
🌴🌴🌴
Acara pernikahan telah usai, sepasang pengantin mengistirahatkan tubuhnya di kursi singgasana itu. Sungguh melelahkan, dari pagi hingga menjelang malam keduanya sudah bertempur dengan segala persiapan pernikahan. dan baru sekarang rasa lelah itu makin meradang.
"Kami ke kamar dulu ya ... kalian beristirahatlah, setelah mandi kita berkumpul untuk makan malam." ucap Mama Risha
"Kami makan di kamar aja, Ma, masih capek banget." sanggah Raffa, diangguki oleh Melani sembari memijat-mijat kedua kakinya
Mama Risha tersenyum simpul, ada baiknya juga sepasang pengantin baru ini menghabiskan malam hanya berdua saja di kamar. Ia pun mengangguk kepada keduanya.
"Baiklah." Mama Risha pun melenggang pergi meninggalkan mereka.
Suasana di tempat pergelaran resepsi hanya menyisakan mereka berdua dan juga para pelayan hotel yang sedang berkutat dengan pekerjaannya. Sedangkan keluarga mereka, mungkin ada yang sudah di kamar untuk beristirahat. Raffa menoleh menatap istrinya, beralih menatap kedua kaki itu.
"Uuuuuuch!" Raffa berusaha mengendong tubuh sang istri yang dirasa sangat berat, mungkin saja karena ulah gaun yang cukup berat.
Melani terlonjak kaget, ia meminta Raffa untuk menurunkannya lebih dulu.
"Kenapa?"
"Mau gendong jangan sembarangan! ekornya panjang tau, yang ada kamu terjungkal menginjak ekor gaunnya."
"Eh, hehehehe .... iya pula." Raffa menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Melani bergegas menyatukan ekor gaun, mengangkatnya dengan genggaman erat hingga menampikkan kakinya yang dibaluti legging.
"Ayo, aku bisa jalan." ajak Melani, ia juga menenteng high heels miliknya
__ADS_1
"No! karena kaki kamu terasa pegal, jadi aku akan menggendong kamu." Dalam sekali angkat, tubuh gadis itu telah berada didekapannya. Tidak sesulit diawal menggendong tubuh itu.
"Whatever!" seru Melani, mungkin lebih baik digendong dari pada harus berjalan.
Melani menekan handle pintu kamarnya, langsung terpukau melihat dekorasi kamar pengantin yang terlihat indah dimatanya. Mawar merah ditaburkan diatas ranjang berbentuk hati, ada pula lampu tumbler disisinya.
Sangat sederhana, namun terkesan ellegant. Raffa tidak terlalu fokus pada suasana kamar pengantin itu, ia hanya menatap cantiknya sang istri. Melani terkesiap saat tubuhnya dijatuhkan diatas ranjang, ia sedikit terlonjak kaget, namun itu bukanlah masalah. Wanita itu memainkan taburan mawar segar yang masih beraroma wangi. Sedangkan Raffa, berbalik ingin mengunci pintu kamarnya.
"Sudah siap?" tanpa basa basi, pria itu dengan seloroh mengatakan keinginannya
"Siap apa?" Melani menatap suaminya, ia masih berbaring diatas sana
"Malam pertama kita." Raffa menjatuhkan tubuhnya diatas tubuh sang istri, mulai menggerayangi tubuh itu dengan bib*rnya
"Aku lelah." lirih Melani, menahan rasa geli dileh*rnya, hembusan nafas pria itu terdengar menggebu-gebu dan penuh hasr*t didalamnya
"Aaah .... lebih baik kita mandi dulu, tubuhku bau." usulnya
"Bagiku tubuhmu ini sangat wangi dan menggair*hkan, Sayang." Raffa langsung membungkam bib*r itu, merasa malas mendengar negosiasi yang keluar dari mulutnya.
Melani mengerang, namun juga menikmati ci*man ini. Ci*man yang semakin dalam dan menggila, sungguh membuatnya langsung terhipnotis api gair*h. Melani melingkarkan kedua tangannya dileher pria ini, semakin memperdalam pagutan indah yang membuat keduanya semakin melayang.
Raffa mendudukkan tubuh istrinya, masih dalam pagutan pan*s dengan aktivitas anaconda yang masih betah bergulat didalam sana, enggan untuk dilepaskan. salah satu tangan Raffa menelusuri punggung sang istri, mencari sesuatu untuk melepaskan gaun itu. dengan perlahan ia turunkan resleting dibelakang sana, tangannya yang lain meraba kulit punggung halus dan lembut ini, merabanya dari atas hingga kebawah. Melani mengerang, merasa geli dengan bagian tubuhnya dibelakang sana.
Hingga, gaun yang dikenakan Melani terlepas, menyisakan pakaian dalam berupa tanktop dan legging. Raffa mendengus kesal, apakah harus ia hentikan sejenak pagutan bib*r itu?
Dengan cepat ia lepaskan sisa kain ditubuh Melani, hingga wanita itu benar-benar polos. Melani merasa malu, langsung menutupi harta karun miliknya. tampak jelas wajahnya tersipu malu, ditambah lagi ia menganga melihat anaconda raksasa bergelantung diantara pangkal p*ha suaminya.
__ADS_1
"Astaga!!" Melani menutup matanya erat-erat, anaconda itu sangat besar dan berur*t.
"Kenapa? Ini milikmu sekarang, kamu akan jatuh cinta padanya." Raffa memegang anaconda miliknya, sudah meneg*ng dan bersiap untuk masuk kedalam goa.
"Itu mengerikan!" Melani menggeleng-gelengkan kepalanya
Raffa menelan salivanya dengan kasar melihat tubuh tel*njang istrinya, sangat menggoda dan masih kencang.
"Bukalah matamu." Raffa menarik kedua kaki Melani, hingga tubuh itu terjatuh membentur ranjang. Raffa langsung mengec*p kaki sang istri, betis, naik ke lutut, paha, hingga--ar*a kesukaan para lelaki. Raffa mengangk*ngkan kedua kaki Melani, ingin bermain terlebih dulu dibawah sana untuk memberikan rangs*ngan padanya.
"Oh .... Sayang." Melani mendes*h, meremat seprai disisinya. Raffa berusaha memberikan kepuasan untuk sang istri, sebelum memasukkan anaconda ke dalam goa
"Aaah ...." Melani menggigit bibirnya, rasanya sangat nikmat dibawah sana, hingga gelenyar-gelenyar aneh dapat ia rasakan, keluar dari area miliknya.
"Aku mulai ya ... pelan kok." pinta Raffa, Melani mengangguk, nalurinya menginginkan lebih.
Dengan senang hati Raffa langsung memasukkan miliknya di goa mulus itu, masih rapat dan sangat suci. pelan-pelan ia lakukan, tidak ingin menyakiti sang istri. Melani menggigit bibirnya kuat-kuat, melenguh saat anaconda itu perlahan masuk memenuhi inti tubuhnya.
"Ah .... aku tak tahan." ringisnya, cairan dimatanya sudah keluar membasahi pelipis
Raffa langung menggoyangkan pinggulnya dengan pelan, sangat pelan, bibirnya menyesap air mata Melani yang tumpah karna ulahnya.
"Maaf, Sayang, setelah ini tidak akan sakit. percayalah .... tahan dulu." Bisiknya dengan tatapan iba, Melani mengangguk.
🌴🌴🌴
Pokoknya besok harus kasih aku vote, sekarang hadiah aja dulu 😂
__ADS_1