JONES, Dipaksa Jatuh Cinta

JONES, Dipaksa Jatuh Cinta
Mau Dibawa Kemana


__ADS_3

🌿🌿🌿


Hari telah berlalu dengan begitu cepat, pada hari ke sembilan sepasang suami istri memutuskan untuk kembali ke tanah air setelah menghabiskan waktu di Maldives dan Kota Paris. mengunjungi beberapa daerah dan tempat wisata alamnya begitu membuat Melani merasa takjub dan terpukau. Ia ingin kesana lagi, apalagi melihat secara langsung Menara Eiffel yang diidolakan Dunia itu.


Suasana di Maldives dan Paris benar-benar menenangkan, kedua kota romantis yang dijuluki dunia itu memang tidak ada duanya. Memberikan kesan intim pada pasangan untuk ditempati dan dijelajahi, wajar saja kedua Kota itu menjadi objek untuk berbulan madu oleh pasangan muda.


Waktu yang singkat membuat liburan kurang memuaskan, namun tetap bersyukur telah menatap Dunia yang luas ini. Kini sepasang pengantin baru itu pun telah menginjakkan kaki di tanah air setelah turun dari pesawat milik keluarga Melani. keduanya langsung di jemput oleh anak buahnya Raffa.


"Pagi, Boss! tampak segar setelah berbulan madu." ledek anak buah yang dekat dengannya, bagaikan teman sendiri yang selalu ia ajak ke Club kala belum menemui cinta sejati.


"Oh, jelas! emang kau belum merasakan surga diatas api suci." sindirnya


"Biar tidak suci yang penting sudah." balasnya, menyambut stroller yang berisi tiga koper, lalu mendorongnya


"Cih, itu saja bangga." gumam Raffa, menggenggam tangan istrinya dan berjalan mendahului pria itu.


Kini mereka telah di perjalanan menuju kediaman orang tuanya, padahal Raffa sudah berniat ingin membeli Apartement namun dilerai oleh orang tuanya agar tetap tinggal di rumah. Mau tidak mau ia pun menurut, ia paham pasti Mama akan merasa kesepian bila hanya tinggal seorang diri.


Raffa mengernyit heran, mengapa pria itu membawa mobil ke jalan berlawanan? padahal kediamannya ke arah sana, dan sang anak buah malah membawanya entah kemana


"Apa kau tidak dengar kalau kita ke rumah orang tuaku, hah?" Raffa menendang punggung kursi kemudi

__ADS_1


Namun pria itu tetap diam saja, sesuai perintah dari atasannya


"Hei, apa kau budeg!" Raffa makin meradang


"Sayang, sudahlah ... mungkin dia mau ke sesuatu tempat dulu. mana mungkin dia macam-macam, kan? dia anak buahmu." Melani menenangkannya


Raffa menghembuskan nafas dengan kasar, kembali mendekap istrinya yang tampak kelelahan setelah perjalanan panjang dari Paris. mengecup keningnya untuk memberikan semangat. Raffa semakin heran, ini adalah jalan menuju kediaman Andrew, sang atasan. dan mobil berbelok menuju komplek perumahan itu? sungguh membingungkan baginya.


"Kenapa kita malah ke rumah Chika, Yang?" Melani terkesiap melihatnya


"Entahlah, aku pun bingung. orang ini sudah seperti orang bisu saja tidak mau menjawab pertanyaan ku." dengus Raffa


"Oh, mungkin Tuan Andrew ingin bertemu denganmu lebih dulu, siapa tahu urusan pekerjaan yang sudah lama kamu tinggal." tebak Melani dengan pikiran positif yang masuk akal baginya


Hingga mobil telah tiba di depan kediaman itu, anehnya--kendaraan tersebut malah berhenti disisi jalan sebelah kanan. Raffa menoleh ke sisi kanannya, tepatnya diseberang kediaman Andrew, ini adalah rumah yang baru saja dibangun entah oleh siapa, sudah tampak selesai hingga membentuk rumah yang sempurna.


"Waw, cepat juga ya, rumah ini selesainya ... terakhir kemari rumah itu lagi dibangun." ucap Melani


"Iya, Yang, pengerjaan mereka memang cepat. sudah punya tetangga baru saja sahabatmu itu." sahut Raffa


"Silakan, Tuan." anak buahnya menyela, sudah membukakan pintu untuk atasannya tersebut. Raffa dan Melani bergegas turun dari mobil, keduanya menatap heran melihat dua orang wanita parubaya yang berpakaian sederhana layaknya seorang pembantu, berlari terbirit-birit dari rumah baru itu menuju mobil mereka. Raffa memerhatikannya, mereka menyambut koper yang diberikan anak buah kepada mereka.

__ADS_1


"Tunggu, kalian siapa?" Raffa mencegah langkah mereka, bisa-bisanya membawa barang miliknya


"Hei, Bibi! jangan hiraukan dia, bawa masuk ke dalam!" titah anak buahnya, mereka mengangguk dan melanjutkan langkahnya


Raffa semakin meradang namun ia tetap bersabar setelah mendapat elusan dilengannya dari sang istri.


"Sudahlah, Boss, mending kita masuk dulu." ajaknya, menunjuk ke rumah itu


Raffa mendengus kesal, baru saja tiba dirinya malah dibuat emosi oleh kelakuan anak buahnya yang bersikap misterius. pertama, membawanya ke arah kediaman Andrew. kedua, membawanya ke rumah asing yang entah siapa pemiliknya.


"Ayo, Yang! mending kita lihat dulu apa yang terjadi didalam." ajak Melani, ia tetap bersikap tenang hanya untuk menenangkan hati suaminya. Raffa mengangguk dan menggandeng tangan sang istri.


Sepasang pengantin baru yang masih hangat-hangatnya ini, melangkah melewati pekarangan kediaman tersebut. lalu melangkah dengan ragu menginjak lantai itu, sebab sang pemilik rumah tidak menyuguhkannya untuk masuk. tapi anehnya, anak buah malah tidak tahu sopan santun tatkala menyelonong masuk tanpa permisi.


"Permisi ..." sorak Melani


"Nyonya, mari silakan masuk." sela Bibi yang tadi, baru saja muncul


Melani dan Raffa bergegas masuk ke dalam rumah tersebut, menatap design rumah yang wah, membuat perempuan tersebut sangat terpana. furniture ruang tamu, plafon, semuanya sangat indah.


Saat ingin melewati sekat menuju ruang keluarga, tiba-tiba saja keduanya dikejutkan oleh sesuatu.

__ADS_1


🌿🌿🌿


__ADS_2