
πΏπΏπΏ
"Mama, kita sudah selesai masak, sekarang ayo mandi dan ganti baju yang lebih cantik lagi." titah Melani dengan perasaan senangnya
"Mama sudah mandi, tau! emang mau ngapain? dan untuk apa masak dengan porsi sebanyak ini?"
"Nanti Mama juga akan tahu." Melani mendengkus aroma tubuh sang Mama, wangi, tidak bau keringat. "Yasudah, Mama ganti baju aja yang lebih cantik dan harus berdandan juga." titahnya
Mama mengernyit heran, "Aneh kamu! apa ada seseorang yang mau datang?" tanya Mama Sarah. bukannya menjawab, Melani hanya tersenyum-senyum olehnya
"Pokoknya lakuin aja yang Melan inginkan." Gadis itu melenggang pergi ke kamar mandi untuk membersihkan tubuh kesekian kalinya. padahal baru pulang tadi, dirinya langsung mandi, dan kini--karena kedatangan orang yang sangat spesial, ia harus lebih wangi dari biasanya.
Disisi lain, Raffa menatap pantulan dirinya di cermin, ia sangat tampan dengan mengenakan kemeja berwarna hitam berlengan tanggung, dan juga celana chino berwarna cokelat terang, ditambah rambut klimis yang tersisir rapi ke belakang, memberi kesan tampan pada pria ini. Ia mengulum senyum pada dirinya sendiri, seolah sangat bangga memiliki wajah setampan ini.
"Sudah ganteng, dan udah kayak model juga." ledek seseorang yang menyembulkan kepalanya dari balik pintu. ternyata Mama Risha yang datang, ia melenggang masuk mendekati sang putra
"Harus lebih ganteng lagi, Mam." Raffa menyemprotkan parfum favorit ke tubuhnya, sangat banyak sekali hingga membuat Mama hampir bersin olehnya
"Sekalian aja kamu tumpahkan semuanya ke bajumu, nyengat banget." selorohnya, Raffa hanya cengengesan.
"Sudah, ayo buruan! Mama tidak sabar menemui menantu."
"Cie .... yang udah kebelet punya menantu." ledek Raffa, Mama Risha memutar bola matanya, jengah. Mama melenggang pergi terlebih dahulu untuk menemui suaminya yang sudah stay dibawah.
__ADS_1
Kini keluarga itu bertandang ke kediaman Melani dengan mobil terpisah, mobil Papa Rafi mengikuti mobil putranya dari belakang karena tidak tahu dimana alamat rumah tersebut. beberapa menit kemudian, mobil yang mengangkut keduanya pun telah tiba di jalanan setapak yang tidak terlalu lebar, hanya bisa dilintasi oleh satu mobil dan satu motor disisinya.
Raffa berhenti tepat di depan kediaman tersebut, memiliki halaman rumah yang cukup luas dan rumah bulatan yang sederhana, dihuni oleh dua wanita cantik kesayangan pria tersebut.
"Ini rumahnya?" tanya Mama Risha
"Yes, Mom." Raffa membuka bagasi mobilnya untuk mengambil sesuatu, diikuti kedua orang tuanya yang mengangkut beberapa benda tertata rapi didalam bagasi.
Tok tok tok
"Assalamualaikum."
Tanpa menunggu lama, pintu dibuka dari dalam dan menunjukkan wajah Melani yang terlalu cantik malam ini. Wajahnya cerah dan bersinar, dilapisi make up flawless yang membuatnya semakin manis.
"Waalaikumsalam, Mas, Tuan, Nyonya." Melani langsung mengecup punggung tangan calon mertuanya, lalu mempersilakan mereka untuk masuk kedalam rumah.
Raffa dan kedua orang tuanya mendudukkan tubuh diatas sofa sembari menunggu sang tuan rumah. tak berselang lama, kedua wanita cantik itu datang menemui mereka. Mama Risha mengernyitkan dahinya, wajah itu--seperti ia pernah mengenal wanita tersebut.
"Sarah, bukan?" tebak Mama Risha, menegapkan tubuhnya untuk melihat lebih jelas wajah itu. sontak saja Melani dan Raffa terlonjak kaget.
"Risha??" Mama Sarah menunjuk wanita tersebut sembari tersenyum tidak menyangka
"Benar! kamu Sarah! aaaakh!" Mama Risha bangkit berdiri, mengitari meja dan memeluk Mama Sarah dengan erat. Mereka berpelukan untuk menyalurkan rasa rindu yang telah terlalu dalam ini.
__ADS_1
Raffa dan Melani saling bersitatap, keduanya tidak menyangka melihat pemandangan langka tersebut.
"Mas Rafi, kan? dan ternyata Raffa anak kamu?" Mama Sarah berkata dengan menggunakan bahasa isyarat, dibalas pula oleh Mama Risha, sepertinya wanita itu begitu mahir dengan menggunakan bahasa tersebut
"Kamu benar, Raffa anakku dan Mas Rafi pria yang menikahiku." jawab Mama Risha
"Oh, ya ampun ... pantasan kalau ngelihat Raffa itu adem banget, wajahnya juga seperti--aku mengingat masa lalu." Mama Sarah kembali memeluk sahabat lamanya
"Kalau Melani tidak terlalu mirip sama kamu ya, jadi nggak ada pikiranku ke kamu."
"Hehehehe, dia lebih mirip ke Ayahnya mungkin." Mama Sarah mulai memudarkan senyuman walau tidak seeuforia tadi
"Mungkin? kenapa mungkin? pasti mirip dong. ohya, suami kamu mana?"
"Aku tidak punya suami. jadi--kalian mau melamar putriku?" Pandangan Mama Sarah menatap benda yang dipangku oleh Raffa dan Ayahnya
Raffa bangkit, menyalimi tangan calon mertua. dan Mama Sarah menyalimi tangan Papa Rafi.
"Iya, Raffa ingin melamar putrimu." Mama Risha kembali ke tempat yang ia duduki tadi. sedangkan Melani berlalu pergi untuk membuat sesuatu.
Mereka bertiga menyerahkan seserahan kepada Mama Sarah, menaruhnya diatas meja yang terletak ditengah-tengah mereka. berupa satu set perhiasan, satu set perlengkapan wanita berupa pakaian, tas dan sepatu, juga terdapat perlengkapan skincare dan alat mandi, hingga buah-buahan. Semua dikemas menjadi empat box hantaran yang terbuat dari kaca.
"Waduh, bawa buah-buahan saja sudah cukup, Sa ..." ucap Mama Sarah
__ADS_1
"Melamar masa bawa itu aja, kamu lucu." Mama Risha tergelak, hingga Melani datang membawakan minuman untuk tamunya berupa es sirup marjan
πΏπΏπΏ