
🌴🌴🌴
Raffa terbelalak melihat Audy, sang mantan kekasih, mendatanginya disaat pagi-pagi begini. Wajah semringah begitu terpancar jelas di wajah cantik perempuan tersebut.
"Ngapain kau kesini!" sembur Raffa dengan suara pelan namun tegas
"Jadi kamu kerja disini?" bukan menjawab, namun bertanya balik
"Ada apa kemari!" ulang Raffa
"Aku baru pulang bekerja dan tidak sengaja melihat kamu. Oh, Raffa, aku masih menyayangimu. Maafkan aku," perempuan itu berhambur memeluk Raffa
"Ups, sorry! Aku sudah tidak lagi." Raffa berusaha melepaskan diri tanpa menyentuh tubuh wanita itu. Kemudian pandangannya beralih kepada security yang masih betah menyaksikan dua orang dihadapannya
"Pak, usir dia!" titah Raffa, Security mengangguk dan langsung merengkuh tubuh perempuan asing ini
"Lepas!" Audy memberontak sembari menatap kepergian Raffa hingga menghilang dibalik pintu kaca transparan
"Pergilah, Nona, dan jangan balik lagi!" titah Security
"Cih! baru Security sudah sombong!" Perempuan tersebut berdecak kesal, lalu melenggang pergi meninggalkan keramaian itu.
Raffa melenggang masuk ke ruangannya, tidak mempedulikan tatapan mendamba dari para pegawai Perusahaan. Ia hanya fokus berpikir keras bagaimana caranya untuk membuat Audy kembali mengejarnya dan meninggalkan cinta barunya. rasanya ia sangat ingin menjebak perempuan tersebut. Ada senyum menyeringai nan licik yang menghiasi bibirnya, sekelebat bayangan atas rencananya telah terangkai didalam imajinasinya.
"Hah, lupakan dulu! fokus bekerja dan bekerja!" gumam Raffa sembari menyalakan laptopnya
Sembari menunggu loading, tiba-tiba saja terdengar ketukan pintu dari luar. Raffa menyahut hingga sedikit celah pencahayaan dari luar memasuki ruangannya. Raffa melengos, tatkala sang Sekretaris kembali memberikan perhatian padanya.
"Thanks kopinya, tanpa imbalan." ketus Raffa, seolah tahu kalau saja perempuan itu ingin mengajaknya kencan bersama lagi
"Aish! siapa juga yang mau minta imbalan." gerutu Sekretaris Jasmin
__ADS_1
"Apa pekerjaan mu banyak?" tanya Raffa sembari menyesap kopinya
"Lumayan. nanti saya akan membantu kalau pekerjaan sudah beres." ucapnya sembari melirik tumpukan pekerjaan Assisten Raffa. Lagi pula ia telah diutus untuk membantu pekerjaan Assisten itu selagi sang Presdir dalam mode cuti hingga seminggu kedepan
"Ya, itu sudah kewajibanmu. Lagian kau beruntung bisa dekat denganku nanti."
Sekretaris Jasmin menyipitkan mata. "Maksudnya?"
"Kita ada pertemuan dengan klien saat jam makan siang nanti, setelahnya memeriksa proyek yang ada di kawasan xxx."
"Wah, serius??" Perempuan itu tampak semringah
"Hm! pergilah! selesaikan pekerjaan mu secepatnya."
"Siap, Boss!" dengan semangat yang berkobar-kobar, Sekretaris Jasmin melenggang pergi meninggalkan pria tersebut. Walaupun tidak mendapat cintanya, setidaknya ia bisa dekat dengan pria dingin itu. Cukup menjadi pengagum setia, sudah membuatnya cukup bahagia.
Raffa kembali berkutat dengan laptop dan beberapa berkas yang memusingkan. Ketidak hadiran sang Boss membuat pekerjaannya menggunung dan sulit dikendali. Namun beruntung, ada Sekretaris yang senantiasa membantunya.
**
"Sudah siap, Tih?" teriak Melani, Ratih yang baru saja selesai menyampirkan jaket dan juga helm ke kepalanya, bergegas keluar untuk menemui sang pemilik suara
"Sudah, Kak."
"Ini alamatnya, yaa ..." Melani menyodorkan catatan tersebut kepada pegawai satu-satunya ini.
"Wow, Yudha Group juga ya, Kak?"
"Iya, kebanyakan dari Yudha Group. ada untuk pegawai dan juga pria menyebalkan itu." Melani memutar bola matanya
"Hah? Nggak salah? tadi kesini, nggak beli apa-apa."
__ADS_1
"Namanya juga pria nggak jelas. kamu berangkat, gih! udah mau siang juga." Melani menatap jam di pergelangan tangannya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh. Perempuan itu mengangguk dan bergegas menyalakan mesin motor.
Melani merenggangkan otot-ototnya yang dirasa sudah kaku, perempuan cantik itu kembali masuk kedalam Tokonya dan mendudukkan tubuh diatas karpet berbulu. mengingat tidak ada pekerjaan lagi, Melani membuka laptop untuk melanjutkan tugas akhir kuliahnya, yaitu menyelesaikan skripsi. hanya tersisa waktu kurang lebih dua bulan lagi, perempuan tersebut akan menyandang gelar strata 1 yang sangat ditunggu-tunggu oleh para Mahasiswa.
"Harus ngebut ini mah, seminggu lagi harus udah dikumpul." gumam Melani
"Minum dulu, biar enakkan." Mama Sarah menyodorkan segelas teh hangat untuk sang putri.
"Terima kasih, Mama." ucap Melani sembari menyambut minuman hangat tersebut. Mama mengangguk seraya mengulum senyum pada putrinya
"Ohya, Ma, Mas Alex ngajakkin aku makan siang nanti." ucap Melani dengan perasaan yang senang
"Ohya? apa kamu menyukainya?"
Melani tampak berpikir. "Hanya menyukai sikap baiknya saja, Ma. lagi pun Melani nggak mau ada perasaan lebih untuk seorang lelaki." ujarnya
"Jangan berkata seperti itu, kita sebagai manusia diciptakan memiliki rasa cinta untuk lawan jenis. sudah hal manusiawi, dan kamu tidak bisa mengesampingkan hal itu. mungkin sekarang belum, tapi bisa saja nanti, perasaan kamu akan berkata lebih dari suka. entah untuk Alex, Raffa, atau yang lainnya."
Deg!
Raffa? kenapa pria itu pula yang Mama sebutkan! batin Melani
"Hmmmm ...." Melani bergumam
"Percayalah, banyak lelaki yang baik dan bertanggung jawab, seperti suami Chika. Alex juga baik."
"Kalau Raffa??" Melani menggigit bibirnya, entah kenapa lidahnya keseleo menyebut nama itu
"Dia mengejarmu, sepertinya dia menyukaimu. bagus sih--lelaki gentlemen." ujar Mama Sarah dalam penilaiannya
"Tapi dia lelaki menyebalkan." protes Melani
__ADS_1
Dan juga mesum. sambungnya didalam hati
🌴🌴🌴