
πΏπΏπΏ
"Maafkan Papi, Papi menghamili wanita lain saat dua puluh dua tahun yang lalu, dimana--Mami sama Papi sedang bertengkar. Papi memperkosa ibu dari Melani." Pria parubaya itu menundukkan kepalanya, tidak berani menatap wajah sang putra. Nyalinya menciut disaat dalam kondisi seperti ini
"Jadi hentikanlah perasaanmu. Melani juga sudah ada yang punya." Tuan Axel melirik cincin berlian yang menghiasi jari manisnya
"Jadi selama ini Papi berselingkuh, hah! asal Papi tahu, Mami tidak macam-macam sama Assistennya! dan kau malah berselingkuh dengan wanita lain!" Alex yang meradang langsung mencengkram kuat kerah baju sang Ayah.
Melani yang melihat kobaran api telah menyala, langsung memadamkannya. melerai tindakan Alex yang tampak marah sekali kepada pria tersebut.
"Mas, lepaskan, Mas! Ayah melakukannya tanpa sadar waktu itu." sela gadis tersebut
"Papi tau, dan Papi menyesal tidak mendengarkan penjelasan Mamimu. Papi pergi ke Club dan mabuk, hingga--melihat Ibu dari Melani dan langsung memper--kosanya." pria tersebut menatap wajah Melani dengan perasaan bersalah
Bugh!
Sekali pukulan mengenai wajah pria tersebut. Tuan Axel tidak melawan, ia membiarkan putranya melakukan apapun dengan sesuka hatinya. Ia tahu, pasti hal ini akan terjadi. dan keluarganya berhak untuk menghajarnya seperti ini. Sedangkan Melani, langsung memeluk sang Kakak, alih-alih ingin menenangkan emosi pria tersebut.
"Hentikan, Mas." dengan suara berat yang tercekat milik Melani
__ADS_1
Alex terduduk dengan lesu, pikiran pertamanya tertuju kepada Mami Jannete. Ia menatap Melani, memerhatikan wajah yang familiar saat pertama kali bertemu dengannya.
"Dulu awal bertemu, kamu mengatakan seperti pernah melihatku, kan? iya, benar ... kamu melihat aku dari wajah adikmu, Jenny."
"Padahal aku sudah mencintaimu, tapi karna pria itu kamu tidak bisa aku miliki." Alex berhambur memeluk adiknya, menatap kebencian pada pria parubaya tersebut
"Aku sungguh membencinya, dia mengkhianati kami dan merenggutmu dariku."
Jadi Mas Alex mencintaiku? berarti lamaran itu sungguh untukku? Batin Melani, ia tertegun mendengarnya
"Maaf, Mas, walau bagaimanapun aku tidak bisa membalas cintamu walaupun kita bukan sedarah. jadi sekarang--cintai aku sebagai adik kandungmu, seperti kamu mencintai Jenny." ucap Melani
"Aku mencintai orang lain." lirih Melani
Alex kembali tersadar, menatap dalam-dalam wajah yang penuh rasa bersalah itu. bagaimana tidak, Melani mematahkan dua tangkai hati sekaligus didalam tubuh pria itu. Hadir sebagai adik kandungnya, dan tidak bisa membalas perasaan itu. karena, kini ada Raffa yang telah hinggap di hatinya.
"Aku pergi!" Alex menyingkirkan Melani dari tubuhnya, bangkit berdiri untuk bergegas pergi dari tempat itu. sebelum meninggalkannya, ia terlebih dahulu menghadap pada sang Ayah.
"Kau harus jujur sama Mamiku!" peringatnya dengan tatapan tajam yang sungguh menusuk. Melani terpaku ditempatnya sembari memikirkan banyak hal.
__ADS_1
Ribuan panah seakan tertancap di punggung dan dadanya, begitu sakit dan perih, membuat raga itu tidak berdaya. Mencintai wanita yang ternyata adalah adik kandungnya dengan wanita yang berbeda. ditambah lagi kenyataan pahit mulai menghantam keluarganya yang telah harmonis. Kini luka lama telah terbuka kembali, begitu menusuk dan lebih menyakitkan. Apakah benar tindakannya untuk menyuruh Papi Axel mengungkap kejujuran ini pada Maminya? disisi lain ia takut Mami Jannete akan merasakan sakit lagi dan keutuhan keluarga pun hancur. Namun disisi lain pula, kejujuran adalah yang terutama dalam keluarga, dari pada nanti Mami akan mengetahui hal ini sendiri dari mata kepala hingga pendengarannya.
Entahlah, Alex bingung ... andaikan dulu ia bukan anak kecil, pasti ia akan mengejar Papi Axel untuk tidak melakukan hal semacam itu. pasti dirinya akan menguntit, bahkan menghajar pria tersebut. tapi nasi telah menjadi bubur, kenyataan pahit harus mereka terima.
Disisi lain, Melani mulai teringat akan Mamanya, waktu telah menunjukkan pukul 12 siang dan ia harus menjemput wanita parubaya tersebut. Ia bergegas memungut kertas DNA dan juga lukisan Mamanya.
"Pergilah, Tuan. dan bawa ini! saya harus menjemput Mama saya." Melani menaruh lembaran kertas itu ditangan Ayahnya dengan kasar.
"Satu lagi, jangan pernah menampakkan muka pada Ibu saya. ini urusan kita berdua sebagai Anak dan Ayah, bukan keluarga! dan--selesaikan masalahmu dengan keluargamu yang sebenarnya. permisi!" Melani melenggang pergi meninggalkan lelaki tersebut, mengambil helm dan jaket, tak lupa berpamitan pada Ratih yang masih betah membuat kue.
Tuan Axel menatap kepergian putrinya dengan tatapan sendu, semua orang kini sudah membencinya. tubuhnya bergetar bila mengingat dua anggota keluarganya yang berada di rumah, apakah ia harus membuka luka ini lagi? apakah mereka menerima Melani sebagai keluarganya juga? apakah mereka memaafkan dosanya ini? Entahlah, ia merasa takut dan menciut.
Disisi lain Raffa yang baru selesai menghadiri rapat dan akan keluar untuk makan siang, membuka ponsel untuk melihat kiriman dari anak buahnya. sebuah rekaman yang menampikkan sang pujaan hati tengah bersiteru dengan Tuan Axel dan juga putranya.
"Apa-apaan dia menggenggam tangan kekasihku! dan lagi--untuk apa Melani memeluknya? huh!" gumam Raffa, mengomel sendiri
"Apa yang kau bicarakan? baca mantra atau apa!" sela Andrew
πΏπΏπΏ
__ADS_1