
🌴🌴🌴
Andrew dan Chika memerhatikan interaksi mereka dari balik Cctv yang terekspos di layar laptop nya. kini mereka berada di ruang kerja, memantau apa saja kegiatan dua insan itu. hingga keduanya terbelalak saat melihat Raffa naik ke atas tubuh Melani.
"Apa yang dia lakukan?" tanya Chika
"Naik ke tubuh Melani, Sayang."
"Iya tau! apa dia ingin memperkosanya?"
"Mungkin saja."
"Akh, gila!!" Chika mencubit perut suaminya, membuat pria itu meringis kesakitan
"Tidak melakukan apapun, mungkin hanya berbicara." sambung Chika, Mama muda itu masih menatap lekat pada tampilan layar tersebut.
Di kamar pasutri,
"Memangnya kamu tidak mau merasakan surga dunia seperti apa?" tanya Raffa, menatap lekat wajah dihadapannya yang diukir sempurna oleh sang Maha Pencipta, sebuah mahakarya dengan bentuk bibir nan menggoda, sepasang netra yang indah
"Eng-enggak! awas ih!" Melani memberontak, berusaha mendorong tubuh kekar pria yang masih betah berada diatas tubuhnya
"Tidak akan! ini akibatnya kamu lancang sekali menggelitiki tubuhku."
"Lalu, kau mau memperkosaku, gitu!" Melani melotot, mencoba melawan pria ini
Raffa menyeringai. "Tentu saja. aku akan memanjakan tubuhmu dengan gelora rasa yang penuh kenikmatan." lirihnya, mata Raffa beralih menatap bibir Melani hingga turun ke leher jenjang nan putih bersih itu. terlihat menggoda saat Melani menelan salivanya dengan kasar
"Coba saja kalau berani!" tantang Melani
__ADS_1
"Ohya??" Raffa semakin antusias dibuatnya
"Ya, coba aja! aku yakin kamu pasti tidak ber--
Kalimat yang dilontarkan oleh Melani seakan tertahan tatkala mulutnya benar-benar disumpal oleh pria ini. Melani terbelalak, matanya membulat saat merasakan hangatnya sentuhan bibir Raffa. Li*ah pria itu menyapu setiap rongga mulut milik Melani, memaksa li*ah perempuan itu untuk membalas ******* yang ia berikan. Melani terpaku, tubuhnya menegang tatkala sesuatu didalam mulutnya mengajak untuk beradu. Melani masih tidak berkutik, tatapannya beralih menatap mata Raffa yang terpejam seolah sedang menikmatinya. hingga pergerakan didalam sana terhenti dan sepasang netra milik lelaki itu juga memandangnya. tatapan keduanya terkunci saat itu juga, seakan keduanya masih tidak percaya atas apa yang terjadi didalam ruangan ini.
Raffa bangkit dari tubuh Melani, mendudukkan tubuhnya di bibir ranjang sembari berdesah frustasi atas apa yang ia lakukan kepada gadis ini. Raffa mengusap wajahnya dengan kasar, sedikit menoleh kepada wanita yang masih diam di ranjang.
Melani termanggu, pandangannya menatap langit-langit kamar sembari menyentuh bibirnya yang basah.
"Brengsek!" Melani memukul-mukul punggung pria disampingnya, sedang duduk menatap kosong ke arah luar
"Maaf." lirih Raffa, menoleh sekilas menatap Melani
"Ini ciuman pertamaku dan kau lancang sekali mencurinya!" Melani masih saja memukul-mukul punggung pria itu. Raffa bangkit berdiri, menarik tangan Melani ingin membawanya pergi dari sana
"Kita kelarin ini diluar, kau lihat? si kembar sedang tidur!"
"Hhh ... ke balkon." ucapnya, kembali menarik tangan Melani, wanita itu merasa kelimpungan mengikuti langkah kaki Andrew.
Tibanya di Balkon, sepasang jomblo yang baru saja merasakan gelora hasrat membara untuk pertama kalinya, berdiri menatap alam bebas diluar sana yang terpampang indah. Melani berdecak frustasi, pria ini masih saja diam.
"Kau tau, rasanya aku ingin menamparmu!"
Plak!
Melani berhasil menamparnya saat pria itu menoleh kepadanya.
"Kenapa nggak sakit?" tanya Raffa dengan polosnya
__ADS_1
Melani menghela nafas panjang, ia juga bingung kenapa tidak menamparnya dengan keras saja.
"Aaakh! kau jahat! seharusnya ciuman itu untuk suamiku, bukan kamu!" Melani berdecak, mendudukkan tubuhnya di bangku besi dengan kasar
"Hei, ini juga ciuman pertamaku, tau!" balas Raffa
Melani menatapnya sinis, sungguh tidak percaya. "Kau, pria mesum seperti mu, baru kali ini berciuman?"
Raffa mengangguk.
"Bohong kali!" cibirnya
"Terserah. dan ini juga salahmu sudah lancang menggangguku." gerutu Raffa
"Hah! hanya gara itu?" Melani bangkit berdiri, berkacah pinggang dihadapan Raffa
"Ya. dan kau juga menantangku."
"Aku kira kau tidak berani," gumam Melani tanpa terdengar oleh pria itu
"Aku tidak mau ketemu kau lagi, bye!!" Melani melenggang pergi meninggalkan pria tersebut. jujur, ia sangat kesal kepada Raffa yang telah lancang mencuri ciumannya. namun--disisi lain, ia merasakan sesuatu yang aneh, sesuatu yang masih membuatnya bingung. seolah ia tidak bisa marah dan perasaan ini benar-benar mengkhianatinya. antara suka dan tidak, seolah ciuman itu memberikan gelenyar aneh didalam hatinya.
Melani bernafas lega, akhirnya pintu kamar itu tidak lagi terkunci. pikirannya tidak lagi memikirkan sang pemilik rumah, gadis itu melenggang pergi dengan tatapan kosong, masih berfikir atas rasa yang hinggap dihatinya.
Apa aku menyukai ciuman itu? kenapa aku tidak marah besar padanya? kenapa pula aku tidak menangis! apa karna rasanya nikmat? tapi dia bukan orang yang ku cintai, seharusnya kita senang karna bersama yang dicintai, bukan? lalu--kenapa ini aneh? aku ingin menangis, tapi air mataku tidak bisa keluar. aaaaaakkkkh!!!
Melani berdecak kesal, ia melangkah dengan cepat menelusuri jalanan perumahan itu. tidak peduli ini tengah hari dan cuacanya sangat panas, hanya saja ia tidak ingin bertemu pria itu lagi. lebih baik berjalan sejauh apapun hingga bertemu taksi ataupun angkutan umum diluar sana.
Raffa menatap kepergian Melani yang berjalan kaki dibawah sana, dirinya juga tak kalah bingung, padahal ia hanya ingin mengancamnya saja. namun bibir itu semakin terlihat menggoda dan hasratnya selalu menuntun untuk menyergapnya. Raffa semakin tidak bisa menguasai tubuhnya, hati dan logikanya bertolak belakang saat itu.
__ADS_1
"Apa dia marah? aku jadi merasa bersalah."
🌴🌴🌴