selesai." tandasnya. mereka pun kembali melanjutkan sarapan pagi hingga selesai.


Raffa membungkukkan tubuhnya, mensejajarkan tinggi badannya pada perut buncit ini. ia mengecup perut sang istri seolah tengah mengecup sang jabang bayi yang tumbuh sehat dan aktif didalam sana. Raffa mengajaknya mengobrol sejenak sebelum berangkat, dan itu diperhatikan oleh Melani dan sang mertua.


"Anak Papa jangan nakal ya ... nanti dulu keluarnya kalau pekerjaan Papa sudah selesai, oke? sehat-sehat disana, jangan susahkan Mama kamu, hm?"


"Iya, Papa ... Papa semangat kerjanya dan cepat pulang." jawab Melani, meniru suara bayi


Raffa tersenyum melihat wajah cantik istrinya, ia kembali bangkit lalu mengecup kening itu. "Yasudah, aku berangkat, ya ..." pamitnya, diangguki oleh Melani lalu mengecup punggung tangan suaminya.


Raffa beralih menyalimi punggung tangan mertuanya, yang disambut dengan elusan di kepala dan senyum manis dari wajah cantik yang memiliki sedikit kerutan itu.


Melani duduk santai di Taman belakang sembari melihat Mama dan Bibi tengah merawat bunga. dirinya ingin sekali ikut nimbrung, namun sang Mama tidak mengijinkan wanita itu. Melani merasa jengah, ia lebih memilih untuk ke rumah Chika, menjumpai baby twin yang semakin nakal diusianya yang telah menginjak satu tahun lebih.


"Ah, rindu twin yang nakal." gumamnya sembari bangkit berdiri.


Melani tercenung sejenak, merasakan sesuatu yang mulai terasa perih dibagian inti tubuhnya. dan itu semakin terasa sakit, membuatnya mengerang.


"Bi, Mama!" teriaknya dengan suara yang berat. Melani memegang perutnya, tubuhnya semakin menyusut ke lantai karena tidak tahan merasakan sakit ini.


"Nyonya!" teriak Bibi dengan penuh kekhawatiran, ia mendekati sang majikan bersama Mama Sarah yang tak kalah panik.


Derap langkah terdengar memburu dan menghentak kuat pada lantai marmer Rumah Sakit, dua sosok anak manusia tengah berlari kencang melewati lorong rumah sakit hingga tiba di ruang persalinan.


"Mana Melani?" tanyanya pada Bibi


"Sudah didalam, Tuan."


Raffa langsung menerobos masuk kedalam ruangan itu. ia melihat sang istri tengah melenguh menahan sakit.


"Dokter, apa yang terjadi?"


"Nona mengalami kontraksi dan baru pembukaan delapan, Tuan."


"Lakukan sekarang, Dok!"


"Maaf, Tuan, melahirkan normal harus menunggu pembukaan sepuluh agar jalan lahir lebih mudah."


"Astaga! periksa lagi." titahnya, Dokter kembali memeriksa perkembangan jalan lahir


Raffa menatap iba pada sang istri, mana mungkin ia sanggup melihat wanita ini merasakan kesakitan lebih lama lagi. dan itu sangat menyiksa Melani dan--juga dirinya.


"Sudah pembukaan sepuluh, Tuan."


"Syukurlah, lakukan secepatnya!"


Dokter ini pun mulai memberikan sedikit wejangan kepada Melani, harus mengikuti arahannya saat proses melahirkan berlangsung. wanita itu mengangguk paham, dan ia sudah sangat siap untuk melahirkan buah cinta pertamanya. dengan didampingi sang suami menbuatnya semakin semangat, Melani mengerahkan seluruh tenaga yang tersiksa untuk kesekian kalinya. hingga--suara tangisan dari malaikat kecil ini membuatnya terasa lega, haru, dan senang.

__ADS_1


Melani dan Raffa saling bersitatap, anak pertama mereka telah menunjukkan wujud dan terlihat sangat sehat dan normal.


"Wah ... selamat, Tuan, Nona, putrinya sangat cantik seperti ibunya." Dokter menyodorkan bayi itu kepada orang tuanya


"Oh, my princess ..." Melani mengucurkan air matanya, tangannya berusaha menggapai makhluk kecil ini


Setelah dimandikan dan melakukan beberapa pemeriksaan, kini bayi mungil itu telah disusui oleh sang Ibu. kini ia telah pindah ke ruang perawatan, seluruh keluarga sudah berkumpul di ruang tersebut.


"Kamu sudah mengadzankannya, Raff?" tanya Mama Risha sembari mengambil alih cucu pertamanya dari tangan sang menantu


"Sudah, Ma, Alhamdulillah."


"Kalau namanya, sudah diberikan pada cucu cantikku ini?" sahut Papa Rafi


"Iya, Yang, siapa namanya?" sahut Melani, semua orang sudah menanti.


"Shafiya Putri Melfa."


🍃🍃🍃🍃


...~~ TAMAT ~~...


...----------------...


Terima kasih untuk semuanya yang sudah ngikuti kisah Raffa dan Melani sedari di buku sebelah hingga berlanjut ke buku ini.


Mungkin ini alurnya terasa sangat cepat ya ... tiba-tiba sudah sembilan bulan aja, hehehe ... alasanku karena mulai stuck ide, merasa alurnya mutar-mutar gitu aja, dari pada kalian merasa bosan, kita langsung ke akhirnya aja.


Aku ingin fokus boncap di Novel Selir, setelah itu pengen rehat agak beberapa hari. insyaallah aku akan publish cerita baru disini.


Rencananya aku ingin publish judul, Obsesi Majikan Psychopath


Tetap favoritin ya buku ini dan buku selir, untuk mengetahui info baru dariku.


~ Cinta sekebun jagung untuk kalian 😘😘


Jangan lupa juga baca karya temanku ya, guys ... ceritanya menarik dan lebih menantang.


Boleh dibaca langsung/ difavoritkan kalau ingin ditabung dulu. dijamin nggak nyesal 😅


Judul: Pemanas Ranjang Sang Majikan


Author: Wulandari


Numpang promo kakak ... aku mau promoin GC Wa nih, siapa tahu ada yang berminat ingin bergabung. biar kita bisa saling mengenal dan mengobrol antar readers dan author 😁


Link wa tertera di bio ig ku @cece_virgo24


dan di fb ku, elce kha


Terima kasih🙏😉

__ADS_1


__ADS_2