
π΄π΄π΄
"Sayang, besok aku harus keluar kota bersama Tuan Andrew, ada pekerjaan penting." ucap Raffa saat keduanya sedang makan malam
"Kemana? dan berapa hari?" tanya Melani
"Ke Bandung, hanya dua hari." jawabnya
"Dua hari???" Melani kaget, diangguki oleh sang suami
"Is! lama amat!" gerutunya
"Hanya dua, Sayang ... nggak akan lama."
"Hm!!" Melani mengangguk sembari mencebikkan bibirnya.
Raffa tersenyum lucu melihat ekspresi istrinya, seakan tidak ingin jauh darinya seperti hari-hari sebelumnya, wanita itu selalu ingin dekat kepada sang suami. bahkan selalu datang ke Kantor hanya untuk ingin dipeluk. sungguh aneh memang.
"Kalau sudah selesai pekerjaan, aku langsung pulang."
"Iya, tau kok." Melani menyuapkan nasi ke dalam mulutnya dengan kasar, hatinya tengah berperang didalam sana
**
Pagi pun tiba, Raffa telah selesai dengan penampilan formalnya yang membuatnya semakin terlihat tampan, wajah cerahnya begitu diagungkan oleh sang istri, Melani mendekat ingin memeluknya dari belakang. Melani menghirup dalam-dalam aroma wangi tubuh sang suami yang menguar masuk kedalam indra penciumannya, wangi ini yang ia rindukan.
"Aku kangen." lirih wanita itu
"Kita bahkan belum berpisah, Sayang." Raffa terkekeh, mengelus punggung tangan sang istri yang melekat diperutnya
__ADS_1
"Tapi aku udah kangen duluan, gimana tuh?"
"Kita bisa video call-an, oke? jaman sudah canggih."
"Hmmm ... serah deh." Melani menguraikan pelukannya, ia menghadap suami lalu memperbaiki dasi yang menghiasi dada suaminya
"Kenapa nggak pakai baju santai aja dulu?" tanya wanita itu
"Setiba disana langsung ke lokasi, Sayang, membutuhkan banyak waktu kalau singgah ke Hotel dulu untuk berpakaian."
"Hmmm, iya juga."
"Kamu nggak siap-siap ke Toko?"
Melani menggelengkan kepalanya, "Malas. nanti aja agak siangan kalau kamu sudah sibuk disana." ujarnya
"Dasar!" Raffa mencubit hidung sang istri.
Menu bubur ayam, aromanya menguar saat pemilik rumah ini baru muncul melewati sekat.
"Tuan Andrew memang nggak salah pilih pembantu, top banget masakannya, selalu wangi." puji Raffa
"Hidung kamu lebih tajam soal penciuman, ya? masih jauh dari meja saja kamu udah bisa rasain aromanya. apa hidungku tersumbat ya?" Melani memencet hidungnya
"Apa kamu ingusan?" ledek Raffa terkekeh
"Apaan sih! enggaklah, orang nggak pilek juga." gerutu Melani, menyuapkan bubur kedalam mulutnya.
Melani dan Chika menatap kepergian dua pria tampan itu dengan tatapan sendu, mobil pajero warna putih melesat sempurna hingga menghilang dari pandangannya. keduanya sama sama tidak ingin bila sang suami meninggalkan agak sehari saja, dan dua hari begitu menjengkelkan
__ADS_1
"Aaakkh ... rasanya malas mau kerja." gerutu Chika setelah kepergian suaminya tidak terlihat lagi
"Aku juga malas, buktinya masih pakai dasteran." Melani menatap penampilannya yang mengenakan daster motif bunga.
"Mending habisin waktu sama anakku aja." Chika berbalik badan melihat anak-anaknya yang selesai makan. Chika pun menyuruh kedua pengasuh itu untuk pergi meninggalkan mereka.
Chika dan Melani bermain bersama kedua bocah imut itu, mereka selalu ceria dan menatap lekat wajah keduanya.
"Papa pergi dan kita tinggal bertiga sekarang." ucap Chika, mendudukkan tubuhnya ditapak tangga terasnya sembari menggendong Veer. sedangkan Melani, ia memutar-mutarkan tubuhnya hingga gadis nakal itu tertawa lepas. Chika senang sekali melihat putrinya yang ceria dan ia bersyukur melihat kedua anaknya yang masih enam bulanan sudah terlihat sangat aktif sekali.
Kini si kembar mereka taruh di lantai yang beralaskan karpet ukuran mini, mereka sudah bisa sendiri cara menengkurapkan tubuh dan membalikkan badan menatap langit-langit ruangan. Tawa cekikikan yang terdengar renyah membuatnya semakin menggemaskan, dan moment ini begitu didambakan oleh Melani yang menginginkan seorang anak.
"Udah ada tanda-tanda belum, Mel?" tanya Chika
"Belum, selera makan ku normal saja kayak kamu dulu." Melani hanya tahu itu karna ia berpengalaman hidup bersama Chika saat di Mess.
"Kalau aku dulu, suamiku yang kena getahnya ... dia yang mual. Raffa, enggak?" tanya Chika
Melani menggeleng. "Emang tanda-tandanya selain itu, apa lagi?"
"Hmmm ..." Chika berpikir. "Pengen dekat sama suami terus." jawabnya
"Ohya??" Melani terkesiap, diangguki oleh Chika
Aku seperti mengalaminya, batin Melani
"Coba periksa kalau penasaran, siapa tau udah." sahut Chika
"Nanti deh aku beli testpack." ucap Melani sembari mengulum senyum dan kembali mengoceh kepada dua bayi kembar tersebut.
__ADS_1
πΏπΏπΏ