JONES, Dipaksa Jatuh Cinta

JONES, Dipaksa Jatuh Cinta
Feeling, Akankah Benar?


__ADS_3

🌿🌿🌿


Untuk kedua kalinya Melani kembali menginjakkan kaki di kediaman mewah ini, ia terdiam sebentar sebelum melangkah, apakah ini cara yang baik untuk menolong lelaki tersebut? ya, apa salahnya, toh hanya sementara. Melani kembali melanjutkan langkah setelah perhatiannya teralihkan kepada Alex. keduanya berjalan beriringan melewati pintu utama dan memasuki ruang tamu. Melani sayup-sayup mendengar kehebohan didalam sana, seperti suara dua orang wanita yang saling mengobrol dan becanda.


"Aku pulang, Mi, Pi!" teriak Alex


"Maaf, ya ... adekku sangat cerewet, tutup saja telingamu." ucap Alex sembari cekikikan


Melani hanya tersenyum kikuk, suasana di rumah ini benar-benar terasa hangat, seakan dirinya juga menginginkan kehangatan keluarga itu, mengobrol bersama Mama, merasakan hangatnya pelukan Papa, dan hatinya tersentak saat mendengar keriuhan antar keluarga didalam sana.


"Aku suka keluargamu." ujar Melani kepada Alex


Hingga langkah keduanya telah terhenti di ruang keluarga, semua mata mengarah pada sosok gadis cantik yang berdiri disisi Alex. Melani terpaku menatap wajah perempuan yang diketahui adalah adiknya Alex, postur wajahnya sekilas terlihat mirip dengannya bila diperhatikan lebih dalam. Kemudian tatapannya beralih kepada lelaki parubaya yang diketahui adalah Ayahnya, tidak jauh beda dengan wajah pria disampingnya. Namun, Melani masih betah menelisik lebih dalam wajah perempuan tersebut.


Kenapa--wajahnya terlihat tidak asing? Batin Melani


"Wah, ini ya, calon kakak iparku, Kak?" Perempuan tersebut menghampiri Melani, langsung memeluknya


"Hai." sapa Melani dengan ramahnya


"Hai ... kamu terlihat sangat cantik sekali, tapi--kok aneh ya?" Perempuan tersebut menatap lebih dalam wajah Melani


"Ada apa dengan wajahnya? jangan terlalu menatapnya seperti itu, Jenny!" sergah Alex


"Kakak, coba deh tatap kami berdua ... kami kembar ya? hanya berbeda di bibir dan pipi, dia chubby sedangkan aku tirus." Adik Alex yang bernama Jenny, berdiri sanding disamping Melani, menyuruh sang Kakak untuk memerhatikan wajah keduanya


Wajah mereka--apa ini jawaban atas pertanyaan dipikiranku karena melihat wajah Melani yang tidak asing menurutku? Batin Alex


Ia menatap tidak percaya karena wajah kedua wanita ini hampir terlihat mirip bila diperhatikan lebih dalam. Melani mulai merasakan sesuatu yang tidak nyaman, tatapannya menatap fokus menilik wajah lelaki parubaya yang datang menghampiri mereka


"Is, lama banget! lucu ya, kami mirip." Jenny merasa antusias karena tidak menyangka ada wanita yang mirip dengannya


"Lebay! di dunia ini ada tujuh rupa yang sama, tau!" Alex menyentil kening sang Adik, membuat wanita tersebut menggaduh

__ADS_1


"Sudah-sudah! kalian ini ribut saja." lerai Mami yang telah berada dihadapan ketiganya


"Melani, jadi kamu pacaran sama Alex? Oh, ya ampun, Mami tidak menyangka." Perempuan tersebut memeluk wanita yang hanya diam melamun


"Hai, Nyonya, bagaimana kabarnya?"


"Alhamdulillah, Tante sangat baik dan sehat. kamu sendiri terlihat semakin cantik dan bugar, bagaimana keadaan Toko kamu? Tante lihat sudah semakin berkembang." Perempuan tersebut menuntun Melani untuk duduk diatas sofa


"Alhamdulillah, Nyonya, berkat do'a orang-orang terdekat juga." ucap Melani, tatapannya kembali menelisik wajah Ayah Alex


"Syukurlah, kenalin ini suami Tante, Papinya Alex."


Melani menyapa, menyalimi tangan lelaki tersebut. entah kenapa saat menyentuh tangan itu, ada sesuatu yang menggetarkan hatinya. Melani masih menerka-nerka, apakah pria itu adalah Ayah kandungnya? secara dalam pandangannya dan juga Jenny, menyatakan bahwa wajah keduanya sangat mirip. Melani kembali menatap Alex, wajah pria itu mendominasi wajah kedua orang tuanya.


"Sudah berapa lama kalian berhubungan?"


tanya lelaki tersebut


Melani tengah berpikir keras bagaimana caranya untuk mengetahui kebenaran atas rasa curiga yang menghinggapi hatinya ini. apakah ia harus menabrakkan diri dan membutuhkan donoran darah? Ia yakin bila golongan darah pria itu sama persis dengannya seperti di film-film dan kisah-kisah novel.


Semoga saja tidak benar. batinnya


Lama mereka berbincang, sudah hampir satu jam ia berada di rumah tersebut. Melani tengah menahan rasa sesak di bawah perutnya, rasanya sudah sangat tidak tahan lagi.


"Nyonya, saya boleh ke kamar mandi?"


"Tentu saja. itu, disana ..." Mami Alex menunjuk toilet yang berada diujung sana. Melani mengangguk dan berjalan cepat sembari memegang perutnya.


**


"Hai, Kak! kenapa melamun?" Ratih membuyarkan lamuan sang Boss, yang sepertinya terlalu banyak pikiran


"Ah, enggak. ada apa?"

__ADS_1


"Assisten Raffa meminta Kakak mengantarkan ini." Ratih menyodorkan bungkusan yang berisi kotak cake


"Oh, oke ... Aku berangkat, ya ..." pamit Melani, perempuan tersebut bergegas mengambil tas selempang dan helm miliknya. Ia buru-buru pergi meninggalkan Toko tersebut.


"Ah, kakak semangat sekali." gumam Ratih sembari mengulum senyum


Melani melajukan kendaraannya dengan kecepatan sedang, pikirannya masih bergelayut akan feeling perasaannya. entah ini benar atau tidak, Melani hanya merasakan sesuatu yang berbeda didekat pria tersebut. Melani menghembus nafas dengan kasar, bersahutan dengan semilir angin yang menerpanya. Ia tergelak, kemudian menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ah, ada-ada saja. Mana mungkin pria itu, aku terlalu baper dengan kehangatan keluarga mereka." gumamnya sembari tergelak


Tanpa terasa motor yang membawa gadis tersebut telah tiba di depan gedung ini. Melani bergegas memarkirkan motornya, dengan langkah cepat ia berjalan terburu-buru melewati lobi hingga masuk ke dalam lift.


Tok tok


"Masuk!" sahut sang pemilik ruangan


Melani mendorong pintu, tatapannya kembali terpaku dengan wajah tampan tersebut.


"Pesanan datang, Tuan."


Raffa mendongak, menatap gadis impiannya yang berjalan perlahan mendekatinya.


"Terima kasih. kamu terlihat semakin cantik," goda Raffa, membuat Melani terbelalak mendengarnya.


"What?? nggak salah dengar?" Melani duduk di depan meja kerja itu, berhadapan dengan Raffa


"Selagi telingamu bersih, tidak ada kotoran, sudah dipastikan kamu tidak salah dengar."


"Ada angin apa, kamu menggombali aku?"


"Angin segar yang membawaku kembali bersemangat untuk mengejarmu. Aku mencintaimu, Melani."


🌿🌿🌿

__ADS_1


__ADS_2