
πΏπΏπΏ
Perlahan Melani mendongak mengangkat kepalanya melihat sang pemilik suara yang menyapanya, terlihat Nyonya Jannete, Alex dan Jenny yang baru saja tiba di ruang tamu dengan raut wajah yang sulit diartikan. Melani kembali menunduk, tidak tahan melihat wajah datar itu lagi.
"Maaf, Nyonya, Mas Alex dan Kak Jenny." lirihnya, mereka bertiga mendudukkan diri diatas sofa, tepatnya disisi kiri dan kanan gadis itu, sedangkan Alex duduk di sofa tunggal
Sentuhan tangan dibagian pundaknya terasa meremang, bulu kudunya merinding, apakah tangan itu akan meremat pundaknya atau hanya sekedar sentuhan saja? entahlah, keadaan ini sungguh membuat hatinya berkecamuk hebat.
"Kamu tidak salah, lihat saya." tangan itu beralih mengangkat dagunya, Melani mendongak menatap wajah cantik yang masih terlihat awet muda itu. sontak saja tubuhnya ditarik ke depan hingga memeluk wanita tersebut, tepatnya wanita tersebut yang memeluknya. Melani tertegun
"Jangan menangis, oke? kamu tidak salah kok, perbuatannya yang salah karena sudah memperkosa ibu kamu." Perempuan itu mengusap punggung Melani yang tampak bergetar menahan tangis
"Ta-tapi--keluarga ini jadi berantakan karena kehadiran saya, hiks hiks hiks ... maaf ..." Melani tak bisa lagi menahan tangisnya, air matanya lolos sempurna membasahi kulit wajahnya
"Tidak .... kami hanya kecewa atas apa yang dilakukan Papi Axel, bukan karena kehadiran kamu, Melani. malah saya senang kok ada anggota baru lagi di keluarga ini, walaupun kamu bukan anak kandung saya, tapi adik biologis dari Alex dan Jenny."
"Saya lega akhirnya rahasia ini terkuak oleh Papi kamu, pria itu berani jujur dan menerima dengan lapang dada atas apa yang telah diperbuatnya, jadi tidak ada sangkut-pautnya dengan kamu ... Yang namanya anak itu tidak bersalah, dia tidak meminta untuk dilahirkan, karena perbuatan lelaki brengsek itu yang salah, jadi jangan salahkan kamu. Ibu kamu juga tidak salah, dia sempat memberontak, bukan? karena salah satu kekurangan ia tidak bisa berbuat banyak atas perbuatan bejat suami saya. jadi jangan salahkan diri kamu, ibumu juga tidak bersalah." jelasnya panjang lebar
Melani mengangguk, menguraikan pelukan mereka sembari menyeka air matanya. Ia melihat ada senyum diwajah itu. "Kenapa hati Nyonya baik sekali? seharusnya Nyonya juga membenci saya." Melani tersanjung
__ADS_1
"Untuk apa saya membenci gadis pemberani seperti kamu? yang berani menampakkan wajahnya didepan kami. justru saya akan benci, kalau kita bertemu tapi tidak menegur saya setelah kejadian ini." ucapnya, mengusap air mata Melani hingga kering. Melani terkekeh kecil, kembali memeluk wanita parubaya tersebut dan kembali menarik tubuhnya. Melani beralih menatap Jenny, wanita itu mengulum senyum dan memeluknya dengan hangat. "Sering-seringlah main kesini, ya ... Aku ingin tahu gimana rasanya punya adik." celoteh Jenny sembari terkekeh
"Aku juga ingin tahu gimana rasanya punya Kakak, tapi kita tidak main barbie dan masak-masakkan, kan?" Melani terkekeh
"Kamu lucu!" Jenny merasa gemas dengan wanita itu
Melihat kedua wanita itu akur dengan anggota baru keluarganya, menuntun Alex untuk berdiri menghampiri Melani, merentangkan kedua tangannya untuk wanita tersebut. "Tidak ingin memelukku?" ucapnya untuk pertama kali
Sontak saja Melani berdiri dan berhambur memeluk kakak tertuanya. "Mas .... maafkan, Melan, ya ..."
"Nggak ada kata maaf, oke? Aku sudah berusaha mengubur perasaan itu dalam-dalam." ucapnya, mengecup pucuk kepala Melani lalu melepaskan pelukannya
"Apakah Ibu kamu sudah mengetahui hal ini?" tanya Mami Jannete, Melani menggeleng
"Kenapa? dia juga berhak tau."
"Aku takut, Ibu pasti akan sedih."
"Ibu kamu pasti akan lebih sedih jika saja kalau melihat kalian tanpa sengaja, mau sampai kapan ini disembunyikan? lebih baik kamu katakan dengan baik, pelan dan hati-hati. toh kamu tidak mungkin diambil alih oleh suami saya."
__ADS_1
Melani mengangguk, "Nanti saya coba, Nyonya."
"Jangan Nyonya! tapi Mami, sama kayak yang lainnya." tegas wanita itu, Melani mengangguk sembari tersenyum.
"Ohya, saya kesini bawa seseorang, ingin berbicara sama Mas Alex." Seketika Melani teringat akan Raffa
"Siapa? kenapa nggak dibawa masuk?" tanya pria tersebut
"Sebentar." Melani pamit permisi ingin keluar dan bertemu kekasihnya
Tidak berselang lama, Melani kembali muncul dengan memggandeng tangan Raffa, pria itu menyalimi tangan anggota keluarga ini dengan sopannya. mendudukkan tubuh di kursi tunggal tepat diseberang Alex. Raffa pun mulai mengutarakan niatnya kepada mereka, selaku kakak kandung wanita yang ia cintai. Meminta restu ingin menikahinya sekaligus bersilaturahmi dengan mereka.
Sebenarnya ada goresan luka yang tersayat dihati Alex, namun mau bagaimana lagi--ia harus merelakan wanita yang ia cintai untuk dimiliki pria lain. walau bagaimanapun, ia juga tidak bisa memiliki Melani menjadi sandaran hidupnya, hanya sebatas adik dan kakak. Sungguh miris nasibmu, Alex.
"Ada syaratnya jika ingin restu dariku." Alex tersenyum seringai
Cih! batin Raffa
πΏπΏπΏ
__ADS_1