JONES, Dipaksa Jatuh Cinta

JONES, Dipaksa Jatuh Cinta
Ternyata Pendusta


__ADS_3

🌴🌴🌴


"Pandai sekali kau berbohong! muffin-nya saja sampai habis kamu lahap." cibir Melani menatap sinis padanya


"Karna sayang sekali kalau terbuang! makanya aku habiskan. masih syukur ada yang mau." balas Raffa


"Ah, aku nggak yakin kalau itu nggak enak." Melani menyambar muffin yang belum dicicip dari ditangan Raffa. perempuan cantik itu langsung melahapnya saat itu juga untuk mencobanya.


Raffa memperhatikan dengan lekat saat mulut itu tengah mengunyah, lidah membasahi area bibir saat dirasa ada sisa makanan yang masih membekas di ranum itu. terlihat menggoda, Raffa menelan air salivanya dengan kasar. seumur-umur ia belum pernah mencicipi bagaimana rasanya mulut wanita. otak sucinya dalam sekejap terkontaminasi akan pikiran yang masih bergelayut oleh adegan romantis sepasang suami istri yang melakukan hal tidak senonoh dihadapannya saat tempo lalu.


Hingga lamunannya seketika pecah tatkala Melani mengganggu fantasinya.


"Woi! apa yang kau pikirkan! melamun wae." Melani menepuk pundak lelaki dihadapannya


"Hmm, enggak, enggak ada." jawabnya, tidak mungkin ia mengatakan tengah berkhayal mencicipi bibir wanita ini, bisa kena tonjok dia seperti yang dirasakan bossnya


"Pria aneh. ku rasa lidahmu juga rada sakit deh,"


"Kenapa gitu?" Raffa belaga tidak tahu


"Ini enak, tau! apa perlu lidahmu itu diservis? biar kembali normal."


Raffa mengangguk dengan tatapan teduh menatap wanita cantik dihadapannya. "Iya, lidahku ingin diservis dengan sesama jenisnya." ujar pria tersebut dengan bahasa ambigu, antara sadar dan setengah sadar


Melani mengernyit, "Maksudnya?"


"Eh, ehm, tidak ada!"


"Kau semakin aneh." cibir Melani

__ADS_1


"Kamu tau? yang aku makan tadi rasanya memang benar-benar tidak enak. ku rasa kamu membuat adonannya ada yang salah deh? masa ada yang manis, ada yang tidak. aaaah ... mungkin saja dirimu ngadonnya kurang gula, sedangkan yang manisnya pas pasti buatan pegawaimu. benar kan? yaiyalah. pantasan saja Boss mengurungkan niatnya untuk mempromosikan." cerca Raffa dengan kalimat yang panjang kali lebar kali tinggi bervolume kecepatan kereta api.


"Berapa lama lagi kalian betah berdua?" suara bariton milik Presdir Andrew menyela percakapan sepasang insan itu. Ia menyelonong masuk ke ruang sang Assisten.


"Tuan." Melani bangkit berdiri dan menunduk hormat


"Hm. ayo kita keluar, sudah saatnya makan siang." ajak Tuan Andrew, mereka mengangguk dan melangkah keluar ruangan mengikuti langkah lebar pria itu


**


Kini mereka bertiga telah tiba di sebuah Restorant, menempati meja dibagian tengah di dekat jendela kaca. langsung disuguhi banyaknya kendaraan yang berlalu lalang kala siang itu.


"Hmmm, kita nggak ke rumah, Tuan?" tanya Melani, biasanya pria itu pasti menyempatkan waktu untuk pulang hanya karena ingin menikmati makan siang bersama sang istri


"Kali ini tidak. ada yang ingin saya bicarakan tentang Chika," ujarnya


Melani mengernyit heran, sedikit mencondongkan tubuhnya. "Ada apa dengan Chika?"


"Sebentar lagi dia ulang tahun, kamu nggak ingat ya?"


"Oh, astaga! tentu saja saya ingat."


"Hah, syukurlah. jadi--saya ingin kamu membuat kue ulang tahun yang super enak dan lezat." ucap Andrew


"Wah, kalau itu mah saya sudah terpikirkan dari kemarin-kemarin." seru Melani


"Hmm, terima kasih. dan juga--bisa nggak kamu hubungi rekan kerja Chika saat magang? siapa itu?" Andrew tampak berpikir keras


"Chef Frans!"

__ADS_1


"Ah, iya!" Andrew membunyikan penyatuan jempol dan jari telunjuk


"Untuk apa, Tuan?" tanya Melani, Andrew pun mulai mengutarakan niatnya kepada Melani, meminta sesuatu kepada Chef Frans untuk kepentingan surprise yang akan ia berikan kepada sang istri.


Melani tersenyum sumringah, secepatnya ia akan menyampaikan maksud dari permintaan Tuan penguasa ini.


"Terima kasih, ya ... dan satu lagi, cake di toko kamu benar-benar enak. semua pemegang saham yang mencicipinya memberikan banyak jempol untuk kamu." ujarnya dengan senyum yang manis


"Ohya??" Melani terbelalak dengan senyum bahagia yang terpancar di bibirnya. namun, seketika surut tatkala ia menoleh menatap pria di sampingnya ini, Raffa.


"Ternyata kau pendusta!" sembur Melani kepada Assisten Raffa


Tuan Andrew mengernyit heran, "Ada apa dengannya?"


Melani kembali menatap suami orang. "Assisten Tuan ini mencela kue ku." adunya, menunjuk hidung pria disampingnya


"Ppppfffft!! benarkah?" Andrew beralih menatap sang Assisten yang sedari tadi hanya diam menyimak


Lelaki itu hanya cengengesan tidak jelas


"Astaga kau ini!" Andrew menggeleng-gelengkan kepala


Hingga pelayan tiba menghentikan sejenak keriuhan mereka bertiga. Melani menatap damba pada beberapa makanan yang tersajikan terlihat sangat menggiurkan. bahkan air salivanya hampir saja menetes, menggugah selera sekali.


"Silakan, Tuan, Nona."


"Terima kasih." hanya Melani yang menjawab, kedua pria ini benar-benar dingin terhadap wanita lain


Saat ingin menyantap menu dihadapannya, tiba-tiba saja ada seseorang yang menepuk pundak milik salah satu dari mereka bertiga.

__ADS_1


🌴🌴🌴


Siapa ya?? hmmm ......


__ADS_2