
πΏπΏπΏ
Melani mengulas senyum berkualitas terbaik miliknya sembari mengelus bibir yang masih basah oleh pagutan panas yang terjadi barusan. Ia bergidik geli, bagaimana bisa ia menerima ciuman tersebut tanpa penolakan sekalipun. dan--dirinya begitu menikmati penyatuan hangat dengan penuh cinta, hingga tidak menyadari keadaan disekitarnya. untung saja Ratih telah meninggalkan mereka sebelum hal intim itu terjadi, bahkan ia juga bersyukur karena tidak ada pelanggan yang berkunjung saat itu.
"Ah, Mas Raffa! kau benar-benar membuatku sudah gila!" teriak Melani dengan nada bahagianya. Ia merasa malu sendiri, menutup wajahnya dengan telapak tangan sembari melangkah ke dapur.
"Kenapa, Kak? makin aneh aja." sapa Ratih, ia tersenyum sendiri melihat wanita tersebut
"Lagi berbunga-bunga." jawab Melani
"Cie .... sesenang itu! jadi udah resmi pacaran nih?" singgungnya lagi
"Hmm ... belum. Nanti deh kalau dia benaran mau buat sesuatu yang terkesan romantis, aku akan menjawabnya." ujar Melani
"Sudahilah drama ini, Kak, mending terima aja langsung."
"Iya, besok! udah ah, jangan bahas, aku kan jadi malu." Melani tersipu malu dihadapan pegawainya
"Hah, panas ya suasananya, kalau ada yang sedang jatuh cinta." sindir Ratih, ia tersenyum kikuk dibelakang Melani. Melani yang mendengar sindiran tersebut hanya memutar bola matanya
Disisi lain, derap langkah kaki yang terdengar nyaring membentur keramik marmer di sebuah Gedung, menjadi sorotan beberapa wanita tatkala melihat sang pemilik langkah, senyam-senyum sendiri tanpa melirik mereka semua. entah apa yang terjadi, entah Malaikat mana lagi yang tertancap di pikiran pria itu, sampai aura dinginnya menghilang seketika dan berganti dengan senyum cerah nan mempesona.
"Dia sangat manis kalau sedang senyum!" salah seorang wanita begitu histeris menyaksikannya
"Ada apa dengannya? apa dia sedang jatuh cinta? Oh, Tuhan, wanita mana yang berhasil mencairkan es itu?" sahut yang lainnya
__ADS_1
"Wanita yang begitu beruntung mendapatkan pria tampan, tinggi, gagah dan putih, masih perjaka pula."
Begitulah sekiranya kehebohan para wanita melihat orang nomor dua tersebut sedikit ada perubahan.
Raffa masuk ke dalam ruangannya, mendudukkan tubuhnya diatas kursi kebesaran sembari membayangkan wajah Melani, sekaligus ciuman hangat yang turut dibalas oleh wanita tersebut.
"Ya ampun, aku tidak menyangka kalau Melani membalas ciuman ku, bahkan dia menikmatinya." Raffa mengelus bibirnya, bekas hangatnya bibir manis itu.
"Aku yakin, dia pasti akan menerimaku. dasar jaim, tinggi gengsi!" geram Raffa
"Ah, aku harus cari referensi tempat romantis di Jakarta, Melani harus terkesan dengan kejutan yang ku buat. tapi--kalau masalah cincin, aku tidak tahu ukuran jarinya." Raffa menepuk jidatnya dengan keras
"Aw ah! nanti kan bisa intip lingkar jarinya, kalau perlu aku curi cincin di jarinya itu." Raffa ingat, bila ada sebuah cincin di jemari manisnya
**
"Assalamualaikum." Raffa menyapa ketiga wanita cantik yang sedang berkumpul sembari mengintip masakan Mama Sarah
"Waalaikumsalam, eh, Mas, ayo masuk! kita makan bareng." ajak Melani
Raffa mengangguk cepat, membuka pantofel nya sembari menyerahkan pesanan para wanita cantik tersebut.
"Maaf ya, lama ... harus ngantarkan Tuan dulu, ke rumahnya." ucap Raffa, mendudukkan tubuhnya dihadapan Mama Sarah, tak lupa menyalimi tangan wanita tersebut
"Sudah lama Mama tidak melihat kamu, bagaimana kabarnya?" Mama Sarah menyodorkan secarik kertas yang berisi tulisannya.
__ADS_1
Raffa juga membalas. "Alhamdulillah, sangat baik, Ma ... Mama juga semakin cantik dan sehat." ucap Raffa diatas tinta hitam
Hmmm ... pria ini sudah memanggilku Mama, ada pertanda baik nih. Batin Mama Sarah, ia hanya mengulum senyum manis kepada pemuda tersebut
"Kamu bawa pizza juga??" Melani menatap antusias padanya
"Seperti yang kamu lihat. beserta tiga paket seblak dan menu baru dari Kantin. ditambah dua kotak martabak."
"Banyak amat ... bisa muntah kita nanti, Ratih." Melani terkesima melihatnya, ia beralih menatap Ratih
"Apa itu semua, kamu yang mesan?" Mama berbicara kepada putrinya, Melani mengangguk dengan senyum cengir wanita itu. membuat Mama menggeleng-gelengkan kepala
Kini mereka berempat bergegas menikmati hidangan yang tertata rapi ditengah-tengahnya. Raffa lebih memilih menikmati masakan sang calon mertua dari pada makanan millenial itu. Menurutnya, makan nasi lebih sehat dan mengenyangkan, apalagi lauk saos ikan nila. kebetulan sekali, itu adalah salah satu lauk favoritnya.
Mama Sarah yang melihat lahapnya pria ini, membuatnya tersenyum-senyum. apa selezat itu masakannya? ataukah mungkin karena lapar? entahlah, ia hanya merasa bahagia kalau pria dihadapannya sangat dekat dengan sang putri.
"Jadi kapan rencana kamu melakukan tes DNA?" tanya Raffa setelah mereka selesai menikmati makan siang. kebetulan hanya mereka berdua, jadi Raffa lebih leluasa mengungkit rencana pujaan hatinya. sedangkan Ratih dan Mama sedang melaksanakan sholat dzuhur
"Nanti, jam dua kayaknya. kalau sekarang pasti sedang jam istirahat."
"Sekarang saja, kita ke Rumah Sakit Dreka milik Tuan Andrew. sudah dipastikan mereka akan melayani kamu tanpa banyak bacot, karena ada aku disisimu. dan hasilnya cepat, tidak perlu menunggu lama."
"Hmm .... mentang-mentang Assisten Presdir, sok jadi penguasa." cibir Melani
πΏπΏπΏ
__ADS_1