JONES, Dipaksa Jatuh Cinta

JONES, Dipaksa Jatuh Cinta
Sudah Bosan Putih?


__ADS_3

🌴🌴🌴


Setelah bertemu dengan Klien diluar perusahaan, Raffa diperintahkan oleh Tuannya untuk memeriksa langsung bangunan bertingkat dua yang sudah jadi. tanpa banyak kata, pria tampan itu menurutinya, menancap gas mobil dengan kecepatan rata-rata membelah jalanan Ibukota yang hampir padat kala siang itu.


Beberapa menit kemudian, mobil yang melesat itu perlahan mengurangi kecepatannya, berangsur henti tepat di depan bangunan tersebut.


Raffa menatap keluar, ia kagum melihat bangunan itu telah disulap menjadi ellegant dan mewah.


"Sesuai! memang seperti ini yang aku inginkan. luarnya saja sudah menarik, aku yakin akan banyak pengunjung untuk kemari." gumam Andrew, boss sekaligus teman dekat pria itu


Raffa turut tersenyum melihatnya


"Tunggu apa lagi, Tuan. ayo kita masuk," ajaknya, Raffa antusias sekali untuk memeriksa area dalam tempat itu. ia bergegas keluar dan melenggang pergi meninggalkan kendaraan itu.


Hingga langkahnya terhenti tatkala sang boss memanggil, tepatnya berteriak.


"Woi! main pergi aja! bukain ini!" teriaknya dengan raut wajah kesal


"Aish! merepotkan!" gumam Raffa, ia kembali melangkah menuju mobil untuk membukakan pintu pada pria manja nan lebay ini.


"Hah, gitu dong. kerja jadi Assisten jangan setengah-setengah." Andrew menepuk dada pria ini, membuat Raffa berdecak kesal


"Ini mah bukan Assisten lagi, tapi sudah merangkap jadi pelayannya." cerca pria tampan tersebut


Disinilah mereka, di Restorant yang sudah sempurna dengan gaya modern nan ellegant, hadiah untuk istri Tuan Andrew yang begitu menginginkan membuka kafe tapi diberi lebih oleh suaminya, yaitu Restaurant sekaligus.


Keduanya terpukau, Raffa mengikuti sang bos ke lantai atas. lagi-lagi keduanya makin dibuat terpana.


"Nona Chika pasti menyukainya, Tuan."


"Tentu saja, seleraku adalah seleranya."


"Oh iya, kapan perabotan itu sampai?"

__ADS_1


"Sebentar lagi, Tuan."


"Baiklah. kamu ke bawah sana, saya ingin sendiri."


Raffa mengangguk, ia segera ke bawah untuk menunggu pengantaran perabotan itu.


**


Raffa menyaksikan betapa romantis dan cinta sang boss kepada istrinya, memberikan sebuket bunga mawar dan disambut gembira oleh wanita cantik itu. mereka berpelukan, menyalurkan rasa rindu yang membuncah, padahal wanita itu baru saja ditinggal. sialnya lagi, Raffa harus menyaksikan ciuman panas diantara mereka


"****! kenapa harus disini!" gumamnya, pandangannya berusaha untuk tidak melihat ke arah sana.


Gila sekali pasangan itu, bermesraan dengan tidak melihat keadaan. jiwa jomblonya meronta-ronta, menuntun sang pemilik raga untuk mencari pasangan seperti mereka, hidup akan terasa lengkap dan penuh cinta.


"Tidak-tidak! cintaku hanya untuk Audy." gumamnya


"Aish! Audy lagi! wanita sialan itu. lihat saja nanti, aku sudah tau kediamannya sekarang." Raffa mengepalkan tangannya, rasa kesal masih menjalar di dalam hatinya.


Rasanya sudah sangat lama ia berdiri menyampingkan sepasang insan itu, Raffa kembali menoleh dan tersentak tidak melihat keberadaan mereka. semakin membuatnya kesal


"Bah!!" mendapat serangan mendadak di pundaknya membuat Raffa tersentak karena kaget. hampir saja jantungnya yang berharga tidak copot dari tempatnya, ia tak ingin mati sebelum mendapat penjelasan dari wanita itu.


Raffa membalikkan badannya ke belakang, ingin melihat sosok yang lancang sekali mengganggunya. sontak saja matanya membulat melihat wanita tanpa dosa malah tersenyum sok imut


"Kau!" tudingnya dengan jari telunjuk


"Hehehe, aku heran melihatmu hanya berdiri saja disini sedari tadi," perempuan itu mendongak menatap langit. "Apa udah bosan berkulit putih? sehingga dirimu hanya mematung saja disini seolah sedang berjemur." ledeknya


Pletak!


Raffa menyentil kening Melani, wanita barbar nan menyebalkan, sekaligus teman yang sudah berbaik hati memberikannya nasihat.


"Aw! kasar sekali." Melani menggaduh, mengusap keningnya yang terasa panas

__ADS_1


"Makanya--mulutmu jangan asal jiplak!" Raffa melenggang pergi meninggalkannya, masuk ke dalam rumah megah milik Tuannya ini, disusuli oleh Melani yang baru saja tiba di kediaman itu.


Perempuan tersebut mendapat panggilan dari sahabatnya yang beralasan sedang butuh teman ngobrol. Melani menurut saja, mengingat wanita itu tengah hamil besar. lagi pula ia juga rindu dengan suasana tempat tersebut.


"Kau, kenapa ngekor!"


"Lah--pede amat! orang mau ketemu Chika." cicit Melani, menatap sinis padanya dan kembali melangkah untuk mencari sahabatnya


"Bibi, Non Chika dimana?"


"Di ruang makan, Nona."


Melani mengangguk paham, ia bergegas menuju kesana untuk bertemu dengan sang sahabat yang teramat ia cintai.


"Melani, udah datang?" perempuan itu menyapanya dengan sangat antusias


"Seperti yang kamu lihat." Melani menunjuk tubuhnya


"Ayo kemari, kita makan bersama. oh astaga! aku bahkan lupa menyuruh Mas Raffa untuk masuk." Chika menepuk jidatnya, sungguh ia lupa akan pria itu karena serangan kenikmatan yang diberikan suaminya.


"I'm here!" sahut seseorang yang baru saja masuk ke ruang makan, berjalan dengan gaya cool


"Ah sudah disini. ayo kita makan siang," ajak Chika, perempuan itu menaruh piring milik suaminya yang sudah dihiasi dengan nasi beserta lauk pauknya.


Tak lupa ia juga menghidangkan untuk kedua tamu yang telah terencanakan itu. Chika sengaja mengundang Melani karena Raffa turut kemari mengantarkan suaminya. memang akal licik, sepasang insan itu memang suka sekali menonton pertunjukan langka di depan mata.


"Hmm, biar aku saja." cegah Melani, ia merebut centong dari tangan sahabatnya


"Duduklah, kamu sedang hamil tua." titah Melani, Chika menurut setelah mendapat anggukan dari suaminya


"Ambilkan juga untuk Mas Raffa, Lan." celetuk Chika


"What!"

__ADS_1


🌴🌴🌴


Terima kasih banyak untuk kalian yang berkenan baca cerita mereka ... walau sedikit mbulet, tapi aku hanya ikuti alurnya saja. mungkin dipertengahan cerita akan mulai ada konflik 😊🙏


__ADS_2