
πΏπΏπΏ
Suasana semakin mencekam dan menegangkan untuk kedua lelaki yang berada didekat sang gadis. Raffa yang menyamar sedang berdo'a didalam hati, berharap Melani akan menolaknya. sedangkan Alex, pria itu harap-harap cemas dengan segala kegundahannya. Gadis ini belum juga untuk membalas pernyataan cintanya.
"Maaf, Mas, Melani tidak bisa. alangkah baiknya kalau kita tetap berteman, atau kakak adik lebih baik." ujar Melani setelah berpikir panjang dan bertanya dengan hatinya. ternyata hatinya tidak memiliki rasa apapun terhadap pria itu. Melani melenggang pergi meninggalkan Alex yang terpaku ditempatnya, masih mencerna kalimat yang dilontarkan oleh wanita tersebut.
"Hah! dia menolak ku." desahnya, menutup kotak cincin itu sembari menatap jauh ke angkasa dengan pandangan kosong. hingga Alex tersadar bila Melani sudah tidak berada ditempatnya lagi. Pria itu pun mulai mencarinya, mungkin saja Melani telah pulang terlebih dahulu.
Seperginya Alex, Raffa yang masih betah duduk di rerumputan sembari memandang ketenangan danau, akhirnya ia bisa bernafas dengan lega. semburat senyum seringai terukir dibibirnya, menyatakan ia sangat bahagia karena Melani menolak cintanya.
"Terima kasih, Mel, semoga ada aku di ruang hatimu. kalau pun tidak, jutaan cinta akan ku berikan untuk meyakinkanmu." gumam Raffa sembari mengulum senyum. Lelaki ini pun bangkit berdiri untuk menyusul sang pujaan, berharap perempuan itu tiba dengan selamat hingga ke tujuan.
Melani menatap hampa pada jalanan raya yang padat akan kendaraan, pikirannya masih bergelayut akan pernyataan yang diungkapkan oleh Alex. sungguh, hatinya benar-benar tidak mencintainya, ia hanya menyukai sikap baik lelaki tersebut. namun jauh dalam lubuk hati, tidak ada perasaan lebih untuknya. Hati Melani hanya terpaut pada sosok itu, sosok yang ia rindukan, sosok yang selalu mengobrak-abrik hatinya.
"Disini kan, Non?" suara sopir taksi membuyarkan lamunan Melani, perempuan tersebut menatap sekitar dan mengangguk kepada sopir tersebut dari balik spion.
"Benar, Pak. tunggu sebentar ya, saya ambil uangnya dulu." Melani bergegas turun dari taksi, melangkah cepat menghampiri tokonya untuk mengambil uang sebagai pembayaran jasa antarnya.
Saat dirinya akan kembali lagi ke Toko, tiba-tiba mobil berwarna navy itu berhenti tepat didepannya. membuat gadis tersebut sedikit kaget.
Alex keluar dari mobilnya, mengitari mobil untuk bertemu dengan wanita tersebut. Melani menunduk, menyembunyikan wajahnya karena telah merasa tidak enak hati dengan pria baik ini
__ADS_1
"Maaf, Mas, bukan maksudku untuk menolak, hanya saja ini terlalu cepat dan--aku masih menganggap Mas sebagai temanku, sorry ..." ujar Melani, masih betah menundukkan wajahnya sembari meremat baju yang ia kenakan
"Hai, its oke, tidak masalah. Lagi pula aku tidak serius menyatakan itu padamu." Alex tergelak, membuat Melani semakin heran dengan pria dihadapannya ini
"Maksudnya apa?" tanya Melani
"Aku hanya sedang melakukan tes, uji coba sama kamu. sebenarnya aku ingin menyatakannya pada wanita lain, tapi pengen tau rasa ditolak dan diterima itu bagaimana. Jangan tersinggung, Melani." Alex mengelus pundak wanita tersebut dengan ibu jarinya
"Hah??" Melani terkesiap
"Maaf, kamu malah jadi bahan uji coba." kali ini Alex semakin merasa tidak enak, bisa-bisanya ia berkata seperti itu. Apakah Melani tersinggung? entahlah, Alex hanya merasa bingung setelah ditolak.
"Semoga saja perempuan itu menerima cinta kamu ya, kalau boleh tau, dia siapa?" tanya Melani
"Tapi--nanti malam bisa nggak, ke rumahku ... Papi dan adikku baru saja pulang dari luar negeri, dan mereka ingin aku membawa kekasihku. jadi--kamu bersedia nggak, jadi kekasih sandiwara untukku? hanya sekali ini aja. sebenarnya aku mau bawa dia, tapi aku belum berani." tutur Alex panjang lebar sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal
"Kenapa nyalimu menciut setelah aku tolak? oh, ya ampun ...." Melani tergelak, dan interaksi tersebut tengah diperhatikan oleh Raffa dari jarak jauh. pria itu mengenakan teropong untuk menyaksikan keduanya dengan jelas
"Apa yang mereka bicarakan! kenapa Melani tertawa? apa tadi itu hanya sandiwara? apa wujudku ketahuan oleh mereka? sial!" Raffa berdecak kesal. Namun tak urung ia juga tetap setia memperhatikan keduanya
Hingga setelah beberapa saat, pria itu beranjak melangkah mundur sembari melambaikan tangan, dibalas pula oleh Melani dengan senyuman dan lambaian. Semakin membuat pria tersebut merasa bingung, ada apa dengan mereka? Apakah Melani kembali menerimanya?
__ADS_1
"Tidak-tidak! itu tidak mungkin dan tak akan pernah terjadi."
**
Malam itu pun tiba, Melani sudah berpakaian cantik dengan dress yang indah di tubuhnya. ia mengulum senyum, lalu menarik nafas dalam-dalam untuk menetralisirkan perasaannya.
Ketukan pintu terdengar, sudah dipastikan itu adalah Alex karena Melani mengintip dari balik jendela. wanita itu bergegas mengambil tas selempang, mengenakan sepatunya, dan tak lupa mengecup punggung tangan sang Ibu.
"Are you ready?" tanya Alex
"Sudah. semoga saja orang tua kamu, tidak banyak bertanya tentang hubungan sandiwara ini."
"Jawab apa adanya saja." Alex bergegas menyalimi tangan Mama Sarah hingga sepasang anak muda ini masuk ke dalam mobil.
Disinilah mereka, dikediaman Alex, beberapa orang didalam sana sudah berkumpul menunggu sang calon menantu. Melani menghembuskan nafasnya, dirinya malah sangat gugup sekali.
"Mi, Pi, aku datang!" teriak Alex setiba keduanya di ruang tamu, tetap melangkah menuju ruang keluarga yang terdengar riuh sekali.
"Adik perempuan ku sangat cerewet, tutup saja telinga mu." Alex cekikikan
Hingga keduanya tiba dihadapan keluarga besar tersebut. Melani terpaku.
__ADS_1
πΏπΏπΏ