
🌴🌴🌴
Tok tok tok
Ketukan pintu terdengar oleh Melani yang sedang mengeringkan rambutnya dengan hairdyer di depan meja rias. perempuan itu bergegas mendekati pintu, lalu membukanya dari dalam. tampak Bibi Tini yang bekerja di kediaman barunya berdiri tepat didepan pintu.
"Ada apa, Bi?" tanya Melani
"Nyonya Chika mencari Nyonya, beliau menunggu di kamar bawah." ucapnya memberitahu
"Sepagi ini?" Melani kaget, berbalik untuk melihat jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul lima pagi.
"Iya, Nya."
"Baiklah, Bi." turutnya, Bibi pun pamit pergi meninggalkan majikan barunya. sedangkan Melani, ia bergegas menyisir rambutnya yang sudah kering, lalu berjalan untuk menghampiri Chika yang berada di kamar bawah.
"Ada apa, Chik?" Melani menyelonong masuk, melihat sahabatnya yang sedang duduk diatas ranjang.
Chika bangkit berdiri dengan senyum semringah miliknya, mencengkram kedua bahu Melani hingga membuat wanita itu semakin heran.
"Kamu sakit?" tanya Melani, sahabatnya sedikit aneh
"Bukan. aku mau memberikan ini sama kamu!" Chika memamerkan tiga alat tespack dengan merek yang berbeda.
Melani melotot melihatnya, bagaimana bisa perempuan ini sangat antusias atas dirinya.
"Apa! testpack? untuk apa gunakan itu, masih baru juga." gerutu wanita tersebut
"Udah ah ... buruan pakai, tapi pipis dulu! tuangkan pipismu disini." Chika menaruh alat tersebut ditelapak tangan Melani dan juga cup untuk menampung air seni.
"Tapi aku udah pipis, kamu yang benar saja?" decak Melani
__ADS_1
"Yasudah aku tungguin disini sampai kamu sesak pipis." Chika kembali menjatuhkan bokongnya di ranjang
Melani mendengus kesal melihatnya, menatap dalam wajah sahabatnya yang terlalu ambisius sekali ingin membuatnya hamil secepat itu, alih-alih agar si kembar memiliki teman kecil di Komplek ini.
"Kamu nggak pulang dulu? siapa tahu twins bangun."
"Nggak kok, kan ada Babysitter yang menjaga."
Melani mengangguk paham, ia pun teringat pada suaminya yang masih berada di kamar. tiba-tiba saja ia mulai merasa sesak pada bagian bawah perutnya, wanita itu melangkah ke kamar mandi sembari melakukan pemeriksaan terhadap tiga alat yang ia genggam.
"Apa bisa baru sepuluh hari menikah sudah hamil?" gumam Melani menerka-nerka sembari menunggu rendaman alat itu
"Bisa jadi, apakah aku bisa secepatnya hamil? ah, aku jadi pengen cepat-cepat dititipkan bayi kedalam sini." Melani mengulum senyum sembari mengelus perut datarnya. lalu ia kembali mengambil alat tespeck dari dalam cup, mengibaskannya ke udara agar garis lurus itu mulai bekerja
"Bismillah ...." gumamnya, ia menatap lekat-lekat benda itu, menunjukkan jumlah garis yang sama. seketika saja wajahnya ditekuk tatkala mendapatkan hasil yang tidak diharapkan semua orang.
"Ah, maklumkan sajalah, belum saatnya kali." ucapnya dengan sendu. Melani pun keluar dari kamar mandi untuk menemui sahabatnya yang sudah menunggu didepan pintu, hampir saja membuat wanita itu kaget.
Melani menyodorkannya, Chika menatap lekat benda tersebut dan setelahnya menunjukkan wajah yang sama seperti Melani.
"Ck! maaf apaan, kamu nggak salah!"
"Tentu saja aku salah, seperti sedang menekanmu."
"Aku tidak merasa seperti itu, wajar saja kalau kamu ingin kita punya bayi barengan." ucap Melani dengan senyum manis yang ia tunjukkan.
"Sayang .....!" suara bariton itu memanggilnya dari luar, terdengar oleh kedua wanita yang masih betah di kamar. Chika cepat-cepat menyembunyikan alat itu ke dalam saku daster yang ia kenakan, hingga tepat saat itu pula pintu dibuka dan memperlihatkan wajah Raffa yang menatap mereka dengan heran.
"Kalian--ngapain?" Raffa menyipitkan matanya, menatap heran
"Tentu saja ngobrol." jawab Chika
__ADS_1
"Haruskah di kamar dan pagi-pagi begini?? kalian ini seperti ....." Raffa menggantungkan kalimatnya
Melani langsung menyela, mendekat pada suaminya. "Jangan berpikir buruk! mana mungkin kami seperti di otakmu!"
"Emang apa yang ku pikirkan?" tanya Raffa
"Apalagi kalau bukan--adu-aduan." Melani memperagakannya dengan menyatukan jari telunjuk, diangguki pula oleh Chika yang masih diam mematung didepan pintu kamar mandi.
Sontak saja Raffa tergelak mendengar hal itu. "Astaga! dari mana otakmu tahu hal itu, hm?"
"Tentu saja aku tau!" ucapnya dengan nada suara yang meninggi
"Dari??" Raffa menaikkan salah satu alisnya
"Di Paris, banyak cewek yang adu jigong sama cewek, begitu pula dengan cowok." bisik Melani tepat di daun telinga suaminya
Mendengar hal itu membuat mata Raffa melotot. "Ya ampun ... kau memerhatikannya?"
Melani mengangguk dengan lugunya. memang seperti itulah yang ia lihat saat berada di Benua Eropa itu, dan sungguh membuatnya tercengang untuk pertama kali.
"Kalian bicarakan apa sih? bisik-bisik tetangga segala." cebik Chika, menyedekapkan kedua tangannya didada
"Urusan bulan madu, Nona. lebih baik anda pulang sebelum si macan akan mengaung dan keluar dari kandangnya." usir Raffa
"Huh!" Chika mendengus kesal, ia pun menurut ingin keluar dari rumah itu dari pada harus menjadi obat nyamuk untuk keduanya.
"Akan ku kadukan kamu sama si Macan biar menyuruhmu untuk kembali kerja." ancam Chika, melenggang pergi meninggalkan pasangan pengantin baru itu
Raffa hanya diam saja tanpa menyahut, merangkul pundak sang istri yang teramat ia cintai.
"Kadukan saja, toh sesudah dia bangun, aku sudah tidak ada lagi disini."
__ADS_1
🌴🌴🌴
Raffa mulai berani ya bund 😂 jangan lupa hadiahnya dan vote 😉