
🌴🌴🌴
Raffa telah berhasil merebut ponsel sang istri, segera menghapus potret-potret dirinya dalam ponsel itu. Melani menekukkan wajah, padahal ia ingin itu jadi koleksian pribadi saja.
"Sisain satu aja dong." rengeknya
"Tidak!" geram Raffa, ia menaruh ponsel diatas meja setelah selesai menghapus fotonya. dan saat itu pula ia langsung menggendong wanita itu kedalam dekapannya. Melani terlonjak kaget, ia tahu sesuatu akan terjadi beberapa detik lagi. benar saja, Raffa menaruhnya diatas ranjang.
"Tidak ada perlawanan kali ini, kamu harus nurut." titahnya dengan tatapan datar, sungguh membuat Melani merinding
"Iya-iya, tapi pelan, aku nggak mau anak kita kenapa--napa."
Raffa cepat-cepat membuka kimononya, merobek pakaian kurang bahan itu dalam sekali sobekan hingga terbelah dua, lalu beralih membuka daster yang dikenakan sang istri hingga sudah tampak polos.
Raffa menggigit bibirnya melihat indahnya lekuk tubuh wanita itu, perlahan ia mulai merangkak untuk menjamah tubuh itu dengan sapuan bibir dan lidahnya. Melani menurut saja, sentuhan ini memang sangat mendamba dan sungguh membawa kita langsung melayang dalam kenikmatan.
Raffa mengecup leher sang istri, meninggalkan jejaknya disana. turun dan semakin turun, dua gunung krakatau beserta anaknya terlihat sangat menantang, bermain disana hingga sang pemilik raga terus melenguh dan mendesah.
Sesuatu dibawah sana telah bereaksi, menuntunnya untuk memulai puncak percintaan. sudah terlalu lama ia tidak menjumpai sangkar sejatinya, kini pun akhirnya bertemu dalam sangkar kesempitan namun memabukkan. ini terasa sesak dan sedikit meninggalkan jejak perih. namun hanya bersifat semu, selebihnya telah berubah menjadi sebuah rasa yang tidak bisa dijabarkan.
**
Kini keduanya akan menikmati makan malam, namun Melani sedikit ragu, ia takut akan merasa mual seperti tadi. ia menghentikan langkahnya, memandang takut pada sekat ruang makan itu.
__ADS_1
"Jangan takut, kamu kan sudah makan obat mual."
"Aku ragu, Bibi masak apa?" tanyanya
"Ayam bakar dan sambal terasi, ayo ... kasihan anak kita kalau tidak makan." Raffa mengusap perut Melani
Wanita itu menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu mengangguk menurutinya. Raffa mengulum senyum, ia genggam tangan mungil itu untuk menyalurkan rasa semangat kepadanya.
Melani menelan saliva nya dengan susah payah melihat hidangan menggiurkan dihadapannya. sangat menggoda dari segi bentuk dan wangi, entah kenapa dirinya tidak merasa mual melihat makanan itu.
"Silakan dimakan, Nyonya cantik." Melani terperangah melihat piring miliknya telah dipenuhi nasi dan lauk, seharusnya ia yang melakukan hal ini, bukan? karena terlalu banyak melamun, dirinya sampai lupa untuk melayani sang suami.
"Aduh, maaf ... seharusnya aku yang menyiapkan nasi kamu." sesalnya
🌸
Pagi ini setelah weekend berakhir, semua orang kembali ke aktivitas semula. Melani baru saja tiba di Toko dan sudah mulai ada pelanggan yang menyerbu lapaknya. wanita itu masuk sembari melihat cake menggoda didalam etalase, sangat menggiurkan sekali.
"Rin, bawakan brownis blackforest ke ruanganku ya ..." titah Melani pada pegawainya
"Baik, Kak." turutnya
"Satu lagi, bawa laporan ke ruanganku juga." sambungnya, setelah itu Melani melenggang pergi menuju ruangannya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian, apa yang dipinta wanita itu pun telah tiba, cake dan sebuah laporan untuk ia periksa disetiap paginya. Melani tersenyum lebar, kemajuan toko semakin pesat dengan semakin naiknya grafik penjualan.
Melani beralih pada laporan perihal bahan komposisinya, ada beberapa bahan yang sudah hampir ludes dan ia harus memesannya dari sekarang. wanita itu meraih gagang telpon, ingin menghubungi pihak distributor dari beberapa pabrik.
Menurut Melani, seorang boss tidak melulu mengongkang kaki diatas meja kerjanya. ia harus turut membantu para pegawai yang telah bekerja keras untuknya. ada empat orang ia pekerjakan di Toko yang Ayah berikan. sedangkan di Toko kecil terdapat tiga orang, dan Ratih yang ia percaya untuk menghandle semuanya.
"Nona, saya permisi untuk mengantar pesanan ke Yudha Group, ya ..." pamit salah satu pegawainya
"Ah, kalau itu, biar saya saja yang mengantarnya." Melani tampak bersemangat
"Hmmm ... tapi bukan pesanan Tuan Raffa, Non."
"Tidak masalah. bungkuskan cake kesukaan Tuan, ya."
"Eh, baik, Non."
Melani telah tiba di Perusahaan Yudha Group, ia sangat ingin sekali bertemu dengan sang suami. padahal baru beberapa jam ia ditinggal namun rasa rindu kembali menguar. ia lebih dulu mengantar pesanan ke salah satu divisi di lantai tiga, setelah selesai dengan tugasnya, wanita itu dengan semangat empat lima memasuki lift yang bersedia mengantarkan hingga ke lantai tujuan.
Melani mengernyit heran tatkala ia menatap pemandangan luar biasa di hadapannya.
"Itu kan--sial! masih berani saja menggoda suami orang." geram Melani, ia mempercepat langkah kakinya menghampiri kerumunan itu
Ada sang suami, sekretaris, dan seorang security, mereka tengah berperang dengan salah seorang wanita.
__ADS_1
🌴🌴🌴