
🌴🌴🌴
Raffa yang baru saja tiba di ruang kerjanya, tiba-tiba pikirannya langsung dipenuhi oleh sosok wanita barbar yang suka berteriak itu. Tanpa sengaja melihatnya dari kejauhan bersama pria lain dan masuk ke dalam mobil tersebut, entah kenapa ada perasaan yang mengganjal ia rasakan.
Raffa bergegas merogoh ponselnya, membuka kontak whatsapp milik wanita itu yang baru saja ia pinta kepada Chika. masa bodo dengan image, mulutnya pun secara reflek meminta nomor ponsel milik Melani.
Tanpa banyak pikir, pria tampan itu pun langsung mengirim pesan kepadanya. tidak sampai dua menit, pesannya dibalas oleh yang bersangkutan.
"Siapa kamu?" balas seseorang tersebut
Raffa tersenyum seringai, ia pun membalas pesan tersebut.
"Orang yang dekat denganmu." lalu mengirimnya
Raffa menghela nafas panjang, entah kenapa dia melakukan hal seperti ini, seperti tidak ada pekerjaan saja. nyatanya setumpuk pekerjaan tengah menanti diatas meja tersebut.
"Ada apa dengan aku ini? malah mengerjai anak orang."
"Aish!" ia menendang kaki meja. "Apakah ini caranya untuk melupakan Audy? mencari hiburan tersendiri dengan gadis itu? Raffa--Raffa!" gumamnya sembari terkekeh
Hingga pesan masuk kembali mengalihkan perhatiannya.
"Anda salah kirim, bye!!"
Sontak saja Raffa terbelalak membacanya. "Apa-apaan dia, untuk apa aku mengirim pesan pada orang yang salah."
"Oke, baiklah, Melani ... aku akan menjadi penggemar rahasiamu." Raffa tersenyum seringai
"Hai, jawab dong, kamu pergi sama siapa tadi?" Raffa kembali mengetik lalu mengirimnya. namun, sayang sekali karena wanita diseberang sana tidak membalas pesannya. bahkan tidak untuk membacanya sekalipun.
"Benar-benar wanita ini, geram!" ia gemas sendiri, mungkin saja kalau ada orangnya, ingin sekali Raffa merem*s-rem*s tubuh mungil itu.
Tok tok tok
__ADS_1
Ketukan pintu mengalihkan perhatian Raffa yang saat itu sedang membayangkan wajah Melani dan beralih pada wajah Audy, mantan kekasihnya. ia menggeleng-gelengkan kepala, merasa bingung.
"Masuk!" perintahnya, kembali memperbaiki letak duduknya agar semakin terlihat tegas dan menakutkan
Seorang wanita berpakaian formal dengan rok span hitam selutut dan blouse putih, menampakkan dirinya dari balik pintu. ia masuk dengan membawa secangkir kopi diatas nampan. Raffa mengernyit heran, bagaimana bisa Sekretaris bossnya yang membawakan pesanan itu.
"Tuan, kopinya." perempuan itu menaruh segelas kopi diatas meja dengan senyum cengir miliknya
"Apa tidak ada lagi pekerjaanmu? sampai mengambil alih pekerjaan pantry?" tanyanya dengan sorot mata yang tegas, wajah datar itu semakin terlihat menantang.
"Hmm, kebetulan lagi santai, Bang." ucapnya
"Bang??? pakai bahasa formal disini!" peringatnya
"Eh, hehehe, bawa santai saja, Tuan. terkadang kita harus rileks." selorohnya
"Kembali ke meja kerjamu dan bawa setumpuk berkas ini!" perintahnya kepada Sekretaris Jasmin. Sontak saja perempuan itu terbelalak kaget melihatnya, matanya melotot melihat tumpukan itu
Raffa menaikkan salah satu alisnya. "Bukannya lagi santai? jangan sampai Presdir melihat kamu sedang makan gaji buta ya! sekarang kerjakan ini!" titahnya lagi
"Eh, sebenarnya--"
"Saya tidak terima alasan, kerjakan ini semua. bukannya kamu suka pada saya? jadi bantulah abangmu ini, dek." ucapnya dengan nada tinggi yang langsung berubah menjadi nada merendah
Sekretaris Jasmin melongo mendengarnya, perempuan itu menggangguk lalu menggeleng. semakin terlihat aneh dimata Raffa.
"Kenapa?" tanya Raffa
"Eh, hmm, saya akan membantu untuk mengerjakan ini, tapi ada syaratnya!" ucap wanita itu
"Apa?" Raffa sedikit memundurkan kursinya, kedua tangan saling berpagutan dan ia lekatkan pada dagunya
"Nanti malam, dinner yuk." ajaknya, ia harus mencari kesempatan untuk dekat dengan pria ini
__ADS_1
Enak saja dia memberiku tugas sebanyak ini, lebih baik aku ambil kesempatan dengan mengajaknya dinner. kapan lagi coba? hehehe. batinnya
"Pinter sekali kamu." Raffa menatap sinis
"Yasudah kalau nggak mau, lagian pekerjaan saya--
"Baiklah! angkut itu!"
"Serius???" matanya berbinar-binar. namun Raffa hanya diam saja tidak menanggapinya, membuat wanita itu mencebikkan bibir.
"Saya ambil setengahnya." ucapnya, dan berlalu pergi meninggalkan Assisten Raffa yang termanggu.
"Hei, semuanya!" teriak Raffa, perempuan itu dengan lancangnya malah mengejek pria ini.
"Astaga! banyak sekali perempuan barbar." gumamnya, mengusap wajah dengan kasar.
Di meja kerja Sekretaris Jasmin, perempuan itu berdesah frustasi karena melihat pekerjaan miliknya dan juga pekerjaan Assisten yang ia angkut. sungguh banyak sekali bila dibandingkan dengan jat*h pria datar nan dingin itu.
"Huh! nyesal berbohong kalau akhirnya tugasku jadi dua kali lipat. tapi--tak apalah, lumayan ntar malam dinner sama pria dingin itu, hehehe." ia terkekeh
Raffa yang merasa tugasnya sudah berkurang, ia kembali bersantai ria. kini ia kembali menghubungi Melani untuk meneror gadis tersebut.
"Kamu belum jawab! tadi pergi sama siapa dan kemana! kamu tau? saya penggemar fan*tik kamu!"
**
"Hati-hati di jalan ya, Chik." Melani melambaikan tangan tatkala mobil yang membawa sahabatnya mulai melaju pergi. Chika membalas lambaian itu dari balik kaca jendela mobil. setelah kepergian Chika, Melani kembali masuk ke dalam tokonya. namun, lagi-lagi pahanya bergetar dan dipastikan sosok yang menerornya kembali lagi.
Wanita itu bergegas merogohnya, membaca pesan yang memang sudah ia perkirakan.
"Apa-apaan ini!"
🌴🌴🌴
__ADS_1