JONES, Dipaksa Jatuh Cinta

JONES, Dipaksa Jatuh Cinta
Lamaran Berhadiah Bonus


__ADS_3

🌿🌿🌿


Sepasang sejoli yang baru saja memanggut percintaan dalam sebuah ikatan, berdansa dengan langkah kaki yang berayun-ayun dan searah, mengikuti irama musik yang mengalun indah dipendengaran. Kedua tangan yang saling menyatu, tangan lainnya mencengkram pinggul dan pundak pasangan. Sepasang netra yang berkilat saling bersitatap dalam kekaguman, dihiasi pula oleh sepasang bibir yang selalu mengulum senyum disepanjang gerakan dansa tengah berlangsung.


"Kamu cantik." kata-kata itu keluar begitu saja memuji kecantikan Melani pada malam ini, membuat gadis itu tersipu malu dengan pipi yang merah merona bak kepiting rebus. Ia kembali menatap mata Raffa, bibirnya berkedut seolah ingin mengatakan sesuatu


"Baru sadar?" tanya Melani kepadanya


Raffa mengangguk. "Iya, seperti biasanya kamu tidak terlalu cantik." candanya


Seketika saja mendengar kalimat tersebut langsung memudarkan senyuman yang terlukis di bibir Melani, ia mencebikkan bibir tatkala merasa kesal dengan pria itu. "Memuji atau mengejek, sih? setelah diambung tinggi, lalu dihempaskan." cibirnya


"Aku hanya bercanda, Sayang, kamu wanita yang sangat cantik--cantik baru bangun, sedang berak, apalagi--sedang mandi." bisiknya dengan nada sensual pada akhir kalimat. Seketika saja Raffa langsung merapatkan tubuh mereka, tiada jarak sekali pun. sehingga, Melani dapat merasakan aroma wangi dari pakaian pria ini. Melani mendongak menatapnya, seketika itu kedua matanya terpejam tatkala Raffa meraba rahangnya dengan bibir manis itu, terasa geli dan bulu kudunya meremang.


"Apa yang kamu lakukan? eeeemmh ..." Melani mendesah tatkala bibir Raffa menyapu pipi, daun telinga hingga tengkuk lehernya, pria ini benar-benar sudah tidak waras. Seakan tubuh Melani sudah menjadi candu untuknya.


"Sebentar saja, Sayang." lirih Raffa, Melani menikmati rasa yang tidak pernah ia alami sebelumnya. padahal hanya menelusuri sebagian wajahnya, namun ini terasa--ada sedikit kesenangan saat bibir itu menyentuh kulitnya.

__ADS_1


Apakah begini rasanya surga dunia? bahkan, ini hanya sapuan hangat yang diberikannya, tapi rasanya sangat menyenangkan. Batin Melani


Entah pria itu sadar atau tidak, bahwa dirinya tengah mencuri kesempatan langka di ruangan ini. seolah tubuh Melani dengan lancang menghipnotisnya untuk melakukan hal itu, walau hanya mencicipnya saja. Benar, ini sangat menyenangkan, bahkan ia tidak menghentikan aksinya. Apalagi rasa hasrat gairah mulai mendera, mengguncang kejantanannya saat itu juga. Raffa membuka kedua matanya, menatap ekspresi Melani yang tengah menikmati rasa ini. Kemudian tatapannya beralih pada bibir yang sedang digigit kecil, seketika ia terkekeh tanpa suara.


Dia terlalu menikmatinya, Batin Raffa


Melani yang tidak merasakan lagi sentuhan itu, membuka kelopak matanya. Ia mendongakkan kepala, ternyata pria itu tengah menatapnya dengan tatapan tidak menyangka.


"Kenapa? kenapa berhenti?"


"Kamu mau lagi? nggak takut kalau--


Melani berjinjit, mencium bibir itu dengan begitu rakus. kedua tangannya telah berpindah posisi, melingkarkannya di leher sang kekasih. Raffa terbelalak, tidak menyangka wanita polos ini memulai aksi dengan sepihak, lebih dulu untuk melakukannya tanpa aba-aba. Raffa tidak ingin menyia-nyiakan moment ini, moment lamaran berhadiah bonus telah ia menangkan saat itu juga.


Raffa membalas ciuman panas itu dengan begitu dalam, kedua tangannya menyentuh paha belakang milik Melani. dengan tenaga yang ia kerahkan, dalam sekali angkat, wanita itu telah berada di gendongannya. alih-alih untuk mempermudah ciuman itu agar lebih dalam lagi untuk menjelajahi setiap rongga mulut manis itu.


Sangat manis, bahkan keduanya begitu ketagihan. tak ayal banyak pasangan yang tergila-gila dengan namanya adu mulut tanpa banyak bacot

__ADS_1


"Eeemhh ..." keduanya mendesah, area bibir pun telah basah oleh barbarnya kelakuan mereka.


"Sudah. kita melakukannya sudah sangat lama." Raffa melepaskan pagutan itu sembari menahan sesuatu yang tersembunyi dibawah sana


"Ohya? Berapa lama?" tanya Melani dengan polosnya


"A-aku tidak tau. aaaakkh .... aku harus ke kamar mandi, Sayang, sebelum aku menyerangmu lebih jauh lagi." Raffa berlari ke kamar mandi yang berada di ruangan tersebut.


Melani menggaruk kepalanya yang tidak gatal, sedang berpikir apa yang terjadi dengan pria itu. "Mungkin sesak berak."


"Eh, tidak. dia memegang anu, berarti sesak pipis."


"Tapi--kok itunya keras ya? apakah kalau sesak pipis, anunya mengeras?"


"Ah, bodo amat!" Melani mengibas tangannya seolah sedang membuang pikiran yang masih menerka-nerka.


🌿🌿🌿

__ADS_1


Beberapa bab udah ku kasih yang segar-segar nih, sekarang kasih hadiah dan vote dulu 🀣😜


Is, otor nyogok 🀣πŸ€ͺπŸ€ͺπŸ˜‚


__ADS_2