
πΏπΏπΏ
"Yang benar saja kakak kamu ... masa aku harus merelakan dirimu jalan dengannya seperti pasangan kekasih? dan aku harus mengekori kalian, dasar!" omel Raffa sembari menyetir mobil ditengah-tengah padatnya kendaraan kala sore menjelang maghrib itu
"Selama seminggu pula itu!" geramnya
"Pppfffft! lakukan sajalah jikalau kamu memang serius denganku."
"Emang kurang serius apa, coba? sudah gentleman ini mah, melamar kamu didua tempat, tiga tempat malahan." ocehnya
"Sudah-sudah, jangan emosi mulu." Melani menenangkan sang kekasih, mengelus-elus bahunya
Raffa hanya membuang nafasnya dengan kasar, sembari melengos ke arah lain.
"Berhentikan mobilnya." titah Melani
Raffa mengernyit, "Ada apa?"
"Hentikan saja!" ulang gadis tersebut, Raffa pun terpaksa menurutinya, memarkirkan mobil di tepi jalan raya.
Melani tersenyum simpul, gadis itu dengan agresifnya langsung berpindah tempat dan mendudukkan tubuhnya dipangkuan Raffa dengan cara melebarkan kakinya. Raffa terlonjak kaget, matanya terbelalak tatkala mulutnya langsung disumpal oleh bibir manis tersebut.
Lidahnya bermain didalam sana, menelusuri rongga mulut milik Raffa yang masih diam terpaku. Melani menekan kepala pria itu, meremat rambutnya, hingga pagutan keduanya semakin dalam. Melani tersenyum puas, akhirnya pria ini berkenan membalas ciumannya. Anaconda milik keduanya semakin buas, saling menyesap dan ******* dengan liarnya. kedua raga itu saling menikmati, gelenyar-gelenyar aneh mulai menyerang dibawah sana. Raffa sedikit mengangkat pantat wanita itu, merematnya dengan kuat hingga membuat Melani berdesah.
"Aku ingin melakukannya." lirih Raffa, Melani menggeleng, tidak untuk itu. cukup seperti ini sebelum ada ikatan yang mengikat keduanya.
__ADS_1
"Oh!" Raffa tertunduk lesu, wanita ini menggodanya tapi tidak mau bertanggung jawab.
Melani kembali membenamkan bibirnya di mulut pria itu, semakin panas dan sangat panas suhu didalam sana akibat percintaan mereka yang semakin menggila. Raffa beralih menelusuri leher Melani, memberikan kecupan yang membekas diarea sana. Melani bergelinjang, matanya terpejam merasakan hal itu.
Raffa semakin buas diatas tubuh Melani, melihat benda padat ingin sekali ia nikmati. dengan beraninya ia meremat dua gundukan itu dari balik kaos yang dikenakan wanitanya.
"Oh, nakalnya!" desah gadis tersebut
"Kecil sekali, tapi padat." bisiknya dengan nada sensual
"Eeeemh ... ten-tu saja." desahnya, Melani menenggelamkan wajahnya diceruk leher sang kekasih, menghirup dalam-dalam aroma tubuh yang sudah menjadi candu untuk wanita itu. Melani terlonjak saat merasakan sesuatu dibawah sana terasa mengeras, ia terbelalak dan kembali menarik tubuhnya. tak lupa pula untuk menghentikan tangan nakal yang masih asyik mengerayangi tubuh Melani.
"Ada apa, hm?" tanya Raffa
"Kamu sesak pipis, kah? itu kamu mengeras." Melani menunduk menatap pusaka Raffa yang masih betah didalam sangkarnya.
Melani mengangguk, mengangkat bokongnya dan berpindah ke bangku semula. Raffa kembali menyalakan mesin mobilnya, menatap jalan raya yang cukup ramai disisinya.
**
Raffa mengusap wajahnya dengan kasar sesaat mobil telah berhenti tepat di depan kediamannya. Ia baru tiba setelah mengantarkan Melani. Pria tampan yang masih dibaluti pakaian kantor, menunduk menatap sang junior, ia bernafas lega akhirnya sang adik telah kembali tidur.
"Sabarlah, My Junior ... tiga bulan lagi." ucapnya dengan sang adik kesayangan
Raffa kembali masuk kedalam rumah, bergegas untuk membersihkan tubuh yang dirasa sangatlah lengket oleh keringat, atas seharian yang penuh dengan kesibukan ini. belum lagi, ia ingin menenangkan diri didalam bathup untuk sekejap saja. Sungguh malang sekali, ujian sebelum menikah memang banyak terpaan yang menguji hati dan iman.
__ADS_1
π³
Hiruk piruk pengunjung Mall terlihat penuh dengan adanya lautan manusia didalamnya, berkelana kesana kemari bersama keluarga, teman, bahkan pasangan. berbelanja sepuas hati menghabiskan lembaran uang untuk kesenangan, kebutuhan dan keinginan. Namun tidak untuk Raffa, nasib malang menimpanya tatkala hatinya begitu panas melihat Alex yang langsung menggandeng tangan kekasihnya. Ia tidak terima, pria ini langsung melangkahkan kakinya dengan cepat untuk mencegah perbuatan kakak adik itu.
"Eiiiits! tidak boleh melanggar perjanjian!" Jenny langsung menyergah Raffa yang ingin melerai mereka
"Masa bodo! yang penting saya sudah mendapatkan restu ibunya." Raffa berlari kecil meninggalkan Jenny yang diutus untuk menjaga pria itu sampai perjanjian ini selesai.
Didepan sana, Alex tersenyum seringai karena mampu mengerjai lelaki itu. Ia terus menggengam erat tangan Melani, seolah takut bila gadis itu terlepas.
"Mas, kasihan Mas Raffa, dia kebakaran jenggot tuh." Melani sempat menoleh ke belakang melihat pria itu berseteru dengan Kakak perempuannya
"Biarkan saja, apa peduli ku." Pria itu mengendikkan bahu seolah merasa acuh dengan calon adik iparnya. tangan Alex pun beralih merangkul pundak Melani, merapatkan tubuh mereka bagaikan sepasang kekasih.
"Is, risih tau!"
"Ayolah, kita harus bekerja sama .... kapan lagi kita mengerjai pria itu?"
"Apa seperti ini tidak apa-apa? kamu seperti sedang mencuri kesempatan dalam kelapangan saja ... eh kesempitan, hehehe."
"Hei, Alex! lepaskan calon istriku." Raffa mengejar mereka dengan langkah lebarnya.
"Cih! pria itu sungguh memalukan, terlalu baper." gerutu Jenny
πΏπΏπΏ
__ADS_1
π€£π€£π€£π€£