
🌴🌴🌴
Romansa malam di wahana umum yang menyuguhkan beragam permainan serta wahana yang mampu memacu adrenalin setiap orang. banyaknya beragam manusia yang turut meramaikan tempat menyenangkan tersebut, termasuk sepasang insan yang tengah berbahagia itu.
Telah banyak wahana yang mereka coba, kini Raffa dan Melani beralih memainkan capit boneka yang berada didalam mesin tersebut.
"Ayo request, mau yang mana?"
"Yang itu, boneka panda." Melani menunjuknya, mengetuk-ngetuk kaca mesin dengan ujung jari telunjuknya
"Lihat ini ya ... pasti berhasil." dengan bangganya ia berkata, membuat Melani mendelik
"Awas kalau enggak!" ancam gadis itu, Raffa tersenyum seringai. dan dalam waktu yang singkat, pria itu telah berhasil mengambil boneka yang Melani inginkan.
"Yeeeeee!! hebat kamu!" Melani melompat kegirangan, bagaikan anak kecil yang baru saja diberi hadiah. secara reflek, ia mengecup pipi Raffa dengan tekanan yang cukup kuat. membuat pria itu tertegun sejenak merasakan kecupan tersebut. Sedangkan Melani, ia langsung mengambil boneka yang telah keluar dari mesin itu.
"Mau lagi dong!" rengeknya
"Cium lagi kalau mau." Raffa menunjuk pipi kirinya dengan tatapan nakal
"Is, mesum!" Melani menimpuk wajahnya dengan boneka
"Yaudah kalau nggak mau, padahal aku pengen ngambil kotak ponsel itu." Raffa menunjuk mesin yang berisi kotak ponsel dan juga boneka, ditata rapi berjejeran didalam sana.
"Ponsel?? ambil dong ..." pintanya dengan memasang ekspresi puppy eye, terlihat sangat menggemaskan sekali.
"Makanya ini dulu." Raffa menekukkan kakinya, mensejajarkan tinggi tubuhnya dengan wanita ini sembari menunjuk pipi kiri yang telah menanti untuk diberi jatah. Melani memutar bola matanya, tak urung ia menuruti permintaan lelaki tersebut. sekali kecupan dalam waktu yang cukup lama akhirnya telah lolos, memberikan kesenangan tersendiri bagi Raffa. dengan senang hati pula ia mengambil mengambil kotak ponsel didalam sana.
__ADS_1
"Apa iya, didalamnya ponsel?" Melani menatap ragu
"Mungkin saja, bisa jadi itu uang." Raffa mulai mencobanya setelah memasukkan koin didalam mesin tersebut. setelah berhasil ia capit dan keluar dari mesin, Melani langsung mengambil dan membukanya. seketika wajahnya cemberut. "Kosong." rengeknya
"Kita ambil lagi, kita coba boneka sama kotak ponsel ya ..." Raffa menghiburnya, gadis tersebut mengangguk dengan senyum manis yang ia pamerkan.
Boneka dan kotak ponsel telah ia dapatkan, alangkah terkejutnya Melani bila didalam boneka terdapat ponsel, dan didalam kotak itu terdapat uang. sontak saja gadis tersebut kegirangan, hingga memeluk Raffa dengan bergelayut dilehernya.
"Oh, Sayang, terima kasih!" Melani mengecup bibir pria tersebut
**
Raffa dan Melani telah tiba didepan rumah setelah cukup lama menghabiskan waktu di pasar malam yang penuh dengan kegembiraan. Melani bergegas membuka pintu setelah seatbelt ia lepaskan. namun, langkahnya terhenti tatkala Raffa mencegahnya.
"Ada apa?" Melani menatap heran
"Kecup dulu." Raffa menunjuk bibirnya
"Hanya kecup, ini hukuman mu yang menginginkan tiga bulan lagi. kamu tau? aku sudah tidak tahan, apalagi hampir setiap pagi aku melihat mereka berciuman." kebiasaan suami istri itu akhirnya terkuakkan juga oleh Raffa
"Hah??" Melani tercengang. "Hahahahahaha ....!! itu sih deritamu." ejeknya dengan tertawa terbahak-bahak, hingga tanpa sadar bila tubuh Raffa sudah mendekat padanya
"Senang ya membuatku menderita, hm?" Raffa tatap dalam-dalam wajah cantik itu, hingga beralih pada bibirnya yang begitu menggoda
"Tidak-tidak, awas ah! nanti ada yang lihat." Melani celingak-celinguk menatap keluar, sangat sepi tidak ada orang lagi pada malam yang hampir larut itu
"Mana ada orang. ayolah, hanya kecup saja." pintanya
__ADS_1
Melani memutar bolanya, merasa sebal. dari pada berlama-lama lebih baik ia turuti saja.
Cup!
Hanya kecupan, bukan? namun sayangnya Raffa tidak menepati perkataannya. saat Melani ingin menarik kepalanya, tiba-tiba tangan nakal itu dengan sigap menahan kepala sang gadis dan kembali menekannya. akibatnya, kecupan itu berakhir dengan ciuman panas yang berlangsung hanya sekejap. Raffa kembali melepaskannya.
"Kamu tau? itu sudah menjadi candu buatku. bahkan tubuhmu bagaikan magnet yang selalu saja menarik hasratku, walaupun aku mencoba untuk menahan, rasanya sangat sulit. tapi aku berhasil untuk menahannya karena aku ingat kalau kita belum terikat dalam pernikahan."
"Maaf." ucapnya, yang kemudian Raffa turun dari mobil berniat ingin membuka pintu untuk sang gadis. Sedangkan Melani, ia terpaku mendengar ucapan kekasihnya.
"Bahkan dia meminta maaf. dasar mesum!" Melani tergelak, hingga ia sadar pintu sebelahnya telah dibuka oleh Raffa.
**
"Kamu yakin mau diluar saja, tidak mau masuk?" tanya Melani, kini mereka berdua berada di pekarangan rumah keluarga Alex, hanya ada security yang berjaga dan Bibi yang menghentikan pekerjaannya dalam menyiram bunga.
"Ini masalah keluarga, sangat tidak etis kalau aku ikut bergabung."
"Aku akan masuk untuk meminta restu kakakmu, masuklah!"
Melani mengangguk, ia mengikuti langkah Bibi yang akan membawanya bertemu keluarga itu. sungguh, untuk kali ini ia merasa deg-degan karena akan bertemu dengan keluarga ini dalam keadaan yang menakutkan. bagaikan masuk ke dalam kandang singa yang jinak berubah menjadi liar, itu sungguh mengacu adrenalin.
"Duduk dulu, Nona. saya akan panggilkan Tuan dan Nyonya." ucap Bibi, Melani mengangguk.
Ini terasa berat, tubuhnya menegang dan cucuran keringat mulai keluar dari permukaan kulitnya. berkali-kali ia menarik nafas dan menghembuskannya, tapi tetap saja ia merasa sangat gugup. apalagi membayangkan murkanya orang tersakiti.
Derap langkah kaki mulai terdengar menuruni tangga, Melani yakin bila itu adalah mereka. Melani menundukkan wajahnya, ia tidak berani menatap anggota keluarga ini.
__ADS_1
"Nak Melani."
🌴🌴🌴