
🌴🌴🌴
"Hai-hai!" tok tok tok, "Kalian ngapain?" Chika mengetuk-ngetuk kaca mobil disisi suaminya. melihat istrinya yang datang dengan wajah penuh tanda tanya itu, Tuan Andrew segera menurunkan kaca mobil, hingga terlihat jelas wajah cantik sang bidadari
"Apa, Yang?" tanya Tuan Andrew
"Kalian habis ngapain!" bukannya menjawab, Chika malah bertanya balik dengan wajah garangnya.
"Nona, suamimu menjitak kepala saya." sela Raffa, perempuan itu mengernyit heran sembari menyedekapkan kedua tangannya di dada
"Dia berani kurang ajar, Sayang, ditambah lagi badannya bau." sahut Andrew
Sontak saja Chika terbelalak, pikiran me*um mulai menggerogoti pikirannya. "Kamu menciumnya, Sayang?" tanya perempuan tersebut
Andrew menggelengkan kepala dengan cepat. "Mana mungkin, aku mengendus." tukasnya
"Eh iya, dia mencium tubuh saya, Nona. lihatlah--rambut saya berantakan karenanya." celetuk Raffa, ia tersenyum seringai didalam hatinya.
Pletak!
Chika menyentil kening suaminya dengan kuat. membuat Andrew menggaduh karenanya
"Benar apa yang dibilangnya, hah!" amarah wanita itu berkobar-kobar. dengan cepat sang suami menggelengkan kepala. ia pun menyuruh Chika untuk mundur, lalu membuka pintu disisinya
"Mana mungkin! jangan percaya sama dia. aku mana mungkin melakukan hal itu sama laki-laki. a-aku bukan g*y kali, Yang."
"Terus kenapa mobilnya goyang-goyang, hah!"
__ADS_1
Andrew menepuk jidatnya dengan sedikit kuat. ia pun menjelaskan apa saja yang terjadi didalam sana sejak tadi. Chika pun akhirnya mengangguk paham setelah mengerti apa yang dikatakan suaminya.
"Seru, seharusnya aku ikut bergabung tadi. kamu nggak ngajak!" perempuan itu mencubit perut suaminya
"Perutmu buncit, besok saja kalau si kembar udah lahir. aku berangkat ya," pamitnya, perempuan itu mengangguk
**
"Pergi sana! beli deodorant dan ganti pakaian kamu!" perintah Tuan Andrew, mengendikkan kepalanya ke arah jalan raya
"Baik, Tuan." sahut Assisten Raffa, ia segera masuk ke dalam mobil untuk melanjutkan perjalanan membeli sesuatu hal yang penting tersebut.
Tuan Andrew menggeleng-gelengkan kepala melihatnya, bisa-bisanya sang Assisten tidak membersihkan diri terlebih dahulu sebelum berangkat. apalagi ia harus menahan nafas selama di perjalanan karena tidak sanggup menghirup aroma tubuh itu.
Raffa telah tiba di Indomaret terdekat, melenggang masuk dengan gaya coolnya melewati salah seorang pegawai yang sedang bersih-bersih di teras Toko tersebut. tanpa berlama-lama, pria itu mengambil deodorant dan pafume sebagai penyelamatnya saat darurat begini.
Setelah selesai dalam memilah-milah, pria tampan itu kembali melangkah ke meja kasir untuk melakukan pembayaran. hingga--saat dirinya menatap ke arah lain, tiba-tiba ia teringat akan sosok wanita yang selama beberapa hari terakhir ini memenuhi pikirannya. Raffa tersenyum seringai, ia mengambil tiga batang silverqueen dan menaruhnya di meja kasir.
"Terima kasih." ucap Raffa, perempuan penjaga kasih itu pun mengangguk seraya mengulum senyum termanisnya. ia sempat terpesona dengan pria itu
"Semoga aromaku tidak tercium oleh wanita itu. aku sengaja menjaga jarak agar imageku tidak jatuh." gumam Raffa sembari menyalakan mesin mobilnya yang kembali bersiap untuk membelah jalanan Ibukota yang cukup padat. kali ini ia kembali bertandang menuju Toko pakaian pria untuk membeli setelan kantor seperti yang ia kenakan saat itu juga.
**
"Permisi, Kak." seseorang mengetuk kaca etalase dengan punggung jarinya. Melani yang mendengar ada panggilan, menghentikan kegiatannya di Dapur dan melangkah menuju ke depan untuk melihat siapa yang datang.
"Eh, iya dek?" ternyata seorang anak kecil yang berpenampilan seperti pengamen jalanan
__ADS_1
"Ini, Kak, ada titipan dari penggemar fanatik kakak." bocah lelaki itu menyodorkan dua batang coklat kepada Melani. Melani mengernyit heran, tatapannya beralih menatap keluar untuk mencari sosok mencurigakan tersebut. namun sayang sekali, tidak ada sosok yang tengah ia cari
"Siapa?" tanya Melani
Bocah yang diutus itu pun mengendikkan bahunya. ia tidak ingin mengatakan ciri-ciri pria asing tersebut.
"Hmm, yasudah, ambil untuk kamu saja." Melani menolak pemberian dari orang yang tidak jelas, dan mengembalikannya kepada anak di hadapannya kini
"Tidak, Kak." tolaknya
"Lah--kenapa?"
"Karna itu untuk Kakak." jawabnya dengan polos
Melani menggeleng-gelengkan kepala melihat kepolosan bocah tersebut. ia menghela nafas panjang, kemudian berkata, "Karna ini udah untuk kakak, jadi sekarang kakak berikan untuk kamu."
Bocah itu berpikir sembari menatap coklat yang menggiurkan tersebut. ia menoleh ke belakang sejenak, untuk melihat apakah pria itu masih ada disini atau tidak.
"Hmm, satu saja ya, Kak. terima kasih," ucapnya sembari mengambil satu batang silverqueen, kemudian berlalu pergi meninggalkan Toko tersebut
"Dikasih dua malah ambil satu." gumam Melani menatap kepergian bocah tersebut.
"Siapa sih dia?? penggemar fanatik? ih, alay banget." Melani merasa geli sendiri.
Disisi lain, Raffa baru saja tiba di ruang kerjanya. ia bergegas masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. untung saja peralatan mandi tersedia lengkap didalam sana. ada sabun, shampo, dan lain sebagainya, termasuk handuk. memang sudah diperkirakan, jika saja gawat darurat benar-benar saja terjadi seperti saat ini.
Tiba-tiba saja Raffa teringat akan wanita yang sempat ia perhatikan sebelum kembali ke Kantor, Raffa membuka aplikasi hijau di ponselnya dan mulai mengetik sesuatu.
__ADS_1
🌴🌴🌴