JONES, Dipaksa Jatuh Cinta

JONES, Dipaksa Jatuh Cinta
Resepsi Pengantin Kadaluarsa


__ADS_3

"Nggak nyangka ya, pernikahan kita dua minggu lagi." Melani membayangkan hari bersejarah yang penuh dengan keistimewaan itu, mengikat ia dan Raffa menjadi sepasang suami istri yang halal


"Tapi masih sangat lama ... Aku selalu berdo'a kalau pernikahan kita akan diadakan besok." gerutu Raffa, pria itu memang selalu mengeluh tentang waktu pernikahan yang berjalan sangat lambat


"Ada-ada saja! ini aja tiga bulan nggak terasa cepat berlalu." cebik Melani


"Bagimu, bagiku tidak."


"Terus gimana? mau menentang kuasa Tuhan gitu?" Suara Melani meninggi, ia emang selalu begitu kerap kali membahas keluhan pria ini


"Nggak gitu juga kali, Yang." Raffa memutar bola matanya, menyesap cappucino miliknya yang tersisa setengah gelas lagi. Kini sepasang kekasih itu berada di Kafe, menghabiskan waktu weekend hanya berdua saja.


Ddrrrtt .... Ddddrrrrrt....


Ponsel Raffa bergetar, terasa getarannya di paha. Pria itu bergegas merogoh ponselnya didalam saku celana, menatap malas pada layar ponsel yang mencantumkan nama sang Boss. dan raut wajah itu ditangkap oleh Melani


"Ada apa, Yang?


"Tuan Andrew menelpon."


"Angkat saja, siapa tau penting." ucap Melani


"Hmmm ..." Raffa mengangguk walaupun sangat malas


"Hallo, Tuan?"


"Raffa, sekarang juga kamu pesan undangan resepsi pernikahan sebanyak seribu undangan. dan--cari gedung hotel untuk kita pakai sabtu depan. setelahnya, cari WO yang terkenal megah hasil dekorasinya, paham??"


"Apa!!" Assisten Raffa terdengar shock mendengar perintah itu


"Apa kau budeg!"


"Eh, bukan begitu. anda mau mengadakan resepsi?" Raffa terkesiap mendengarnya


"Iya! tidak mungkin mau nikah lagi," gerutu Andrew diseberang sana


"Maunya gitu ya, nambah istri satu lagi." bisik Andrew, "Aw! uh, sakit, Sayang!" Andrew meringis kesakitan


Raffa berusaha mendengar bisikan dan kemurkaan Chika di seberang sana, walau terdengar sayup-sayup kurang jelas.

__ADS_1


"Hahahahahaha, rasain lu, Tuan!" Pria itu tertawa setelah berhasil menangkap kegaduhan didalam sana


"Gara-gara kau! cepat lakukan perintah ku!" Andrew langsung memutuskan panggilan secara sepihak dengan nada kesal dan menahan sakit


Raffa kembali menyimpan ponselnya sembari menggeleng-gelengkan kepalanya, setelahnya pria tampan itu mendengus kesal karena kebersamannya dengan Melani diganggu oleh pria itu pada weekend ini


"Ada apa? kenapa wajahmu kesal gitu?"


"Boss beri tugas baru padaku, Sayang."


"Tugas apa?" tanya Melani sembari menyuruput minumannya


"Mereka akan mengadakan resepsi pernikahan dan aku harus mengurus resepsi itu yang akan diadakan sabtu depan." ucapnya dengan lesu


"What!!" Melani melotot. "Bisa-bisanya!" gumam Melani


"Untung persiapan pernikahan kita telah selesai, kalau belum juga, ya--bakal double lah." dengus Raffa


"Sabar ... Aku bantu sampai tuntas permasalahan boss mu itu." Melani menghiburnya, menggenggam erat tangan sang kekasih yang terletak diatas meja


"Terima kasih, Sayang." Raffa mengecup punggung tangan Melani. Mereka pun lebih memilih untuk pergi dari Kafe tersebut setelah dirasa cukup lama berada disana sembari menikmati makan siang.


Hari itu pun tiba, acara resepsi pernikahan Andrew dan Chika digelar pada siang ini. Melani bersiap-siap dengan mengenakan dress yang bagus, yaitu dress yang Raffa berikan sebagai seserahan pada tiga bulan yang lalu. Melani menatap pantulan dirinya didepan cermin, long dress mocca berbahan sifon, menampikkan kulit leher hingga dadanya dan juga berlengan tanggung membaluti kulit tangannya. ditambah lagi tatanan rambut yang ditata oleh sang Mama.



"Sempurna! kamu sangat cantik sekali." puji Mama Sarah, Melani mengangguk seraya tersenyum kepada Mama dari balik cermin


"Sekarang pergilah, Raffa sudah menunggu."


"Iya, Ma, tapi nanti Mama nyusul kan?" tanya Melani


"Pasti. Mama berangkat sama Mama Risha."


Melani mengangguk paham, anak dan ibu itu melangkah menuju ruang tamu untuk bertemu dengan sang pujaan hati. Raffa tertegun dan terkesima melihat cantiknya bidadari surga dihadapannya ini. Wajah manis dengan make up flawless, tatanan rambut yang memikat, dan gaun--itu adalah seserahan darinya, beserta dengan sepatu high heels dan tas dengan warna senada.


"Beautiful." gumam Raffa, matanya tidak berkedip memandang sempurnanya ciptaan Tuhan ini


"Terima kasih, cantik karna barang pemberian dari kamu, kan?"

__ADS_1


"Tidak-tidak! wajah kamu yang cantik, Sayang."


"Bisa aja gombalnya." ucap Melani sembari terkekeh, ia berbalik pada Ibunya, berpamitan kepada wanita itu lalu mengecup punggung tangannya.


Kini Melani telah berada di ruangan make over, yang mengubah sang pengantin menjadi Cinderella dalam sehari. Ia menunggu di sofa sembari memotret dirinya dan sesekali mengobrol dengan wanita tersebut. Sedangkan Raffa, pria itu sedang sibuk diluar sana


Hingga Melani terkesiap dengan kedatangan Andrew, ingin menjemput istrinya yang telah selesai dirias oleh Mua. Melani memerhatikan interaksi keduanya, mereka begitu romantis, Andrew selalu memuji cantiknya wanita itu. Melani mengulum senyum tanpa mereka sadari, begitu bahagia melihat sahabatnya yang telah mendapat kebahagiaan terhakiki.


Melani dan Raffa sedang menikmati hidangan bersama orang tua mereka di meja bundar yang telah disediakan pihak WO, memerhatikan sepasang suami istri diatas singgasana pelaminan yang sedang menyapa para tamu.


"Apa yang kamu pikirkan?" tanya Raffa, wanita itu terlalu memandang lekat ke arah sana


"Membayangkan mereka adalah kita." ucap Melani


"Seminggu lagi, Sayang, tapi aku sedih ...." Raffa mulai mencurahkan isi hatinya


"Kenapa?" tanya Melani


"Setelah ini kita akan dipingit, tidak boleh bertemu sampai hari H berlangsung." keluh Raffa


Melani mengulum senyum, sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama. Tidak bisa bertemu dengan pujaan hatinya selama seminggu ke depan, tak boleh pula berhubungan lewat jalur telepon. Sungguh meresahkan bagi sepasang insan ini.


"Kita sudahi makanan ini, ayo cabut! Aku ingin menghabiskan waktu hanya berdua bersamamu" ajak Raffa


"Sekarang? kita ini seperti tamu lainnya saja, makan, salam, lalu pergi." gerutu Melani


"Ayolah ... besok kita tidak bisa bertemu lagi. apa kamu tidak ingin bersamaku?"


"Ingin sih. tapi aku masih lapar." rengeknya


"Kita makan diluar."


Melani pun mengangguk, mereka berdua bangkit berdiri dan berpamitan kepada orang tuanya.


Kini keduanya tiba di atas pelaminan, langsung menghampiri sepasang suami istri yang baru saja menjatuhkan bokongnya diatas kursi singgasana. Terdengar hembusan nafas kasar dari Andrew, sepertinya pria itu sedang kesal atas kedatangan mereka. dan benar saja--pria itu berbicara ketus dengannya. Kali ini jiwa usil Raffa meradang, ia menggoda sepasang suami istri itu, hingga berani menampung Chika menjadi istrinya. Sial sekali, dirinya malah mendapat cubitan dari sang kekasih. Mereka menertawakan Raffa, merasa puas.


"Sayang, berikan itu, setelahnya kita pergi." ucap Raffa, tampak terburu-buru. Melani memberikan undangan pernikahan nya kepada sepasang suami istri tersebut. Sontak saja Chika terperangah melihatnya.


🌿🌿🌿

__ADS_1


Sabar ya .... Satu atau dua bab lagi mereka sudah halal 😁


__ADS_2