
πΏπΏπΏ
"Apa katamu?"
"Aku mencintaimu, apa kurang jelas?" Raffa menaikkan salah satu alisnya, mencondongkan tubuhnya menghadap sang pujaan, hingga jarak mereka sekisar dua jengkal. Melani menegang saat jantungnya semakin berdegup kencang, apalagi jarak keduanya yang dekat seakan jantung berpacu sangat hebat.
Nembak kok nggak romantis, batin Melani
"Ada-ada saja. kamu itu becanda, atau mungkin ingin menjadikanku uji coba?" Melani cekikikan, menunduk seolah ingin menyembunyikan wajahnya karena ia merasa tersanjung, entah ini benar atau sekedar gurauan, Melani tidak ingin terlalu bawa perasaan..kali ini ia takut kalau dirinya dijadikan uji coba, seperti yang dilakukan Alex.
Raffa tersenyum saat tatapannya sekilas melihat senyuman dari wajah wanita tersebut. Ia bergegas mengitari meja, mendekat pada Melani lalu berjongkok dihadapan sang pujaan hati. Melani tersentak, matanya membulat menatap penuh wajah tampan itu.
Keduanya saling bersitatap dalam pancaran mata yang berkilat, menyalurkan sebuah rasa yang terpendam di dalam raga. dua pasang mata saling terkunci, menatap penuh ketenangan dan kehangatan. ingin rasanya Raffa memeluk tubuh itu, tubuh yang sangat ia rindukan selama beberapa minggu ini.
"Aku serius." Raffa mengambil kedua tangan wanita itu, menggenggamnya dengan penuh kelembutan. "Selama ini aku korbankan perasaanku demi melihatmu bahagia dengan dia, kekasih bohongan kamu itu, sekarang tidak lagi--aku tidak bisa membagimu ke orang lain. Aku sungguh-sungguh mencintaimu, walau terkadang aku suka membuatmu emosi." ungkap Raffa dengan tatapan teduh, penuh cinta.
Melani semakin tersanjung mendengarnya, bahkan kejadian untuk kedua kalinya ini terasa berbeda saat Alex mengutarakannya. saat ini ia merasa deg-degan, tubuhnya terasa kaku seakan sulit digerakkan, bahkan ia dapat mendengar detakan jantungnya semakin kencang didalam sana
"Tau dari mana kalau aku berbohong?" hanya pertanyaan itu yang bisa keluar dari mulutnya
"Dari matamu."
"Ck! aku serius!"
"Aku selalu mengikuti mu kemana pun kamu pergi bila bersama pria tersebut. dan dirimu juga diawasi oleh anak buahku dari kejauhan. sebab apa? aku tidak ingin kamu kenapa-napa, apalagi bersama pacar bohongan kamu itu. dan kemarin sore--aku mendengar ungkapan cinta yang diucapkan Alex."
"Apa???" Melani tercengang, ia menatap tidak percaya
__ADS_1
"Maaf, mungkin aku tidak sopan. Aku hanya ingin mengawasimu."
"Mas Alex sangat baik, dia tidak mungkin macam-macam padaku." sanggahnya
"Iya, tahu. tapi jangan puji dia juga kali!" Raffa merasa sebal, semakin membuat Melani merasa gemas dan sedikit tergelak
"Ketawa! jadi apa balasanmu?" tanya Raffa, dia sudah tidak sabar
"Kamu terlalu percaya diri sekali, apa tidak takut ditolak?"
"Aku tidak takut, aku sudah tahu apa jawabanmu, pasti mengatakan iya." ujarnya dengan santai
"Tahu dari mana emangnya?"
"Tuh," Raffa menunjuk penyatuan tangan mereka. "Bahkan kamu tidak ingin melepaskan genggamanku, kamu juga tersenyum."
"Hmm, genggamanmu terlalu kuat." Melani menjadi salah tingkah sendiri
Raffa hanya mengulum senyum sembari menatap lekat wajah yang memerah menahan rasa malu.
Konyol, kuat dari mananya? aku hanya menggenggam dengan lembut, dan kau betah bersamaku. Batin Raffa
"Aku mau pulang aja, Ratih sendiri." pamitnya, bergegas berdiri dan melenggang pergi
"Hei, kamu belum menjawabnya!" teriak Raffa
"Buat moment yang romantis seperti kata netijen, dasar nggak peka!" sahut Melani, menarik pintu dan melenggang keluar meninggalkan ruangan yang panas tersebut. Melani melangkahkan kaki dengan tergesa-gesa, menggenggam tangannya untuk merasakan sentuhan halus yang diberikan oleh Raffa.
__ADS_1
Disisi lain Raffa tersenyum puas, ternyata wanitanya ingin moment yang sangat romantis seperti pasangan pada umumnya. kini ia mengetahui kenyataan sebenarnya, bahwa kemarin sore tersebut Melani tidak menerima cinta pria itu. namun ia masih bingung, apa yang mereka bicarakan hingga perempuan itu tertawa?
"Setidaknya aku udah mengutarakannya, kalau benar Melani menerima cinta Alex saat di Toko, pasti dia akan menolakku mentah-mentah. tapi sekarang nyatanya tidak, aku punya kesempatan untuk mendapatkannya." Raffa tersenyum seringai
**
"Kenapa, Kak? kok happy benar?" Ratih memperhatikan raut wajah wanita tersebut semenjak turun dari motor, ada rona bahagia yang terpancar dari dalam sana.
"Kakak habis ditembak." ujar Melani sembari tersenyum
"Mati dong!" ketus Ratih
"Is, bukan gitulah! Assisten Raffa menyatakan cinta padaku." Melani kembali membayangkan wajah tampan tersebut, pria itu sudah kembali hangat, tidak sedingin dan secuek itu lagi
"Cie .... udah ketebak pasti Kakak suka sama dia, secara pandangan Kakak sangat berbeda bila menatapnya, beda sama Tuan Alex." seloroh Ratih mengungkapkan sudut pandangannya
"Apaan sih, kalian itu terlalu yakin sekali."
"Gimana nggak yakin, kalau Kakak senyam-senyum mulu." tukas Ratih, ia merasa lucu sekali melihat raut wajah bahagia yang tidak bisa ditutupi. Melani tidak bisa berkata apa-apa
"Jadi apa jawaban Kakak?"
"Bel--
"Permisi, Nak Melani."
πΏπΏπΏ
__ADS_1