
🌴🌴🌴
Keheningan malam pada dinihari dihiasi dengan suara merdu yang menggema disalah satu ruangan yang terang akan pencahayaan. kala seluruh umat telah terlelap dengan nyamannya, sepasang insan yang baru saja menyandang suami istri tampak sangat semangat melakukan kolaborasi atas cinta mereka diatas panggung singgasana.
Gemerlap bintang dan bulan yang menghiasi langit malam, hanya diam berkedip, mendengar suara merdu yang mengalun indah terbawa oleh angin malam yang mencoba untuk membawa suara indah itu.
Raffa tidak henti-hentinya menguasai sang istri yang sudah terkulai lemas, mengayunkan anggota tubuhnya dengan kecepatan sedang sembari melenguh merasakan sensasi didalam sana. ini pertama kali untuk keduanya, Raffa benar-benar candu dengan kemolekan sang istri. tubuh yang terus menghantam, bib*r yang terus menelusuri setiap jengkal tubuh mulus itu, bahkan memberikan sebuah tanda pada kulit putih itu.
Melani mengerang, tubuhnya bergelinjang saat Raffa memainkan perutnya, terasa sangat geli.
"Melani ..." Raffa mendongak menatap wajah sang istri, sesuatu didalam sana sudah mulai mengeluarkan sesuatu. Raffa semakin menghentaknya dengan kuat, mendiamkan miliknya agar cairan hangat menyembur deras memasuki perut sang istri. Pencapaian ini yang paling ditunggu, sebab sensasinya begitu membuat dua raga itu merasa lega. keduanya melenguh bersamaan, Raffa menyatukan mulut keduanya.
"Terima kasih, Sayang." Raffa mengecup kening sang istri, melepaskan miliknya dari dalam sana, lalu menjatuhkan tubuhnya disamping Melani. perempuan itu tidak berdaya lagi, ia memeluk sang suami dan membenamkan wajahnya didada kekar yang basah oleh keringat.
**
"Mereka belum bangun juga?" tanya Papi Axel kepada semua rombongannya di Restorant Hotel tersebut. kini telah pukul delapan pagi, keluarga itu sudah berkumpul untuk sarapan pagi.
"Aku telpon Melani ya, Pi." usul Jenny, Papi Axel mengangguk. baru saja ingin membuka kontak whatsapp di ponselnya, tiba-tiba saja Papa Rafi mencegah gadis tersebut.
"Jangan! biarkan saja mereka, tau sendirilah apa yang terjadi." Ayah dari Raffa itu mengerlingkan mata kepada semua orang yang seusia dengannya, memberi kode bila sepasang pengantin baru itu pasti sedang terlelap karena malam pertama yang begitu panjang.
__ADS_1
Sontak saja Papi Axel, Mami Jannete, dan Mama Risha tertawa terbahak-bahak, kecuali Mama Sarah yang hanya tersenyum sembari menggeleng-gelengkan kepala. ada benarnya juga apa yang dikatakan besannya itu. sedangkan Jenny dan Alex, menutup wajahnya bersamaan karena merasa malu sekali dengan pikiran kotor keduanya.
"Kalian nggak tau malu, ada yang jomblo nih!" sela Alex
"Makanya cari pasangan dan menikahlah." titah sang Mami
"Hmm ...." Alex memutar bola matanya, jengah.
Keluarga besar itu pun mulai menyantap hidangan sarapan pagi setelah pesanannya terhidangkan diatas meja persegi panjang itu. tidak mempedulikan sepasang anak manusia yang masih betah di kamarnya, entah masih terlelap ataukah--bertempur.
Raffa dan Melani masih betah didalam selimut, posisi yang masih sama yaitu saling mendekap, berpelukan satu sama lain. tidak mempedulikan suasana cerah diluar sana, untung saja sang mentari tidak menyoroti sepasang insan ini. wajah lelah begitu terlihat, bagaimana tidak--sedari matahari belum terbit hingga matahari terbenam, keduanya sudah bergelut dengan pernikahan, setelahnya berlanjut dengan kegiatan panas yang begitu menguras tenaga.
Menit demi menit berlalu, sepasang mata menatap lekat wajah seseorang dihadapannya. ia sedikit mendongak, wajah tampan menghiasi netranya secara penuh. rupanya Melani sudah terbangun, namun masih betah dipelukan suaminya. rasanya enggan untuk beranjak, apalagi menguraikan lingkaran tangan kekar ini di perutnya.
"Ah, bahkan kini kita tidak ada jarak sedikit pun, sampai aku dapat merasakannya." Melani tergelak merasakan sesuatu yang loyo milik sang suami dibawah sana. bahkan si kembar juga menempel diantara perut dan d*da
"Lalu--kenapa kalau sekarang kamu dapat merasakannya?" suara bariton itu, sontak mengagetkan Melani saat jari telunjuknya melukis dada berotot di hadapannya
"Eh!" Melani terlonjak, langsung mendudukkan tubuhnya sembari meringis di area sana
"Baring lagi!" Raffa merengkuh tubuhnya
__ADS_1
"Enggak! aku mau mandi, udah siang tau!" ia meronta ingin dilepaskan
"Nanti saja, ayo baring lagi."
"Enggak! aku capek, tau!" dengus Melani
"Kamu yang memulainya, bukan? kamu bahkan senang saat merasakannya"
"Bukan! udah ih, aku lapar, pengen mandi dulu." Melani bergegas mengambil kimono miliknya yang tergeletak diatas lantai
"Mandi berdua?" ajak Raffa
"Sendiri-sendiri saja." tolak Melani
Raffa tersenyum seringai, ia bergegas bangkit berdiri lalu merengkuh tubuh mungil itu kembali dalam dekapannya.
"Mas Raffa! turunkan!" Melani memukul-mukul dadanya
"Mandi berdua lebih baik untuk saat ini, bukannya kamu lapar, hm? sangat membuang waktu bila mandi bergantian." oceh Raffa, langsung menaruh tubuh Melani diatas wastafel. Raffa bergegas mengisi air didalam bathup, tidak lupa memasukkan bath bomb kedalamnya.
"Asal nggak begituan, aku mau." ucap Melani
__ADS_1
"Good girl!"
🌴🌴🌴