
🌴🌴🌴
Raffa menanti seseorang di sebuah Kafe yang cukup ramai kala malam itu, memintanya untuk bertemu setelah sekian lama. ia duduk membelakangi pintu masuk agar seseorang tersebut tidak mengetahui bahwa dirinyalah orang misterius tersebut.
Raffa mengirim pesan padanya, temui pria berkemeja maroon kotak-kotak. sembari menunggu, ia menyeruput cappucino yang masih mengepulkan sedikit asap ke udara. tatapannya menyeringai tatkala ekor matanya menangkap sosok wanita itu.
Dengan tenang, ia membiarkan wanita tersebut memperhatikannya dengan lekat hingga terlihat sangat terkejut. Raffa menoleh padanya, menatap penampilan seksi dari seorang wanita yang masih ia cintai.
"Hai." sapa Raffa
"Kamu!" ia mengacungkan jari telunjuk terhadap Raffa
"Duduklah." titahnya
Namun perempuan itu masih enggan, ia menatap penampilan Raffa yang hanya biasa saja tapi terlihat cukup keren. ia melihatnya dengan tatapan sinis. Namun tak urung juga ia turut mendudukkan tubuhnya diatas kursi, tepat diseberang mantan kekasihnya.
"Bagaimana kabar mu?"
"Baik." jawabnya singkat
"Hmmm," tatapannya menyelidik. "Kamu tambah cantik." pujinya
Perempuan itu tergelak kecil, "Tentu saja. hidupku tercukupi sekarang ini, tidak seperti dulu." ucapnya dengan penuh penekanan, entah apa maksudnya
"Ohya? memangnya hidup kamu dulu bagaimana?" Raffa menaikkan salah satu alisnya
"Kau bayangi aja dulu bagaimana! ada apa mengajakku kemari?" tanyanya, bosan berbasa-basi
Sial, bahkan dia tidak menawariku minum. dasar! apa dia masih miskin? batinnya
__ADS_1
"Kemana kamu selama ini? setelah wisuda, kau menghilang dariku! lagi pula kemana orang tuamu? bukannya kalian sekeluarga tinggal di Jakarta, ya?" Raffa memberondonginya dengan banyak pertanyaan kepada wanita tersebut
Perempuan itu terdiam sejenak,
"Bekerja diluar kota. sebenarnya orang tuaku masih disini, hanya saja udah pindah. kau saja yang tidak tau, Jakarta itu luas." ujarnya
Raffa mendelik mendengarnya,
Kau kira aku bodoh, batinnya
"Lalu kenapa kau pergi begitu saja menggantungkan hubungan kita, hm?"
"Bukan menggantung, lebih tepatnya putus." sanggah Audy
"Ya, putus. terserah kaulah!" Raffa acuh
"Aku nggak sempat menghubungimu. ah, sudahlah, lupakan saja masa lalu. apa pekerjaanmu?" tanyanya
Palingan masih jadi ojol. batinnya
"Hah, ya ya ya ... kau bahkan belum berubah. masih jadi ojol kah?" tanyanya
"Kalau iya, kenapa?" tanyanya
"Ya, gak apa apa. mungkin itu memang bagus untukmu."
"Ah sudahlah ya, aku harus bekerja." Audy beranjak bangkit dari duduknya
"Pergilah." usir Raffa
__ADS_1
"Hmm, satu lagi! lupakan aku, jangan menggangguku dan--jangan mencariku! aku sudah punya pacar, asal kau tau itu."
Raffa hanya tersenyum menyeringai menatap perempuan ini, pikirannya benar-benar sudah dipenuhi hal yang buruk kepada wanita tersebut. Raffa memerhatikan kepergiannya, bahkan perempuan yang masih ada dihatinya itu terlihat semakin cantik. bukan hanya wajah, tapi tubuhnya yang molek.
Raffa menelan salivanya dengan kasar setelah menyadari kekonyolannya.
"Sekarang aku sudah tau tentang kamu, Audy. menurut analisa ku selama percakapan kita, kau benar-benar wanita matre. memandangku sebagai ojol, mungkin karna profesi ku itulah kau meninggalkanku." gumamnya
Setelahnya Raffa menyesap kopinya hingga tandas. merasa perutnya terasa lapar, ia pun memanggil waitress dengan mengacungkan tangannya.
"Makanan yang terenak disini, begitu pun dengan minumannya." ucap Raffa dengan wajah yang datar. Waitress itu mengangguk, kemudian pergi meninggalkan pengunjungnya.
Raffa menatap kosong pada jalanan Ibukota yang padat kala malam itu, sembari mengelus bulu tipis di dagunya. ia masih saja memikirkan Audy, perempuan yang selama ini membuatnya bertanya-tanya akan kepergiannya yang meninggalkan dirinya tanpa pesan maupun sepatah kata pun dari mulut perempuan tersebut.
Raffa menghembuskan nafasnya dengan kasar, dadanya benar-benar terasa sesak.
"Setidaknya hatiku sudah lega sekarang, aku akan mencoba untuk menghilangkan rasaku padanya."
"Ya, memang harus seperti itu. lupakan mantan dan mulai menerima cinta yang baru. kamu itu tampan dan baik, sangat tidak pantas bila kamu masih menyukai jal*ng itu."
Raffa termanggu mendengar suara itu lagi, suara Melani, perempuan yang selama ini menjadi korban mak comblang oleh pasutri jahil. sama hal dengannya, korban pemaksaan oleh mereka. Raffa menoleh ke kanan, kiri bahkan ke belakang, lagi-lagi tidak ada Melani disisinya.
Suara apa itu? apakah suara jin qorin milik Melani yang menggentayanginya? sudah dua kali ia memdengar suara perempuan tersebut, namun lagi-lagi itu adalah halusinasinya.
"Tidak mungkin halusinasi. aaaakh! kenapa menyeramkan seperti ini!" Raffa meremat rambutnya yang tertata rapi kini sudah berantakan akibat ulah tangannya itu.
"Anda baik-baik saja, Tuan?"
🌴🌴🌴
__ADS_1
Ayo kita boyong ODGJ ini ketempat yang semestinya 😂😂