
🌴🌴🌴
"Tuan, saya bisa jelaskan kalau kemarin itu bukan seperti yang anda pikirkan." Assisten Pribadi dari istrinya, Jannete, bangkit berdiri dihadapan Tuannya
"Apa maumu!" tatapan tajam mengarah padanya
"Duduk dulu, Tuan, saya akan menunjukkan bukti dari Cctv ruang Nyonya, jika anda tidak menerima penjelasan dari mulut kami." Pria itu menunjukkan rekaman Cctv yang tertera di ruang CEO, bahkan kamar yang berada diruangan tersebut.
Axel menyaksikan sang istri yang sedang merasakan pusing, sejurus itu ia juga merasakan mual yang sangat hebat. Bolak balik ke kamar mandi hanya untuk memuntahkan sesuatu yang memenuhi perutnya. Jannete sudah mulai terasa lelah, nafasnya ngos-ngosan. Kaki yang sudah terkulai lemah seakan tak berdaya untuk menopang berat tubuhnya, ia bersandar di wastafel kamar mandi. Hingga tiba-tiba ia mendengar ketukan pintu dari luar, wanita tersebut berusaha untuk berteriak dengan sangat kencang.
"Nyonya."
"Saya disini."
Sang Assisten yang membawa dokument pun melihat atasannya sedang memuntahkan sesuatu. Ia memerhatikan, hingga terkejut melihat wanita tersebut hampir ambruk ke lantai. Assisten bergegas menolongnya, merangkul tubuh yang lemah ini.
"Kita ke kamar, ya ... Nyonya harus istirahat." usul sang Assisten, wanita tersebut mengangguk setuju, ia juga butuh istirahat atas lelahnya tubuh ini.
Kemudian Cctv beralih di kamar, Assisten menaruh atasannya di atas ranjang dengan hati-hati. Saat ingin bangkit karena perempuan tersebut telah dibaringkan, tiba-tiba saja Jannete meringis kesakitan tatkala rambutnya terasa ditarik
"Ah, rambutku!"
"Astaga, nyangkut di kancing baju saya." Lelaki itu berusaha melepaskan rambut yang meliliti kancing kemejanya
__ADS_1
"Maaf, rambut saya kusut jadinya seperti itu."
"Tidak apa-apa, Nyonya."
Dan saat itu pula Axel masuk kedalam kamar tatkala melihat pintu itu terbuka. Alangkah terkejutnya ia melihat sang istri dan Assisten tengah berpelukan di belakangnya.
"Anda lihat sendiri, Tuan? bahkan disetiap sudut anda memasang Cctv untuk keamanan istri anda." geram Assisten tersebut dengan wajah dinginnya menatap pria ini
Axel terpaku, ia tidak menggubris perkataan bawahan istrinya ini.
"Dan ini! penyebab istri anda mual, pusing, dan lesu. bahkan ia tidak mau makan karena memikirkan anda." ucapannya yang penuh tekanan begitu menohok perasaan Axel.
Pria itu cepat-cepat membuka amplop yang tertera dari Rumah Sakit. Ia membacanya dari atas hingga kebawah, seketika Axel terbelalak melihat pernyataan bila sang istri tengah mengandung anak kedua mereka, Jenny, adik Alex.
Axel mengunjungi sahabatnya yang berprofesi seorang Dokter, termasuk Dokter keluarganya, untuk berkonsultasi tentang sindrom yang masih ia alami.
"Apa kau pernah bermain dengan wanita lain?"
"Bila pernah, ku pastikan perempuan tersebut sedang mengandung."
*Flashback Off*
"Begitulah ceritanya ... saya memperkosa seorang wanita tunawicara dan saya mengalami sindrom tersebut. hingga melihat wajah kamu yang hampir mirip dengan Jenny, saya sangat yakin bila kamu adalah putri ku." Lelaki tersebut menitikkan air mata saat tatapannya terlalu fokus memandang Melani.
__ADS_1
Melani terdiam, mencoba mencerna ucapan yang terlontar dari mulut pria tersebut. Matanya juga berkaca-kaca, sungguh jahat sekali pria dihadapannya ini. Demi apapun, Melani memang sangat membenci seorang Ayah yang sudah menelantarkan Mama dan dirinya. bahkan pria dihadapannya ini sempat-sempatnya menghina Mama Sarah.
"Jahat! kau jahat, tau nggak! apa kau tidak tau apa yang dirasakan Mama ku, hah? dari masa mudanya, beliau sudah merasakan hidup susah, menderita, ditambah lagi mengandung dan membesarkan benih dari barang kau! dan kau, Tuan--bahkan tidak pernah mencari kami saat kau tahu kalau aku telah ada!"
"Hah!" Melani menyeka deraian air matanya, "Lagi pula kami tidak butuh baj*ngan seperti mu! dan tidak ingin merusak keluarga kalian."
Melani menghentak meja dengan salah satu tangannya, perempuan cantik itu melenggang pergi meninggalkan ayah kandungnya. Ia menatap sekitar sembari menangis, tidak mempedulikan mereka yang menatap ke arahnya.
Axel tercenung, hatinya telah tergores akan kenyataan yang ia hadapi. dirinya memang salah, namun ia juga telah berusaha mencari keberadaan mereka. pria parubaya itu kemudian bangkit berdiri untuk mengejar sang putri, tidak lupa meninggalkan beberapa lembar uang diatas meja.
Deraian air mata yang semakin lama semakin deras sudah tidak bisa dibendung lagi, bahkan beberapa kali Melani menyekanya, namun air mata itu tetap terus mengalir tanpa henti. Melani menoleh ke belakang sekilas, pria itu benar-benar mengejarnya. Ia tidak ingin bertemu lagi dengan bajingan itu. tanpa memerhatikan kondisi jalan, Melani langsung menerobos jalanan raya yang terlihat mulai padat. hingga--sebuah puso melaju dengan kecepatan rata-rata, hampir mendekat padanya yang telah berdiri di tengah jalan.
Melani terkesiap, tubuhnya membeku saat itu juga. Ingin menghindar, namun dirinya tidak bisa.
"Lari, Mel!!" teriak sang Ayah.
"Melani!!"
"Aaaaaa!!"
🌴🌴🌴
Bye-bye, besok lagi 😘 jangan lupa hadiah dan vote nya 😉🙏
__ADS_1