JONES, Dipaksa Jatuh Cinta

JONES, Dipaksa Jatuh Cinta
Hadiah Rumah Mewah


__ADS_3

🌿🌿🌿


Tut! Tut! Tut!


Bunyi terompet memekakkan telinga bagi sepasang anak manusia yang baru saja muncul ke peradaban. Melani menutup telinganya dengan rapat, wajah ia kerutkan karena ini terasa sangat mengagetkan dirinya. Raffa menatap mereka dalam diam, sangat tenang walaupun juga tak kalah kaget seperti sang istri.


"Selamat datang di kediaman baru!" sorak Jenny dan Chika secara bersamaan


Melani membuka matanya, menatap tidak percaya atas apa yang baru saja ia dengarkan.


"Apa??" tanya Melani dan Raffa bersamaan


"Ini kediaman baru untuk kalian berdua." ucap Andrew, mendekati sang bawahan yang sangat ia hargai. menepuk pelan pundak lelaki yang seusia dengannya itu.


"What! nggak salah dengar?" sahut Raffa


"Apa setelah pulang dari honeymoon, banyak kotoran yang nyangkut di telingamu?" ledek Andrew menaikkan salah satu alisnya, Raffa menatapnya dengan malas


"Ini hadiah pernikahan dari aku dan Chika untuk kalian." ulangnya


Raffa dan Melani menatap mereka semua seolah meminta jawaban apakah yang dikatakannya benar atau hanya gurauan saja? dan mereka mengangguk sembari mengulas senyum.


"Iya, ini rumah untuk kalian lho ... supaya aku bisa dekat terus dengan sahabat kecilku ini." Chika merangkul lengan sahabatnya

__ADS_1


"Oh, Chika ... terima kasih." Melani memeluk sahabat yang paling ia cintai ini, cinta kedua didalam hidupnya setelah Mama.


"Sama-sama, Sayang."


Melani menguraikan pelukannya, menatap wajah cantik ibu dua anak ini, memperhatikannya dengan lekat. "Jadi kalian tahu kalau aku dan Mas Raffa sudah pacaran?" tanya Melani


Chika mengangguk. "Apa sih yang kami tidak tau?" lagaknya. "Bahkan saat kamu dekat dengan kakak kandungmu, Mas Raffa selalu mengutit dirimu lho ... tentu saja atas pengawasan anak buahnya." ujar Chika


Melani tahu itu, dan ini sungguh membuatnya tersipu malu.


**


Hampir dua jam berkumpul dengan keluarga besar, beserta Chika dan baby twin yang semakin menggemaskan diusianya hampir menginjak enam bulan. Sekaligus berkeliling menelusuri kediaman mewah ini, mereka semua pun telah kembali pulang untuk memulai kegiatan baru pada pagi ini. Kini tinggallah Melani dan Raffa yang sedang beristirahat didalam kamar utama milik mereka yang telah didesign apik oleh arsiteknya. Melani menatap kagum pada rumah ini, sangat mewah dan nyaman. Apalagi letaknya dihadapan kediaman sang sahabat, membuat kebahagiaannya semakin bertambah. Melani bangkit berdiri, ingin mengunjungi balkon untuk melihat pemandangan diluar.


"Ke balkon, tempat itu belum kita telusuri." jawabnya


Raffa mengangguk paham, ia turut menyusul sang istri yang telah lebih dulu pergi. Pria itu langsung memeluk istrinya dari belakang, melingkarkan tangannya diperut ramping itu, sedikit mengelusnya.


Udara yang sejuk dan tidak banyak polusi menjadi nilai tambah untuk Melani saat pertama kali menginjak tempat seperti ini. apalagi view pemandangannya sudah seperti di Puncak, memberi kesan wah pada tempat tinggal barunya. Mungkin karena inilah orang tua Raffa mengurungkan niat sang anak untuk membeli Apartement, sebab mereka telah membuat rencana kepada Tuan Andrew dan istrinya untuk memberikan kejutan ini kepada sepasang suami istri itu.


"Yang, cuti libur kamu masih tersisa kan?" tanya Melani


"Ya, dan saudari kamu malah menyuruh kita untuk balik." gerutunya

__ADS_1


"Tadinya aku kesal juga, ternyata dia pengen ngajak kita ke Bali. aku baru sadar kalau dia juga pengen liburan." ungkap Melani sembari terkekeh


"Ohya?" Raffa terkesiap, menghentikan kecupannya dileher Melani


"Iya, cuma tiga hari kok, besok pagi berangkat. jadi sekarang kita bisa istirahat dulu." Melani membalikkan tubuhnya, mengalungkan tangannya dileher sang suami. jarak mereka begitu dekat, memancing Raffa ingin memajukan wajahnya untuk mencium bibir manis itu. Melani tersenyum, ia menutup mata untuk menyambut ciuman hangat dari suaminya.


Cup


Raffa ******* bibir bawah Melani hingga basah, menjulurkan lidahnya ingin masuk kedalam mulut mungil itu. Melani memberinya celah, membiarkan lidah itu menjelajah sepuasnya didalam sana, hingga milik Melani juga ikut bermain, bergulat dan saling menyesap. Keduanya sama-sama dibuat melayang, melupakan tempat dimana kaki berpijak saat ini.


Permainan mereka pun semakin panas, hasrat gairah mulai timbul dan menjalar, membuat darah berdesir hebat didalam tubuhnya. Raffa membuka sedikit matanya secara perlahan untuk menatap wajah cantik yang sedang menghayati rasa ini, seketika saja Raffa mengangkat tubuh mungil itu hingga kedua kaki Melani melingkar dipinggangnya.


Berjalan tertatih-tatih untuk masuk kedalam kamar sembari memagut kasih, setiba diranjang ia menaruh Melani diatas kasur dan mulai bermain dengan puas pada tubuh sang istri. Melani menerima setiap sentuhan yang dia berikan, tidak lagi melawan dan sudah mulai candu akan sensasi yang diberikan suami tercintanya.


"Apa sudah ada tanda-tanda keberadaanya didalam sini?" lirih Raffa, menyentuh kulit perut sang istri, Melani menggeleng, ia tidak tahu apa gejalanya. yang ia tahu hanya ***** makan bertambah seperti yang dialami sahabatnya.


"Aku akan menanam lagi, semoga kali ini berhasil." Raffa langsung melucuti pakaian yang membaluti tubuh sang istri.


"Baru sepuluh hari, jangan terlalu buru-buru .... eeeemmh ..." Melani melenguh merasakan geli pada perutnya, pria ini mulai menguasai tubuhnya dengan rakus dan penuh hasrat membara.


Hingga penyatuan panas kembali terjadi dengan dipenuhi suara erotis atas keduanya.


🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2