
🌴🌴🌴
Raffa harus menuruti permintaan sang istri yang tengah mengandung, mengambil kesempatan untuk beralasan ini adalah permintaan si jabang bayi. awalnya Raffa berniat ingin memerintahkan anak buahnya untuk mencari lingerie ukuran big size, namun--niatnya terurungkan tatkala wanita itu memerintahkannya langsung untuk mencari sendiri tanpa bantuan orang lain. Melani pun beralasan bahwa ini semua permintaan janinnya.
Raffa tidak bisa menolak bila itu karena janin, entah benar atau tidak, ia terpaksa menurut dari pada wanita itu berubah menjadi macan betina. akan lebih mengerikan dan berdampak pada juniornya yang sudah menganggur selama beberapa hari ini.
Seorang diri ia ke Mall hanya untuk mencari pakaian kurang bahan itu, Raffa bergegas melangkahkan kakinya dengan lebar, naik eskalator yang akan mengantarkannya langsung pada tempat tujuan. tatapan matanya memperhatikan dengan lekat, setiap toko yang akan ia lewati.
"Semoga disana ada." gumamnya, ia pun masuk kedalam toko pakaian wanita, tentu saja kualitas brandad yang digilai kaum wanita.
"Hai, tampan ..." goda dua orang wanita seksi, menyapa Raffa yang berpapasan dengannya
Raffa melirik sekilas, menatap dingin nan penuh intimidasi, sungguh membuat nyali wanita itu menciut.
"Tampan tapi seram." bisik salah satu dari wanita pengoda itu
Raffa tak menggubris lagi, ia menghampiri pelayan dan mengutarakan niatnya.
"Lingerie ukuran big size, apakah ada?" tanyanya
"Ukuran berapa, Tuan?"
"Bisa lihat?"
Pelayan wanita itu mengangguk dan melangkah ke sisi lain menuju mannequin lingerie. ia pun menunjukkannya pada pria ini, ukuran yang paling besar namun seksinya tak memudar.
Raffa memerhatikannya dengan lekat, membayangkan tubuhnya mengenai pakaian itu.
Sungguh memalukan sekali kalau aku mengenakan benda seperti ini, sangat menggelikan. batin Raffa
Ia pun bergidik geli, seperti orang yang terkena sentrum.
"Anda baik-baik saja, Tuan?"
__ADS_1
"Hah?? i-iya, saya baik." sahutnya, sembari mengelus tengkuk lehernya. sungguh, imagenya benar-benar hancur.
"Bungkus!" titahnya, pelayan mengangguk menuruti.
Kini pria tampan itu telah kembali ke kediamannya, sang istri menanti di kamar sembari menonton dan menikmati cake buatan Bibi. tak lupa susu hamil yang sempat mereka beli saat baru saja pulang dari Kafe.
Raffa menyelonong masuk kedalam kamar, tanpa mengetuk pintu terlebih dulu. ia melempar asal paperbag ke atas ranjang, dan itu diperhatikan oleh Melani.
"Sudah balik? cepat juga ya ..."
"Ngapain lama-lama, sungguh memalukan." gerutu Raffa, merasa lemas. ia mendudukkan tubuhnya di sofa
"Yang penting permintaan dedek sudah dipenuhi walaupun baru tiga puluh persen." Melani tersenyum gembira, ia meraih paperbag dan merogoh pakaian itu.
"Alasan kamu saja, mana ada permintaan dedek. untung aku sayang sama kamu, sampai merelakan imageku turun." gerutunya, ia sedikit kesal
Bodo amat! yang jelas aku menonton pertunjukan gratis, pasti lucu. batin Melani sembari memerhatikan pakaian seksi ini
Raffa yang sedang menyandarkan kepalanya pada punggung sofa, seketika terlonjak kaget mendengar perintah itu.
"Sekarang????"
Melani mengangguk. "Tentu saja, kapan lagi?"
"Oh, Melani .... kau benar-benar gila." Raffa menggeleng-gelengkan kepala
"Ayolah buruan!" desaknya sedikit berteriak, sungguh membuat Raffa malas sekali
"Ini sekalian busa, biar dadamu montok."
Ia pun bangkit berdiri dan berjalan mendekat ke ranjang untuk mengambil pakaian itu. ia bergegas ke walk in closet, mengganti pakaiannya yang bersetel laki, kini harus menggunakan setelan wanita, sungguh seperti waria yang berkeliaran saja, pikirnya.
"Akh! aku yang melihatnya saja sudah ilfil." keluh Raffa, raut wajahnya sangat menyedihkan menatap penampilan dirinya di pantulan cermin
__ADS_1
"Apa nggak sekalian saja suruh aku berdandan? akh, tidak-tidak!" ia menggeleng, sungguh malang sekali nasibnya
Tok tok tok!
Pintu ruang ganti pun diketuk oleh sang istri, tampak tidak sabaran hingga mengetuk beberapa kali dan terdengar teriakannya.
"Ayo cepatan! lama amat!" teriak Melani diluar sana
"Oh, Tuhan ... help me!" rengek Raffa, ia masih malas ingin keluar dari ruangan tersebut
"Satu!! dua!! ti---- buruan!" teriaknya lagi
Raffa menghembuskan nafasnya dengan kasar, menatap kesal pada pintu itu. tak ayal ia pun mulai melangkah untuk menjumpai sang istri.
Ceklek!
Melani tertegun melihatnya, dan seketika itu juga ia tertawa terbahak-bahak melihat penampilan suaminya yang hampir sama seperti banci dijalanan sana.
"Usah ketawa!"
"Kamu cantik sekali dan sangat seksi." puji Melani, menahan tawanya. diam-diam ia merogoh ponsel dari dalam saku daster, kamera sudah ia setel, tinggal memotret suaminya ini saja.
Cekrek! cekrek!
Raffa terkejut melihat Melani memotret dirinya, ia langsung mendekat dan berusaha merebut ponsel tersebut.
"Kemarikan! berani-beraninya kamu!" geram Raffa
"Enggak mau!" Melani menggigit lengan suaminya, ia langsung berlari menuju balkon. menurutnya, ini adalah tempat teraman untuk menghindar. tapi--ia melupakan sesuatu, mengunci pintu transparan tersebut. hingga Raffa yang mengenakan kimono langsung menerkamnya.
"Kau kira aku bodoh?"
🌴🌴🌴
__ADS_1