
πΏπΏπΏ
Hiruk pikuk banyaknya pengunjung disebuah Taman Fatahillah tampak meramaikan suasana pada siang hari ini. Berjalan kesana kemari bersama pasangan, teman, bahkan keluarga untuk menghabiskan waktu bersama. Ada yang yang menaiki sepeda ontel untuk menjelajahi tempat tua ini, ada yang memberikan makanan kepada para burung-burung yang menggemaskan, menyaksikan pertunjukan yang disuguhi pada tempat tersebut, bahkan ada yang mengunjungi museum bersejarah didalam gedungnya.
Melani dan Raffa sangat euforia sekali memberikan makanan kepada sekumpulan burung didekatnya, tak hanya mereka, beberapa orang melakukannya. Raffa mengambil satu burung berwarna putih, menaruhnya diatas pundak dan memamerkannya kepada Melani.
"Wah ... dia anteng banget bersamamu, Yang!" seru Melani, memberikan biji-bijian kepada burung tersebut
"Jangankan manusia, hewan pun betah bersamaku." lagaknya
"Hmm ... sombong!" Melani meninju perutnya, pria itu malah tergelak dihadapan wanita cantik ini. Melani tidak ingin menanggapi, ia masih betah memberikan makanan kepada burung cantik ini
"Aaah ... moment seperti ini sangat disayangkan kalau tidak berfoto." desis Melani, merogoh ponsel didalam tas selempang miliknya, wanita itu meminta bantuan seseorang untuk memotret dirinya dan Raffa bersama burung dipundaknya.
Sangat keren dan estetik sekali
Kini keduanya menikmati suasana Taman dengan berkeliling menaiki sepeda onthel, Raffa yang melajukannya, sedangkan Melani duduk dibelakang pria itu sembari memeluknya. Sungguh menyenangkan, bukan? sangat jarang sekali keduanya menghabiskan waktu ditempat keramaian seperti ini.
**
Sudah lima hari sepasang insan ini dipingit, dilarang untuk bertemu maupun berkomunikasi. Bahkan Melani dilarang untuk keluar rumah, kecuali jika ingin ke kediaman saudaranya, itu pun ia dijemput oleh sopir pribadi Mami Jannete. Kini wanita cantik itu sedang bersama dengan Jenny, membuat kue pai yang pernah dipesan oleh Mama Jannete saat pertama kali mereka bertemu. Ternyata keluarga ini sangat menyukai kue mini tersebut, hingga Jenny lebih berminat untuk membuatnya, sekaligus Melani mengajarkan wanita itu untuk membuat cemilan tersebut.
"Agak rumit, nggak sih?" gerutu Jenny
"Untuk awal belajar mah memang gitu, Kak, kalau udah biasa, nggak lagi kok." ucap Melani
"Iya, sih. Kamu hebat banget, bangga deh punya saudara yang bisa bikin segalanya."
"Kakak bisa aja." Melani tersipu malu
__ADS_1
"Kangen nggak, sama doi?" godanya sembari tersenyum usil
"Is, jangan diingatinlah, Kak!" Melani mencebikkan bibirnya sembari berdecak kesal.
"Hahahahah ... aku suka godain kamu, tau!" Wanita itu tergelak
"Aku makin rindu sama dia, biasanya kita sering bersama, lima hari ini enggak lagi." keluhnya
"Sabar, Mel ... besok hari terakhir kamu dipingit, lusa malah udah nikah, cie ... cie ..." godanya
"Ah, kakak ... aku nggak sabar nunggu lusa."
Jenny tersenyum manis menatap adiknya yang hanya berjarak beberapa bulan itu. Ia turut bahagia melihat wanita ini telah memiliki pasangan yang akan menghalalkannya, hidupnya terlihat sempurna karena telah memiliki orang-orang tercinta.
"Sebelum malam pertama, kamu harus wangi dan kinclong ... besok kita ke spa untuk melakukan perawatan. Pasti suami kamu senang."
"Semalam kan udah, Kak."
"Aku mah nurut aja selagi menyenangkan." seru Melani sembari mengulum senyum
Ditempat yang berbeda, disebuah Restoran kala menjelang sore itu, Presdir Andrew dan Assisten Raffa sedang melakukan pertemuan dengan salah satu Kliennya, membahas sesuatu yang penting demi kerja sama antar perusahaan. Raffa yang tidak terlalu fokus, pandangannya selalu mengarah keluar jendela kaca transparan, melihat kendaraan yang berlalu lalang untuk mencari sang pujaan hati. Siapa tahu Melani keluar rumah dan melewati jalanan itu.
"Hei! jangan dipikirkan terus, lusa ketemu, oke?" tegur Andrew
"Emang menyesakkan ya, kalau sedang dipingit gitu." sahut Klien nya, Raffa mengangguk sembari tersenyum getir
"Besok kamu mulai cuti, rilekskanlah pikiran kamu tuh, di rumah. hafalkan juga kalimat ijab qobul besok."
"Udah hafal kali!" ketusnya
__ADS_1
"Hafalkan terus, siapa tahu setelah lama tidak bertemu malah grogi." ledek Andrew, membuat pria itu mendengus kesal, sedangkan mereka malah menertawakannya.
Sungguh malang sekali nasib kedua JONES yang sudah bucin ini
π·
Hari yang dinantikan oleh semua orang pun telah tiba, khususnya sepasang insan yang akan segera menyandang status suami istri ini. Pada pagi buta sekali, keluarga Melani telah tiba di Hotel, tempat penyelenggaraan akad pernikahan, sekaligus acara resepsi di Gedung tersebut. Suasana pagi masih tampak gelap, semua orang pasti sedang nyaman berada dibawah selimut. Namun tidak untuk Melani, wanita cantik itu baru saja selesai mandi, menghabiskan waktu hampir dua jam didalamnya bersama para wanita yang ditugaskan untuk memberi luluran disekujur tubuh dan pijatan rileksasi.
Aroma wangi dari tubuhnya pun menguar kuat memasuki celah lubang hidung siapa saja yang berada disisinya, mereka yang bekerja untuk menjadikan wanita ini seperti Cinderella, tersenyum puas dengan hasil karya mereka didalam kamar mandi tersebut. Wanita cantik mengenakan kimono itu baru saja keluar dari kamar mandi, ia tampak segar dan menyejukkan mata
"Sarapan dulu, Nona, seharian penuh anda harus kuat dan bertenaga,"
Melani menatap banyaknya makanan diatas stroller itu, khusus untuknya. Wanita itu mengangguk, turut makan bersama dengan mereka yang menemaninya.
"Terima kasih, ya ... kalian juga jangan canggung sama aku." ucap Melani, diangguki oleh para wanita tersebut
Setelah selesai sarapan dan beristirahat sebentar, salah satu dari mereka yang berprofesi sebagai penata busana menghampirinya, menyodorkan pakaian kebaya untuk akad nikah berlangsung. Melani menyambutnya, bergegas mengenakan pakaian itu.
Waktu terus berjalan dengan begitu cepat, tidak terasa sudah pukul sembilan pagi, Mama Sarah dan Mami Jannete menghampirinya. tepat sekali, calon mempelai wanita baru saja selesai dirias.
"Sudah selesai? keluarga mempelai pria sudah datang." ucap Mami Jannete
"Berarti akad nikah akan dimulai, Mi?" Melani tampak antusias, jelas sekali ukiran senyum manis nenghiasi wajahnya
"Ya, ayo!" kedua wanita parubaya itu menggandeng tangan mempelai wanita disisi kiri dan kanannya. Mereka berjalan dengan anggun menuju pelataran akad yang telah dinanti banyak orang.
Setelah sekian lama, akhirnya sepasang sejoli itu saling bertatapan dan bertemu, tubuh Melani membeku, ia begitu gugup dengan calon suaminya. Sedangkan Raffa, jantung pria itu berdegup sangat kencang, seakan ingin lepas dari tempatnya. Apalagi melihat wajah cantik itu, membuatnya semakin terpana.
"Super sekali!" gumamnya
__ADS_1
πΏπΏπΏ