JONES, Dipaksa Jatuh Cinta

JONES, Dipaksa Jatuh Cinta
Tes DNA


__ADS_3

🌿🌿🌿


Melani terpaku sembari menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan, ia bisa merasakan dua pasang tangan menyeretnya ke angkasa. tubuhnya menegang, indra pendengarannya mendengar deruan kendaraan yang saling bersahut-sahutan ditiap sisinya. Perempuan itu masih betah menutup wajahnya, pikirannya seketika berkelana membayangkan Mama dan juga Raffa.


"Hiks hiks hiks, apa aku udah mati? aku nggak mau tinggalin mereka."


"Bangunlah, kamu selamat."


Kenapa ada suara Mas Raffa? batinnya


"Melani, Nak, kamu tidak apa-apa, buka matamu." Suara Ayah mulai menghiasi indra pendengarannya


"Astaga, ayo kita menepi." Raffa langsung merengkuh tubuh itu, Raffa dapat merasakan tubuh ini bergetar dan menegang, ia tahu gadis ini sedang shock atas kejadian barusan. Raffa dan Ayah Axel menyebrangi jalan dengan hati-hati.


Melani membuka matanya, seketika ia terpana melihat wajah tampan itu ada diatasnya. Namun ada yang berbeda dalam pandangannya, pria ini sedikit menahan rasa sakit pada tubuhnya.


"Apa kamu terluka? kamu menyelamatkanku?" Melani membuka suara, sontak saja Raffa menunduk ke bawah menatap wajah cantiknya, ia tersenyum lebar kepada Melani, pintar sekali menutupi rasa sakit itu dibalik wajah tenangnya.


Kini mereka bertiga telah berada di Toko milik Melani, Ratih menyambutnya dengan raut penuh kekhawatiran.


"Kakak, kakak nggak apa-apa'kan? kenapa kakak nggak nengok jalan!" cerocosnya


"Dia baik-baik saja, ambilkan minum." titah Raffa, Ratih langsung mengangguk dan berlari ke Dapur


Raffa menaruh pujaannya diatas karpet berbulu itu, membaringkan wanitanya dengan pelan.


"Apa bahumu masih sakit? seharusnya saya yang menggendongnya." kata Ayah Axel, ia melihat kejadian tadi bahwa pemuda ini sempat terserempet dengan body mobil demi menyelamatkan mereka


"Tidak masalah, Tuan, ini bukan seberapa demi keselamatan anda dan putrimu." ujar Raffa


Mendengar kalimat itu sontak saja membuat Melani dan Ayah Axel terbelalak, "Tau dari mana?" tanya Melani


"Anak buahku yang selalu menguntit kamu." jawabnya


Melani mengangguk paham, ia mendudukkan tubuhnya dan menyentuh bahu sang penyelamat dengan ragu


"Apa didalam sana ada goresan luka? atau patah tulang? aku ingin melihatnya." Melani menatap bahu yang dibaluti dengan lengan kemeja, tidak ada bekas kemerahan, mungkin saja terjadi luka dalam

__ADS_1


"Bukan, tidak ada masalah apa-apa, kamu istirahatlah, aku juga harus ke Kantor sebelum Boss membutuhkan ku."


"Hmmmm ...." Melani menatapnya sedih, padahal ia sangat ingin berlama-lama dengan pria ini. Raffa tahu apa yang dirasakannya, perempuan itu butuh dirinya untuk tetap disini disisinya. tanpa banyak berpikir, Raffa langsung memeluk Melani, menyalurkan rasa rindu padanya sekaligus menenangkan pujaan hatinya.


"Istirahat nanti aku akan kembali, satu jam lagi aku kembali." lirihnya, Melani mengangguk, tak luput ia juga menghirup dalam-dalam aroma khas tubuh Raffa


"Terima kasih sudah menolongku, selalu ada untukku walau dirimu entah dimana." Melani cekikikan


"Aku malaikat pelindung yang tidak terlihat." balas Raffa, juga turut tergelak


Melihat interaksi pasangan ini sungguh membuat Axel bahagia, raut senyuman yang menghiasi wajah putrinya telah menunjukkan bila dia mencintai pria ini, begitu pula dengan sebaliknya, ada perasaan tulus untuk Melani hingga berani menyelamatkan putrinya, bahkan meninggalkan pekerjaan demi memantau sang putri.


"Mau di pesan apa? Ratih juga, mau dipesan apa nanti?" tanya Raffa kepada dua wanita ini


"Eh?" Ratih tampak bingung, ia menatap Melani seolah harus menjawab apa. Namun wanita itu hanya mengangguk


"Aku pengen menu baru dari kantin, seblak dan martabak bangka." ujar Melani tanpa ragu sedikit pun. kemudian pandangan Raffa beralih pada Ratih yang masih diam termanggu.


"Seblak aja, Tuan."


"Hanya itu?" perempuan tersebut mengangguk


"Mama, nanti kesini, nggak?" tanya Raffa


"Biasanya iya, untuk membawakan makan siang buat kami."


"Baiklah, sepertinya aku juga membawakan kesukaan Mamamu."


"Emangnya tau?" tanya Melani, perempuan tersebut masih betah saja dipelukan Raffa tanpa melepasnya


"Tentu saja."


"Syukurlah." Melani menguraikan pelukannya, dan--tatapannya kembali mengarah pada pria parubaya tersebut. seketika saja raut wajah bahagia telah berubah dalam sekejap menjadi tatapan kebencian


"Pergilah, Tuan, jangan pernah kesini lagi! aku tidak ingin kau bertemu dengan Mamaku dan menghancurkan perasaannya. cukup aku saja yang tahu tentang hubungan ini. lagi pun aku tak berharap apapun padamu."


"Satu lagi, aku dan Alex bukan pasangan kekasih. malam itu dia meminta padaku untuk menjadi pacar sandiwaranya saja."

__ADS_1


"Pergilah! aku tidak ingin melihat wajah bejatmu!" usir Melani, dengan mata yang telah berkaca-kaca. Ia langsung menunduk untuk menyembunyikan kesedihan dan luka yang mendalam didalam sana


"Tuan, Melani butuh waktu, dia sangat shock atas kenyataan itu." sahut Raffa


"Baiklah, saya paham, ini tidak mudah dan Melani wajar membenci saya."


"Alangkah baiknya kalau kita melakukan tes DNA untuk membuktikan. saya berharap perkiraan kita salah, saya tidak ingin punya Ayah sepertimu atau seperti pria lainnya."


Ucapan yang terlontar dari mulut putrinya, lagi-lagi membuat hati pria itu mencelos. Ia merasa sesak dan sakit saat mendengar kalimat yang terus terang itu


"Berikan saya rambut anda, dan saya berikan juga rambut saya." Melani beranjak bangkit untuk mengambil gunting dan plastik mika didalam perkakas penyimpanan


Wanita itu menggunting rambutnya dan dimasukkan ke dalam plastik, tak lupa menulis namanya dengan spidol permanent. "Melakukan tes sekali dua itu lebih baik, takutnya anda berbuat curang dan saya punya keterangan bukti lainnya." ucapnya dengan nada dingin, menyodorkan miliknya kepada pria tersebut


"Baiklah, kalau ini maumu." Pria itu juga melakukan hal yang sama seperti sang putri, masih pradugaan.


Setelah selesai, Tuan Axel melenggang pergi meninggalkan toko tersebut. kini hanya menyisakan Raffa, Melani dan juga Ratih yang memperhatikan kepergiannya.


"Jika benar pria itu terbukti adalah Ayah kandungmu, cobalah untuk menerimanya dengan lapang dada. Manusia tidak luput dari dosa, mungkin saja selama ini dia berusaha mencari kalian. disisi lain dia juga punya keluarga." nasihat Raffa


"Ini berat, Mas, karena ada keluarganya lah aku tidak mau merusak keluarga itu, kasihan Mas Alex, Ibu dan adiknya. apalagi Mama--pasti Mama lebih terluka dariku."


Raffa kembali membenamkan wajah itu dalam dekapannya, memeluknya dengan penuh kasih sayang. melihat keintiman mereka membuat Ratih jadi malu, wanita itu buru-buru ke belakang. mungkin membuat kue lebih baik untuk saat ini. dan kepergian wanita itu diperhatikan oleh Raffa


"Untuk saat ini memang semuanya harus merasakan sakit terlebih dahulu, lambat laun hati kita pasti akan menerimanya walau terasa berat. Bukankah jujur itu menyakitkan?"


Melani mengangguk


"Tapi untuk saat ini, jujur itu tidak menyakitkan bagiku."


"Kenapa? kok gitu?" Melani mengerutkan dahinya


"Karena--mengetahui fakta kejujuran ini, bahwa Alex bukan sainganku lagi, dia kakak kandungmu, jadi dia tidak bisa mengambilmu dari ku." Lelaki itu tergelak


"Is, dasar! belum terbukti benar, tau! ada ini yang akan membuktikan." Melani menunjukkan rambut Tuan Axel


"Tanpa itu, aku sudah merasa yakin. Kalian sedarah, dan kau adalah milikku." Raffa langsung membenamkan bibirnya pada bibir manis milik Melani. perempuan itu tersenyum, membuka sedikit mulutnya dan memberi celah untuk pagutan yang lebih dalam lagi.

__ADS_1


🌿🌿🌿


Oh, so sweet πŸ˜‚


__ADS_2